Tugas Kelompok
TSUNAMI
Oleh
:
AHMADRYADI
MAKDA ADI KUSUSMA TSPPS
MAKDA ADI KUSUSMA TSPPS
YUSRIZAL
CICI
ADLIANA
![]() |
PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA
PENGANTAR
Segala puja dan puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah kelompok ini dengan waktu yang
telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah kelompok ini
berjudul “Tsunami” disusun untuk memenuhi tugas Oseanografi Fisika di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas
Riau.
Dengan tersusunnya
makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca
demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas
mata kuliah. Terima kasih.
KELOMPOK I
BAB
I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Tujuan
BAB
II PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Tsunami
Istilah tsunami berasal dari bahasa
Jepang.Tsu berarti "pelabuhan", dan nami berarti
"gelombang", sehingga tsunami dapat diartik an sebagai
"gelombang pelabuhan". Istilah
ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang
tsunami sangat besar pada saat berada di tengah laut, para nelayan tidak
merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka
mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah
mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar
pelabuhan, dan tidak di tengah lautan yang dalam. 



Tsunami adalah sebuah ombak yang
terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau
hantaman meteor di laut. Tsunami tidak terlihat saat masih berada jauh di
tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombangnya yang
bergerak cepat ini akan semakin membesar. Tenaga setiap tsunami adalah tetap
terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Apabila gelombang menghampiri
pantai, ketinggiannya meningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang
tersebut bergerak pada kelajuan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya
oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi di laut dalam, tetapi meningkat
ketinggian hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai. Tsunami bisa
menyebabkan kerusakan erosi dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan
kepulauan.
Tsunami juga sering dianggap sebagai
gelombang air pasang. Hal ini terjadi karena pada saat mencapai daratan,
gelombang tsunami lebih menyerupai air pasang yang tinggi daripada menyerupai
ombak biasa yang mencapai pantai secara alami oleh tiupan angin. Namun
sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak berkaitan dengan peristiwa
pasang surut air laut. Karena itu untuk menghindari pemahaman yang salah, para
ahli oseanografi sering menggunakan istilah gelombang laut seismik (seismic sea
wave) untuk menyebut tsunami, yang secara ilmiah lebih akurat.
2.2.
Proses Terjadinya Tsunami
Jika berbicara mengenai proses terjadinya
tsunami, maka kita tentu harus memulai dari penyebabnya, yakni gempa di wilayah lautan. Tsunami selalu diawali suatu
pergerakan dahsyat yang lazim kita sebut gempa. Meski diketahui bahwa gempa ini
ada beragam jenis, namun 90% tsunami disebabkan oleh pergerakan lempeng di
dalam perut bumi yang letaknya kebetulan ada di dalam wilayah lautan.

Akan tetapi
perlu juga disebutkan, sejarah pernah merekam tsunami yang dahsyat akibat
meletusnya Gunung Krakatau. Gempa yang terjadi di dalam perut bumi akan
mengakibatkan munculnya tekanan ke arah vertical sehingga dasar lautan akan
naik dan turun dalam rentang waktu yang singkat. Hal ini kemudian akan memicu
ketidakseimbangan pada air lautan yang kemudian terdorong menjadi gelombang
besar yang bergerak mencapai wilayah daratan. Dengan tenaga yang besar
yang ada pada gelombang air tersebut, wajar saja jika bangunan di daratan bisa
tersapu dengan mudahnya. Gelombang tsunami ini merambat dengan kecepatan yang
tak terbayangkan. Ia bisa mencapai 500 sampai 1000 kilometer per jam di lautan.
Dan saat mencapai bibir pantai, kecepatannya berkurang menjadi 50 sampai 30
kilometer per jam. Meski berkurang pesat, namun kecepatan tersebut sudah bisa
menyebabkan kerusakan yang parah bagi manusia. Jika kita mencermati proses terjadinya tsunami, tentu
kita paham bahwa tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Dengan demikian,
kita tak memiliki kendali untuk mencegah penyebab tersebut. Namun, dengan
persiapan dan kewaspadaan yang maksimal, kita bisa meminimalisir dampak
bencana tsunami ini sendiri.
Contoh yang baik sudah diperlihatkan Jepang. Meski rawan tsunami, namun
kesadaran rakyatnya mampu menekan jumlah korban akibat bencana tersebut.
Tsunami dapat dipicu oleh
bermacam-macam gangguan (disturbance) berskala besar terhadap air laut,
misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di bawah
laut, atau tumbukan benda langit. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi
bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus,
misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Tsunami dapat terjadi apabila dasar
laut bergerak secara tiba-tiba dan mengalami perpindahan vertikal.
Gerakan vertikal pada kerak bumi,
dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang
mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini
mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai
menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.

Kecepatan gelombang tsunami tergantung
pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa
mencapai ratusan kilometer per jam. Apabila tsunami mencapai pantai,
kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak
daerah pantai yang dilaluinya.

Di tengah laut tinggi gelombang
tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai
tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa
air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis
pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa
kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi
pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah
subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah
longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat
mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang
menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara
tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian
pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran
meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya
mencapai ratusan meter.
Beberapa penyebab terjadinya tsunami akan dijelaskan
sebagai berikut :
Longsoran Lempeng Bawah Laut (Undersea landslides)
Gerakan yang besar pada kerak bumi
biasanya terjadidi perbatasan antar lempeng tektonik. Celah retakan antara
kedua lempeng tektonik ini disebut dengan sesar (fault). Sebagai contoh, di
sekeliling tepian Samudera Pasifik yang biasa disebut dengan Lingkaran Api
(Ring of Fire), lempeng samudera yang lebih padat menunjam masuk ke bawah
lempeng benua. Proses ini dinamakan dengan penunjaman (subduction). Gempa
subduksi sangat efektif membangkitkan gelombang tsunami.

Gempa tektonik merupakan salah satu
gempa yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi. Jika gempa semacam ini
terjadi di bawah laut, air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut
berpindah dari posisi ekuilibriumnya. Gelombang muncul ketika air ini bergerak
oleh pengaruh gravitasi kembali ke posisi ekuilibriumnya. Apabila wilayah yang
luas pada dasar laut bergerak naik ataupun turun, tsunami dapat terjadi. Berikut
ini adalah beberapa persyaratan terjadinya tsunami yang diakibatkan oleh gempa
bumi :
1. Gempa bumi
yang berpusat di tengah laut dan dangkal(0 – 30 km)
2. Gempa bumi
dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
3. Gempa bumi
dengan pola sesar naik atau sesar turun
Tidak semua gempa menghasilkan
tsunami, hal ini tergantung beberapa faktor utama seperti tipe sesaran (fault
type), kemiringan sudut antar lempeng (dip angle), dan kedalaman pusat gempa
(hypocenter).
Aktivitas Vulkanik (Volcanic Activities)
Pergeseran lempeng di dasar laut,
selain dapat mengakibatkan gempa juga seringkali menyebabkan peningkatan
aktivitas vulkanik pada gunung berapi. Kedua hal ini dapat menggoncangkan air
laut di ataslempeng tersebut. Demikian pula, meletusnya gunung berapi yang
terletak di dasar samudera juga dapat menaikkan air dan membangkitkan gelombang
tsunami.
Tumbukan Benda Luar Angkasa (Cosmic-body Impacts)
Tumbukan dari benda luar angkasa
seperti meteor merupakan gangguan terhadap air laut yang datang dari arah permukaan.
Tsunami yang timbul karena sebab ini umumnya terjadi sangat cepat dan jarang
mempengaruhi wilayah pesisir yang jauh dari sumber gelombang. Sekalipun begitu,
apabila pergerakan lempeng dan tabrakan benda angkasa luar cukup dahsyat, kedua
peristiwa ini dapat menciptakan megatsunami.

Fisika
Tsunami
Gelombang tsunami bisa dijelaskan
dari fenomena penjalaran gelombang secara transversal; energinya adalah fungsi
dari ketinggian (amplitudo) dan kecepatannya. Ketinggiannya sangat dipengaruhi
olehpanjang gelombang. Tsunami memiliki panjang gelombang ratusan km,
berperilaku seperti gelombang air-dangkal. Suatu gelombang menjadi gelombang
air-dangkal atau shallowwater waveketika perbandingan kedalaman air dengan
panjang gelombangnya kecil dari 0.05.
Kecepatan gelombang air-dangkal (v)
adalah : v = akar (g*d), dengan gadalah percepatan gravitasi dan d adalah
kedalaman air. Bayangkan, pada kedalaman 10km di samudera India, sebuah tsunami
akan memiliki kecepatan awal sekitar 300 m/detik atau sekitar 1000 km/jam.
Kecepatan ini akan berkurang seiring dengan semakin dangkalnya kedalaman air ke
arah pantai. Namun, energi yang dikandung gelombang tidaklah berkurang banyak.
Ini sesuai hubungan laju energi yang hilang (energi loss rate) pada gelombang
berjalan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya; dengan kata lain
semakin besar panjang gelombangnya maka makin sedikit energi yang hilang,
sehingga energi yang dikandung tsunami bisa dianggap konstan.
Karena energinya konstan,
berkurangnya kecepatan akan membuat ketinggian gelombang (amplitudo) bertambah.
Ilmuwan mencatat dengan kecepatan 1000km/jam menuju pantai, tinggi gelombang
bisa mengalami kenaikan sampai 30
meter.
Gempa Bumi
dan Tsunami
Gempa bumi merupakan salah satu penyebab terjadinya
tsunami. Gempa bumi bisa disebabkan oleh berbagai sumber, antara lain (1)
letusan gunung berapi (erupsi vukalnik), (2) tubrukan meteor, (3) ledakanbawah
tanah (seperti uji nuklir), dan (4) pergerakan kulit bumi. Gempa bumi sering
terjadi karena pergerakan kulit bumi, atau disebut gempa tektonik.Berdasarkan
seismology, gempa tektonik dijelaskan oleh “Teori Lapisan Tektonik”. Teori ini
menyebutkan bahwa lapisan bebatuan terluar yang disebut Lithospher mengandung banyak lempengan. Di
bawah Lithospere ada lapisan yang
disebut athenosphere, lapisan ini seakan-akan melumasi bebatuan tersebut
sehingga mudah bergerak. Diantara dua lapisan ini, bisa terjadi 3 hal, yaitu:
1.Lempengan bergerak saling menjauh, maka magma dari
perut bumi akan keluar menuju permukaan bumi. Magma yang sudah dipermukaan bumi
ini disebut lava.
2.Lempengan bergerak saling menekan, maka salah satu
lempeng akan naik atau turun, atau dua-duanya naik atau turun. Inilah cikal
gunung atau lembah.
3.Lempengan bergerak berlawanan satu sama lain,
misalnya satu ke arah selatan dan satunya ke arah utara.
Ketiga prediksi tersebut akan
menimbulkan getaran yang dilewatkan oleh media tanah dan batu. Getaran ini
disebut gelombang seismik (seismic wave), bergerak ke segela arah. Inilah yang
disebut gempa. Lokasi di bawah tanah tempat sumber getaran disebut fokus gempa.
Jika lempengan bergerak saling menekan terjadi di dasar laut, ketika salah satu
lempengan naik atau turun, maka voluma daerah di atasnya akan mengalami
perubahan kondisi stabilnya. Apabila lempengan itu turun, maka voluma daerah
itu akan bertambah. Sebaliknya apabila lempeng itu naik, maka voluma daerah itu
akan berkurang.
Perubahan voluma tersebut akan
mempengaruhi gelombang laut. Air dari arah pantai akan tersedot ke arah
tersebut. Gelombang-gelombang menuju pantai akan terbentuk karena massa air
yang berkurang pada daerah tersebut (efek dari hukum Archimedes); karena
pengaruh gaya gravitasi, air tersebut berusaha kembali mencapai kondisi stabilnya.
Ketika daerah tersebut cukup luas, maka gelombang tersebut mendapatkan tenaga
yang lebih dahsyat. Inilah yang disebut dengan tsunami. Tsunami merupakan
fenomena gelombang laut yang tinggi dan besar akibat dari gangguan mendadak
pada dasar laut yang secara vertikal mengurangi volume kolom air. Gangguan
mendadak ini bisa datang dari gempa.
Epicenteradalah titik pada permukaan bumi yang
mengalami efek dari gempa. Garis yang menghubungi fokus gempa dengan
epicenterdisebut faultline. Perbedaan tingkat ketinggian pada lapisan terluat
kulit bumi adalah prediksi terjadinya lempengan bergerak saling menekan yang
terjadi di dasar laut dari Teori Lapisan Tektonik. Laju gerakan lempeng
Indo-Australia melesak ke bawah lempeng Eurasia diperkirakan sebanyak 5 cm per
tahun. Terkadang gerakan terjadi cepat dan lambat. Gerakan ini membuat posisi
bebatuan di sepanjang lokasi pertemuan.
Pergerakan
Lempeng Penyebab Gempa Bumi dan Tsunami
Lapisan bumi terdiri dari inti (core), selubung
(mantle) dan kerak (crust). Inti bumi tebalnya kira-kira 3475 km, selubung
tebalnya kira-kira 2870 km, sedangkan bagian paling luar bumi, yaitu kerak
tebalnya 35 km. Inti bumi terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam yang padat
dan bagian luar yang cair. Selubung bumi adalah batuan yang semi-cair, sifatnya
plastis, sedangkan kerak bumi yang jadi tempat hidup kita sifatnya padat. Kerak
bumi bagian terluar bumi mempunyai temperaturyang lebih dingin daripada bagian
inti. Karena perbedaan temperatur inilah terjadilah aliran konveksi di selubung
bumi. Material yang panas naikmenuju keluar dan material dingin turun menuju ke
dalam. Ketika potongan-potongan atau lempengan kerak bumi tergerakkan oleh
sistem roda berjalan ini, mereka bisa saling bertabrakan. Bagian terluar dari
bumi ini bergerak. Apalagi dengan adanya beberapa bencana yang sangatlah
berkaitan dengan pergerakan ini seperti gempa bumi dan tsunami. Bagian-bagian
terluar dari bumi ini (tectonic plate) atau lempeng tektonik.
2.3 Karakteristik Tsunami
a. Kecepatan Tsunami
Secara empiris, kecepatan tsunami tergantung pada
kedalaman laut dan percepatan gravitasi di tempat tersebut. Untuk di laut
dalam, kecepatan tsunami bisa setara dengan kecepatan pesawat jet, yaitu
sekitar 800 km/jam. Semakin dangkal lautnya, kecepatan tsunami semakin
berkurang, yaitu berkisar antara 2 – 5 km/jam.
b. Ketinggian Tsunami
Ketinggian
gelombang Tsunami berbanding terbalik dengan kecepatanya. Artinya, jika
kecapatan tsunami besar, tetapi ketinggian gelombang tsunami hanya beberapa
puluh centimeter saja. Sebaliknya untuk di daerah pantai, kecepatan
tsunaminya kecil, sedangkan ketinggian gelombangnya cukup tinggi, bisa
mencapai puluhan meter. Ketinggian tsunami di pantai dipengaruhi oleh beberapa
faktor, salah satunya adalah bentuk pantainya. Ada 2 (dua) bentuk pantai yaitu :
1. Pantainya terjal
Bentuk
pantai seperti ini mengakibatkan bagian utama dari energi tsunami dipantulkan
oleh slope (pembatas). Sehingga pemantulannya secara utuh mengikuti
periode tsunami, tanpa pecah. Tinggi gelombang yang gelombang yang
dihasilkan antara 1 – 2 meter.
1.
Pantainya Landai
Bentuk pantai ini mengakibtkan energi tsunami akan
dinaikkan oleh pantai, disini berlaku prinsip dasar energi, yakni energi
selalu konstan. Sehingga jika kecepatannya berkurang maka amplitudonya
besar, panjang gelombangnya berkurang dan mengakibatkan pecahnya
gelombang. Hal inilah yang mengakibatkan tinggi gelombang tsunami bisa mencapai
puluhan meter.
2.4.
Dampak Tsunami Bagi Ekologi Laut
Dampak Positif dari bencana tsunami :
1. Bencana alam merenggut
banyak korban, sehingga lapangan pekerjaan menjadi terbuka luas bagi yang masih
hidup
2. Kegunaan secara
Psikologis: Menjalin kerjasama dan bahu- membahu untuk menolong korban bencana,
menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain.
3. Kita bisa mengetahui
samapai dimanakah konstruksi bangunan kita serta kelemahannya, dan kita dapat
melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila bencana tersebut datang
kembali tetapi dengan konstruksi yang lebih baik.
Dampak Negatif dari bencana tsunami :
1. Merusak apa saja yang
dilaluinya. bangunan, tumbuh-tumbuhan dan dan mengakibatkan korban jiwa
manusia, serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.
2. Banyak tenaga kerja ahli
yang menjadi korban, sehingga sulit mencari lagi tenaga ahli yang sesuai dalam
bidang pekerjaannya.
3. Pemerintah akan kewalahan
dalam pelaksanaan pembangunan pasca bencana, karena faktor dana yang besar.
4. Menambah tingkat kemiskinan
apabila ada masyarakat korban bencana yang kehilangan harta benda.
2.5 Data Historis Tsunami
1.
7 Agustus 1883, letusan gunung Krakatau memicu
terjadinya tsunami yang menenggelamkan 36 ribu orang Indonesia yang berada di
pulau Jawa bagian barat dan utara Sumatera. Kekuatan gelombang mendorong 600
ton blok terumbu karang menuju tepi pantai bersama dengan arus tsunami yang
besar.
2.
15 Juni 1896, gelombang setinggi 30 meter, disebabkan
oleh gempa bumi menyapu pantai timur Jepang. Sebanyak 27 ribu orang menjadi
korban.
3.
9 Juli 1958, diingat sebagai tsunami terbesar yang
pernah dicatat oleh masa modern, Gempa di Teluk Lituya Alaska disebabkan oleh
tanah longsor yang awalnya dipicu oleh gempa bumi berskala 8,3 skala richter.
Gelombang sangat tinggi, tetapi karena wilayah tersebut relatif terisolasi dan
kondisi geologinya unik maka tsunami tidak menyebabkan banyak kerusakan. Tapi
hanya menenggelamkan satu perahu dan membunuh dua orang
4.
22 Mei 1960, salah satu gempa besar yang tercatat
manusia terjadi di Chile sebesar 8,6 skala richter, menciptakan tsunami yang
menerjang pantai Chile dalam waktu kurang dari 15 menit. Gelombang setinggi 25
meter membunuh 1500 orang di Chile dan Hawaii,menjadi tsunami yang cukup
besar.
5.
27 Maret 1964, dikenal sebagai gempa bumi Good Friday
Alaska, dengan kekuatan sekitar 8,4 skala richter menggulung dengan kecepatan
400 mil per jam tsunami di Valdez Inlet dengan ketinggian 6,7 meter, membunuh
lebih dari 120 orang.Sepuluh orang yang menjadi korban di kota Crescent, di
utara California, yang sempat menyaksikan gelombang setinggi 6,3 meter
6.
23 Agustus 1976, sebuah tsunami di barat daya Filipina
membunuh 8 ribu korban jiwa akibat gempa bumi yang terjadi 30 menit setelah
adanya gempa.
7.
17 Juli 1998, sebuah gempa berkekuatan 7,1 skala richter
menyebabkan tsunami di Papua Nugini yang membunuh 2200 orang dengan sangat
cepat.
8.
26 Desember 2004, gempa kolosal dengan kekuatan 9,1
dan 9,3 skala richter setinggi 3,5 meter mengguncang Indonesia dan membunuh 230
ribu jiwa, sebagian besar karena tsunami. Gempa tersebut dinamakan sebagai
gempa Sumatera-Andaman dan tsunami yang terjadi kemudian dikenal sebagai
tsunami lautan Hindia. Gelombang yang terjadi menimpa banyak belahan dunia
lain, sejauh hingga Nova Scotia dan Peru.
9.
2006 – 17 Juli, Gempa yang
menyebabkan tsunami terjadi di selatan pulau Jawa, Indonesia, dan setinggi maksimum ditemukan 21 meter di Pulau
Nusakambangan. Memakan korban jiwa lebih dari 500 orang. Dan berasal dari selatan
kota Ciamis
10.
11 maret 2011, Gempa bumi
berkekuatan 8,9 skala Richter pada kedalaman 24,4 kilometer di sebelah pantai
timur Honshu, Jepang, pada 11 Maret 2011 pukul 12.46 WIB atau 14.46 waktu
setempat, tercatat sebagai gempa bumi terbesar ketujuh di dunia.
BAB III
KESIMPULAN
Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh
gempa bumi, tanah longsor, meteor atau letusan gunung berapi yang terjadi
di laut. Terjadinya Tsunami diakibatkan oleh adanya gangguan yang menyebabkan
perpindahan sejumlah besar air meluap ke daratan, seperti letusan gunung api,
gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami
adalah akibat gempa bumi bawah laut.
Dampak Tsunami sebagian besar mengakibatkan kerusakan
parah bagi ekosistem, banyak menelan korban jiwa dan harta benda sehingga perlu
adanya upaya untuk menghadapi tsunami baik dalam keadaan waspada, persiapan, saat
terjadi tsunami dan setelah terjadi tsunami.
Untuk mengantisipasi datangnya tsunami yang sampai
saat ini belum bisa diprediksikan dengan tepat kapan dan dimana akan terjadi
maka dapat dilakukan beberapa langkah sebagai berikut : Selalu waspada dan
memantau dengan aktif informasi tentang bahaya tsunami dari pihak yang
berwenang terhadap adanya potensi tsunami terutama penduduk yang bermukim
didekat pantai.Menentukan tempat-tempat berlindung yang tinggi dan aman jika
terjadi tsunami.
