Selasa, 02 Juni 2015

Makalah Analisa Daerah Penangkapan Ikan Teri

Makalah

ANALISA DAERAH PENANGKAPAN IKAN TERI
(Stolephorus spp.)


Oleh

MAHDA ADI KUSUMA TPSSP
1410246026





Image3
 

























PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tuna Teri di Perairan Sibolga. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisa Daerah Penangkapan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
    Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.




                                                                                                                                        Penulis




PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Potensi sumberdaya kelautan di Indonesia selama ini telah dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas perekonomian, di mana salah satunya adalah dalam usaha perikanan tangkap. Perikanan tangkap itu sendiri merupakan aktivitas perekonomian yang unik bila dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Hal ini berkaitan dengan kondisi sumberdaya laut dan ikan itu sendiri yang sering dianggap sebagai sumberdaya milik umum (common property resources).
            Sumberdaya ikan ini bersifat renewable resources (sumberdaya yang dapat pulih) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Dalam usaha perikanan tangkap, permasalahan yang sering terjadi adalah tingkat penangkapan ikan di suatu wilayah yang melebihi potensi lestarinya (maximum sustainable yield/MSY) sehingga terjadi fenomena tangkap lebih (overfishing) yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan persatuan upaya (catch per unit effort) yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan.
Ketika pemanfaatan (fishing effort) lebih besar dari pada tangkapan optimum (MSY), maka akan terjadi pemanfaatan yang berlebihan (over exploited).
            Salah satu sumberdaya laut yang telah dieksploitasi secara berlebihan adalah sumberdaya perikanan. Meskipun secara agregat sumberdaya perikanan laut baru dimanfaatkan sekitar 38% dari total potensi lestarinya, namun di perairan yang padat penduduknya dan padat industrinya menunjukkan bahwa, beberapa stok sumberdaya perikanan telah mengalami tangkap lebih (over fishing) dan jumlahnya semakin menurun (Dahuri, et.al, 2001)
Ikan teri merupakan ikan ekonomis tinggi dan setiap penangkapan jumlah yang diperoleh cukup banyak dan bersifat pelagisMengkonsumsi ikan teri cukup bai karen mengandung   kalsium   terbai untu mencegah   osteoporosis. permintaan ikan teri cukup besar karena masyarakat banyak yang suka dari kalangan yang tinggi sampai kalangan terendah dan harganya yang relatif stabil.
 Ikan teri yang umumnya berkelompok ( schooling) memiliki respon yang sinstif terhadap cahaya, selain itu juga memiliki kepekaan terhadap gerakan yang rasal dari luar dan ikan teri merupakan salah satu ikan pelagis kecil (Hutomo et 1987). 

B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menentukan daerah analisa penangkapan ikan teri (Stolephorus spp) berdasarkan tingkah lakunya dan pola penyebarannya.




PEMBAHASAN

A.  Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan
Kondisi-kondisi yang perlu dijadikan acuan dalam menentukan daerah penangkapan ikan adalah sebagai berikut :
1). Daerah tersebut harus memiliki kondisi dimana ikan dengan mudahnya datang bersama-sama dalam kelompoknya, dan tempat yang baik untuk dijadikan habitat ikan tersebut. Kepadatan dari distribusi ikan tersebut berubah menurut musim, khususnya pada ikan pelagis. Daerah yang sesuai untuk habitat ikan, oleh karena itu, secara alamiah diketahui sebagai daerah penangkapan ikan.
       Kondisi yang diperlukan sebagai daerah penangkapan ikan harus dimungkinkan dengan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan dan habitat ikan, dan juga melimpahnya makanan untuk ikan. Tetapi ikan dapat dengan bebas memilih tempat tinggal dengan kehendak mereka sendiri menurut keadaan dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Oleh karena itu, jika mereka tinggal untuk waktu yang agak lebih panjang pada suatu tempat tertentu, tempat tersebut akan menjadi daerah           penangkapan  ikan.
     2.) Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan. Umumnya perairan pantai yang bisa menjadi daerah penagkapan ikan memiliki kaitan dengan kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang koral walaupun itu sangat berpotensi menjadi pelabuhan.
       Terkadang tempat tersebut memiliki arus yang menghanyutkan dan perbedaan pasang surut yang besar. Pada tempat tersebut para nelayan sedemikian perlu memperhatikan untuk menghiraukan mengoperasikan alat tangkap. Terkadang mereka menggunakan trap nets, gill nets dan peralatan memancing ikan sebagai ganti peralatan jaring seperti jaring trawl dan purse seine. Sebaliknya, daerah penangkapan lepas pantai tidak mempunyai kondisi seperti itu, tapi keadaan menyedihkan datang dari cuaca yang buruk dan ombak yang tinggi. Para nelayan juga harus mengatasi kondisi buruk ini dengan efektif menggunakan peralatan menangkap   ikan.
     3.) Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis. Ini sangat alamiah di mana manajemen akan berdiri atau jatuh pada keseimbangan antara jumlah investasi dan pemasukan. Anggaran dasar yang mencakup pada investasi sebagian besar dibagi menjadi dua komponen, yakni modal tetap seperti peralatan penangkapan ikan dan kapal perikanan, dan modal tidak tetap seperti gaji pegawai, konsumsi bahan bakar dan biaya perbekalan.


B.  Diskripsi Ikan Teri
Ikan teri(Stolephorus sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis penting. Tingginya produksi teri merupakan suatu peluang ekspor yang baik, terlebih bila dikelola dengan baik. (Anonimous, 2010).
            Klasifikasi ikan Teri berdasarkan ikan yang termasuk cartilaginous (bertulang rawan) atau bony ( bertulang keras), menurut De Bruin et al (1994) adalah sebagai berikut:
Filum               :Chordata
Sub-Filum       :Vertebrae
Class                :Actinopterygii
Ordo                :Clupeiformes
Famili              :Engraulididae
Genus              :Stolephorus
Species            :Stolephorus    sp.


            Ikan teri masuk dalam family Engraulidae dengan nama ilmiah Stolephorus sp. morfologinya adalah sebagai berikut: badan seperti cerutu, sedikit silindris, bagian perut membulat, Kepala pendek, Moncong nampak jelas dan meruncing, anal sirip dubur sedikit kebelakang, duri-duri lemah sirip punggung dan warna pucat bila sisik terlepas.
Ikan teri bersifat pelagik dan menghuni perairan pesisir dan Estuaria, tetapi beberapa jenis dapat hidup pada salinitas rendah antara 10-15%.
Umumnya hidup dalam gerombolan, terutama jenis-jenis yang besar. Hardenberg yang banyak mempelajari biologi ikan teri (Stolephorus sp) di Indonesia menduga bahwa jenis ini mengadakan ruaya secara periodik. Dugaan tersebut didasarkan pada kenyataan yang dapat diamati di perairan Bangka sampai Riau. Di Kepulauan Lingga yang terletak di sebelah utara Bangka, ikan ini dapat di tangkap hanya pada bulan Juli-Agustus. Lebih ke utara lagi, di Kepulauan Riau, jenis-jenis ini baru bisa di tangkap pada bulan April hingga Oktober. Jadi munculnya dua bulan lebih lambat dan lenyapnya pun dua bulan lebih lambat dari Kepulauan Lingga. Tampaknya ada kemungkinan migrasi menuju utara. Tetapi sampai berapa jauh migrasi ikan ini dan jalan nama yang dilalui belum diketahui (Anonimous,2009).
           
Ikan teri yang termasuk dalam kelompok ikan pelagik kecil merupakan sumberdaya yang poorlybehaved karena makanan utamanya plankton sehingga kelimpahannya sangat tergantung kepada faktor-faktor lingkungan (Wootton, 1992).
Selain itu, ikan teri yang mempunyai ukuran 7-16 cm (De Bruin 1994), seperti umumnya kelompok ikan pelagis kecil, mempunyai karakteristik sebagai berikut (Keenleyside, 1979):
1.      Membentuk gerombolan yang terpencar-pencar (patchness) 
2.      Variasi kelimpahan cukup tinggi yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang            berfluaktuatif.
3.      Selalu melakukan ruaya baik temporal maupun spasial
4.      Aktivitas gerak yang cukup tinggi yang ditunjukkan oleh bentuk badan menyerupai cerutu atau    torpedo.

C.  Penentuan Daerah Penangkapan Ikan Teri Berdasrkan Tingkah Laku dan Pola Sebarannya

Sebaran daerah penangkapan ikan sangat berhubungan dengan sebaran rofil-a sebagai indikasi kandungan produktivitas primer. Produktivitas primer adalah  laju  pembentukan  senyawa-senyawa  organik   yang  kaya  energi  dari nyawa  anorganik (Nybakken 1992). Melimpahnya  produktivitas  primer  diperairan akan menarik perhatian ikan untuk mencari makan. Jumlah produktivitas pimer diperairan dapat diperkirakan dengan konsentrasi klorofil-a.
Dari  pengalaman layan  dalam  menentukan  daerah  penangkapan  dengan  melihat  keberadaan rung dan adanya buih serta riak kecil.  Setelah mengetahui daerah penangkapan,maka akan mudah melakukan penangkapan.  Namun demikian, cara tersebut jarang efektif dan efisien karena tingkat ketidakpastiannya cukup tinggi.
Informasi mengenai daerah penangkapan dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga. Pola  musim  dapat  digunakan  menentukan  waktu  yang  tepat  untuk melakukan  penangkapan  ikan. Daerah  dan  musim  penangkapan  ikan  teri mumnya  bervariasi,  tergantung  pada  faktor  internal  dan  eksternal. Faktor internal seperti tingkah  laku  ikan dan faktor eksternal  meliputi kondisi perairan serti suhu, salinitas, kandungan klorofil-a dan faktor lainnya.
Menurut Subani (1982) dalam Priyanto (2001) terdapat 20 jenis ikan teri di Perairan Indo Pasifik. Nama- nama jenis serta layah sebarannya adalah Jenis yang tidak terdapat di Samudra Pasifik, yaitu Stolephorus andhraensis, S. chinensis, S. dubiosus, S. holodon; Jenis    yang   terdapat    hanya   di   Samudra   Pasifik,    yaitu   Stolephorus oligobranchus, S. purpureus, S. branchycephalus, S. pasificus, S. ronguilloi, S. tysoni, S. waitei; dan            Jenis yang mempunyai sebaran luas, baik di Samudra Pasifik.
Tampak   adanya  kemungkinan  arah  migrasi  ikan  teri  menuju  utara. Berdasarkan   sifatnya   yang   sering   melakukan   migrasi   sehingga   ikan   teri lakukan penyebaran yang dilakukan dipengaruhi oleh perubahan musim pada perairan.  Pola musim ikan teri terjadi secara periode setiap tahunnya (Hardenberg  dalam Hutomo et al. 1987).
Ikan teri bardasarkan sifatnya yang sering melakukan migrasi, untuk jenis teri yang lebih besar biasanya bersifat soliter dikarenakan adanya asumsi n teri yang tertangkap  dalam jumlah kecil.   Ikan teri yang tertangkap  oleh layan  yang  umumnya  berkelompok  memiliki  respon  yang  positif  terhadap haya dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap reaksi yang berupa getaran ng berasal dari luar (Hardenberg 1934 diacu dalam Hutomo et al. 1987).
Menurut Subani (1982) dalam Priyanto (2001) terdapat 20 jenis ikan teri di Perairan Indo Pasifik. Nama- nama jenis serta layah sebarannya adalah Jenis yang tidak terdapat di Samudra Pasifik, yaitu Stolephorus andhraensis, S. chinensis, S. dubiosus, S. holodon; Jenis    yang   terdapat    hanya   di   Samudra   Pasifik,    yaitu   Stolephorus oligobranchus, S. purpureus, S. branchycephalus, S. pasificus, S. ronguilloi, S. tysoni, S. waitei; dan            Jenis yang mempunyai sebaran luas, baik di Samudra Pasifik.
Tampak   adanya  kemungkinan  arah  migrasi  ikan  teri  menuju  utara. Berdasarkan   sifatnya   yang   sering   melakukan   migrasi   sehingga   ikan   teri lakukan penyebaran yang dilakukan dipengaruhi oleh perubahan musim pada perairan.  Pola musim ikan teri terjadi secara periode setiap tahunnya (Hardenberg  dalam Hutomo et al. 1987).




KESIMPULAN
Ikan teri(Stolephorus sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis penting. Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan untuk memberikan informasi detail tentang sebaran ikan teri sehngga memudahkan dalam penangkapan. Pola sebaran ikan teri ini biasanya  berhubungan dengan sebaran rofil-a sebagai indikasi kandungan produktivitas primer.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93

Nontji, A.  1993. Laut Nusantara.Djembatan. Jakarta.