Makalah
ANALISA DAERAH
PENANGKAPAN IKAN TERI
(Stolephorus
spp.)
Oleh
MAHDA ADI KUSUMA
TPSSP
1410246026
![]() |
PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Analisa Daerah
Penangkapan Ikan Tuna Teri di Perairan Sibolga. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisa Daerah Penangkapan Ikan di
Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu
penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan
makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis
dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.
Penulis
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Potensi sumberdaya
kelautan di Indonesia selama ini telah dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas
perekonomian, di mana salah satunya adalah dalam usaha perikanan tangkap.
Perikanan tangkap itu sendiri merupakan aktivitas perekonomian yang unik bila
dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Hal ini berkaitan dengan kondisi
sumberdaya laut dan ikan itu sendiri yang sering dianggap sebagai sumberdaya
milik umum (common property resources).
Sumberdaya ikan ini bersifat renewable resources (sumberdaya yang dapat pulih) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Dalam usaha perikanan tangkap, permasalahan yang sering terjadi adalah tingkat penangkapan ikan di suatu wilayah yang melebihi potensi lestarinya (maximum sustainable yield/MSY) sehingga terjadi fenomena tangkap lebih (overfishing) yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan persatuan upaya (catch per unit effort) yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan.
Ketika pemanfaatan (fishing effort) lebih besar dari pada tangkapan optimum (MSY), maka akan terjadi pemanfaatan yang berlebihan (over exploited).
Sumberdaya ikan ini bersifat renewable resources (sumberdaya yang dapat pulih) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Dalam usaha perikanan tangkap, permasalahan yang sering terjadi adalah tingkat penangkapan ikan di suatu wilayah yang melebihi potensi lestarinya (maximum sustainable yield/MSY) sehingga terjadi fenomena tangkap lebih (overfishing) yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan persatuan upaya (catch per unit effort) yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan.
Ketika pemanfaatan (fishing effort) lebih besar dari pada tangkapan optimum (MSY), maka akan terjadi pemanfaatan yang berlebihan (over exploited).
Salah
satu sumberdaya laut yang telah dieksploitasi secara berlebihan adalah
sumberdaya perikanan. Meskipun secara agregat sumberdaya perikanan laut baru
dimanfaatkan sekitar 38% dari total potensi lestarinya, namun di perairan yang
padat penduduknya dan padat industrinya menunjukkan bahwa, beberapa stok
sumberdaya perikanan telah mengalami tangkap lebih (over fishing) dan jumlahnya
semakin menurun (Dahuri, et.al, 2001)
Ikan teri merupakan ikan
ekonomis tinggi dan
setiap penangkapan
jumlah yang
diperoleh cukup banyak
dan bersifat pelagis. Mengkonsumsi ikan teri cukup
baik
karena mengandung kalsium
terbaik untuk mencegah osteoporosis. permintaan
ikan teri cukup besar karena masyarakat banyak yang
suka dari kalangan yang tinggi sampai kalangan terendah dan
harganya yang relatif stabil.
Ikan teri yang umumnya berkelompok
( schooling) memiliki respon yang sinstif terhadap cahaya, selain itu juga
memiliki kepekaan terhadap gerakan yang rasal dari luar dan ikan teri merupakan
salah satu ikan pelagis kecil (Hutomo et 1987).
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menentukan daerah analisa
penangkapan ikan teri (Stolephorus spp)
berdasarkan tingkah lakunya dan pola
penyebarannya.
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Daerah Penangkapan
Ikan
Kondisi-kondisi yang perlu
dijadikan acuan dalam menentukan daerah penangkapan ikan adalah sebagai berikut
:
1).
Daerah tersebut harus memiliki kondisi dimana ikan dengan mudahnya datang
bersama-sama dalam kelompoknya, dan tempat yang baik untuk dijadikan habitat
ikan tersebut. Kepadatan dari distribusi ikan tersebut berubah menurut musim,
khususnya pada ikan pelagis. Daerah yang sesuai untuk habitat ikan, oleh karena
itu, secara alamiah diketahui sebagai daerah penangkapan ikan.
Kondisi yang diperlukan sebagai daerah
penangkapan ikan harus dimungkinkan dengan lingkungan yang sesuai untuk
kehidupan dan habitat ikan, dan juga melimpahnya makanan untuk ikan. Tetapi
ikan dapat dengan bebas memilih tempat tinggal dengan kehendak mereka sendiri
menurut keadaan dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Oleh karena itu,
jika mereka tinggal untuk waktu yang agak lebih panjang pada suatu tempat
tertentu, tempat tersebut akan menjadi daerah
penangkapan ikan.
2.) Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan. Umumnya perairan pantai yang bisa menjadi daerah penagkapan ikan memiliki kaitan dengan kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang koral walaupun itu sangat berpotensi menjadi pelabuhan.
2.) Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan. Umumnya perairan pantai yang bisa menjadi daerah penagkapan ikan memiliki kaitan dengan kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang koral walaupun itu sangat berpotensi menjadi pelabuhan.
Terkadang tempat tersebut memiliki arus
yang menghanyutkan dan perbedaan pasang surut yang besar. Pada tempat tersebut
para nelayan sedemikian perlu memperhatikan untuk menghiraukan mengoperasikan
alat tangkap. Terkadang mereka menggunakan trap nets, gill nets dan peralatan
memancing ikan sebagai ganti peralatan jaring seperti jaring trawl dan purse
seine. Sebaliknya, daerah penangkapan lepas pantai tidak mempunyai kondisi
seperti itu, tapi keadaan menyedihkan datang dari cuaca yang buruk dan ombak
yang tinggi. Para nelayan juga harus mengatasi kondisi buruk ini dengan efektif
menggunakan peralatan menangkap ikan.
3.) Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis. Ini sangat alamiah di mana manajemen akan berdiri atau jatuh pada keseimbangan antara jumlah investasi dan pemasukan. Anggaran dasar yang mencakup pada investasi sebagian besar dibagi menjadi dua komponen, yakni modal tetap seperti peralatan penangkapan ikan dan kapal perikanan, dan modal tidak tetap seperti gaji pegawai, konsumsi bahan bakar dan biaya perbekalan.
3.) Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis. Ini sangat alamiah di mana manajemen akan berdiri atau jatuh pada keseimbangan antara jumlah investasi dan pemasukan. Anggaran dasar yang mencakup pada investasi sebagian besar dibagi menjadi dua komponen, yakni modal tetap seperti peralatan penangkapan ikan dan kapal perikanan, dan modal tidak tetap seperti gaji pegawai, konsumsi bahan bakar dan biaya perbekalan.
B. Diskripsi Ikan Teri
Ikan teri(Stolephorus
sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis
penting. Tingginya produksi teri merupakan suatu peluang ekspor yang baik,
terlebih bila dikelola dengan baik. (Anonimous, 2010).
Klasifikasi ikan Teri berdasarkan ikan yang termasuk cartilaginous (bertulang rawan) atau bony ( bertulang keras), menurut De Bruin et al (1994) adalah sebagai berikut:
Filum :Chordata
Sub-Filum :Vertebrae
Class :Actinopterygii
Ordo :Clupeiformes
Famili :Engraulididae
Genus :Stolephorus
Species :Stolephorus sp.
Klasifikasi ikan Teri berdasarkan ikan yang termasuk cartilaginous (bertulang rawan) atau bony ( bertulang keras), menurut De Bruin et al (1994) adalah sebagai berikut:
Filum :Chordata
Sub-Filum :Vertebrae
Class :Actinopterygii
Ordo :Clupeiformes
Famili :Engraulididae
Genus :Stolephorus
Species :Stolephorus sp.

Ikan teri masuk dalam family Engraulidae dengan nama ilmiah Stolephorus sp. morfologinya adalah sebagai berikut: badan seperti cerutu, sedikit silindris, bagian perut membulat, Kepala pendek, Moncong nampak jelas dan meruncing, anal sirip dubur sedikit kebelakang, duri-duri lemah sirip punggung dan warna pucat bila sisik terlepas.
Ikan teri bersifat pelagik dan menghuni perairan pesisir dan Estuaria, tetapi beberapa jenis dapat hidup pada salinitas rendah antara 10-15%.
Umumnya hidup dalam
gerombolan, terutama jenis-jenis yang besar. Hardenberg yang banyak mempelajari
biologi ikan teri (Stolephorus sp) di Indonesia menduga bahwa jenis ini
mengadakan ruaya secara periodik. Dugaan tersebut didasarkan pada kenyataan
yang dapat diamati di perairan Bangka sampai Riau. Di Kepulauan Lingga yang
terletak di sebelah utara Bangka, ikan ini dapat di tangkap hanya pada bulan
Juli-Agustus. Lebih ke utara lagi, di Kepulauan Riau, jenis-jenis ini baru bisa
di tangkap pada bulan April hingga Oktober. Jadi munculnya dua bulan lebih
lambat dan lenyapnya pun dua bulan lebih lambat dari Kepulauan Lingga.
Tampaknya ada kemungkinan migrasi menuju utara. Tetapi sampai berapa jauh
migrasi ikan ini dan jalan nama yang dilalui belum diketahui (Anonimous,2009).
Ikan teri yang termasuk
dalam kelompok ikan pelagik kecil merupakan sumberdaya yang poorlybehaved
karena makanan utamanya plankton sehingga kelimpahannya sangat tergantung
kepada faktor-faktor lingkungan (Wootton, 1992).
Selain itu, ikan teri yang mempunyai ukuran 7-16 cm (De Bruin 1994), seperti umumnya kelompok ikan pelagis kecil, mempunyai karakteristik sebagai berikut (Keenleyside, 1979):
Selain itu, ikan teri yang mempunyai ukuran 7-16 cm (De Bruin 1994), seperti umumnya kelompok ikan pelagis kecil, mempunyai karakteristik sebagai berikut (Keenleyside, 1979):
1. Membentuk
gerombolan yang terpencar-pencar (patchness)
2. Variasi
kelimpahan cukup tinggi yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang berfluaktuatif.
3. Selalu
melakukan ruaya baik temporal maupun spasial
4. Aktivitas
gerak yang cukup tinggi yang ditunjukkan oleh bentuk badan menyerupai cerutu
atau torpedo.
C. Penentuan Daerah Penangkapan Ikan Teri Berdasrkan
Tingkah Laku dan Pola Sebarannya
Sebaran daerah penangkapan ikan sangat berhubungan dengan sebaran
rofil-a sebagai indikasi kandungan produktivitas primer.
Produktivitas primer adalah laju
pembentukan senyawa-senyawa organik
yang kaya energi
dari nyawa anorganik (Nybakken
1992). Melimpahnya produktivitas primer
diperairan akan menarik perhatian ikan untuk mencari makan. Jumlah
produktivitas pimer diperairan dapat diperkirakan dengan konsentrasi
klorofil-a.
Dari pengalaman layan dalam menentukan
daerah penangkapan dengan
melihat keberadaan rung dan
adanya buih serta riak kecil. Setelah
mengetahui daerah penangkapan,maka akan mudah melakukan penangkapan. Namun demikian, cara tersebut jarang efektif
dan efisien karena tingkat ketidakpastiannya cukup tinggi.
Informasi mengenai daerah penangkapan dapat menghemat waktu, biaya dan
tenaga. Pola musim dapat
digunakan menentukan waktu yang
tepat untuk melakukan penangkapan
ikan. Daerah dan musim
penangkapan ikan teri mumnya
bervariasi, tergantung pada
faktor internal dan
eksternal. Faktor internal seperti tingkah laku
ikan dan faktor eksternal
meliputi kondisi perairan serti suhu, salinitas, kandungan klorofil-a
dan faktor lainnya.
Menurut Subani (1982)
dalam Priyanto (2001) terdapat 20 jenis ikan teri di Perairan Indo Pasifik.
Nama- nama jenis serta layah sebarannya adalah Jenis yang tidak terdapat di
Samudra Pasifik, yaitu Stolephorus andhraensis, S. chinensis, S. dubiosus, S.
holodon; Jenis yang terdapat
hanya di Samudra
Pasifik, yaitu Stolephorus oligobranchus, S. purpureus, S.
branchycephalus, S. pasificus, S. ronguilloi, S. tysoni, S. waitei; dan Jenis yang mempunyai sebaran luas,
baik di Samudra Pasifik.
Tampak adanya
kemungkinan arah migrasi
ikan teri menuju
utara. Berdasarkan sifatnya yang
sering melakukan migrasi
sehingga ikan teri lakukan penyebaran yang dilakukan dipengaruhi
oleh perubahan musim pada perairan. Pola
musim ikan teri terjadi secara periode setiap tahunnya (Hardenberg dalam Hutomo et al. 1987).
Ikan teri bardasarkan sifatnya yang sering melakukan migrasi, untuk
jenis teri yang lebih besar biasanya bersifat soliter dikarenakan adanya asumsi
n teri yang tertangkap dalam jumlah
kecil. Ikan teri yang tertangkap oleh layan
yang umumnya berkelompok
memiliki respon yang
positif terhadap haya dan
memiliki kepekaan yang tinggi terhadap reaksi yang berupa getaran ng berasal
dari luar (Hardenberg 1934 diacu dalam Hutomo et al. 1987).
Menurut Subani (1982)
dalam Priyanto (2001) terdapat 20 jenis ikan teri di Perairan Indo Pasifik.
Nama- nama jenis serta layah sebarannya adalah Jenis yang tidak terdapat di
Samudra Pasifik, yaitu Stolephorus andhraensis, S. chinensis, S. dubiosus, S.
holodon; Jenis yang terdapat
hanya di Samudra
Pasifik, yaitu Stolephorus oligobranchus, S. purpureus, S.
branchycephalus, S. pasificus, S. ronguilloi, S. tysoni, S. waitei; dan Jenis yang mempunyai sebaran luas,
baik di Samudra Pasifik.
Tampak adanya
kemungkinan arah migrasi
ikan teri menuju
utara. Berdasarkan sifatnya yang
sering melakukan migrasi
sehingga ikan teri lakukan penyebaran yang dilakukan
dipengaruhi oleh perubahan musim pada perairan.
Pola musim ikan teri terjadi secara periode setiap tahunnya (Hardenberg dalam Hutomo et al. 1987).
KESIMPULAN
Ikan teri(Stolephorus
sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis
penting. Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan untuk memberikan
informasi detail tentang sebaran
ikan teri sehngga memudahkan dalam penangkapan. Pola sebaran ikan teri ini
biasanya berhubungan dengan sebaran
rofil-a sebagai indikasi kandungan produktivitas primer.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar
Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen
Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species
Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated
Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO
Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi
Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93
Nontji,
A. 1993. Laut Nusantara.Djembatan. Jakarta.
