Sabtu, 30 Mei 2015

Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tuna Mata Besar (thunnus obesus)

Makalah

ANALISA DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA
Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)



Oleh

AHMADRYADI
1410246019





Image3
 













PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) dan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah AnalisaDaerah Penangkapan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
    Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.








                                                                                                                                        Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Untuk menuju era industrialisasi wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri, pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang sangat subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia  setelah laut utara, hal ini tentunya menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya Ikan. Seiring kemajuan zaman, penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologi yang digunakan maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan efesien. Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya dan parameter lainnya. Ayodhyoa (1976), mengemukakan bahwa fishing ground merupakan tempat penangkapan ikan.  Pada umumnya semua tempat dimana ikan berada dan dapat dioperasikan suatu alat tangkap. Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi.
Sumberdaya ikan tuna merupakan salah satu komuditas ekspor andalan Indonesia khusunya dibidang perikanan laut. Pengetahuan mengenai penyebaran tuna sangat penting artinya bagi usaha penangkapan. Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran serta memperhatikan beberapa faktor oseanografi yang mempengaruhi pola penyebarannya.

b. Tujuan
                Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa daerah potensial penangkapan berdasarkan sifat dan tingkah lakunya, khusunya ikan mata besar (Thunnus obesus).





BAB II
PEMBAHASAN

Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut:
a. Daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat)
b. Daerah penangkapan ikan perairan dasar
Ikan pelagis (termasuk ikan Tuna) adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan mempunyai ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Ikan pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning ground).

2.1 Taksonomi Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
Menurut Saanin (1968), ikan Tuna Mata Besar (Bigeye tuna) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom              : Animalia
Class                      : Pisces
Order                     : Percomorphi
Family                   : Scomberidae                 
Genus                   : Thunnus
Spesies                 : Thunnus obesus

Tuna mata besar mempunyai tubuh fusiform, sangat besar dan seluruhnya tertutup dengan sisik agak membesar, terutama pada bagian korselet kepala dan mata berukuran besar. Sirip dada panjang, mengarah ke belakang dan dapat mencapai bagian bawah dari sirip punggung pertama, sedang pada ikan yang telah tua hampir melampaui permukaan sirip punggung kedua. Sirip punggung kedua dan sirip dubur lebih tinggi sedikit dari sirip punggung pertama. Kedua warna sirip pungung berwarna biru keabu-abuan dengan sirip dada berwarna hitam pada sisi atasnya, sedang sisi bawah keabu-abuan. Warna punggung hitam keabu-abuan, bagian sisi dan perut putih keperak-perakkan (Nakamura, 1969 vide Syahreza, 1995).
                Gambar Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
2.2 Tingkah Laku Dan Penyebaran Ikan Tuna Mata Besar
Ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) hidup diperairan tropis sampai subtropis. Ikan ini merupakan ikan perenang cepat dan hidup bergerombol (schooling) sewaktu mencari makan. Kecepatan renang ikan dapat mencapi 50 km/jam, kemampuan renang ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyebarannya dapat meliputi skala ruang (wilayah geografis) yang cukup luas, termasuk diantaranya spesies yang dapat menyebar dan bermigrasi lintas samudra (highly migratory, (Supadiningsih dan Rosana 2004). Tuna mata besar bersifat epipelagik, mesopelagik berada pada permukaan sampai kedalaman 250 m. Suhu dan kedalaman thermoklin menjadi faktor utama distribusi vertikal dan horizontal ikan tuna mata besar (Maury 2005).
Penyebaran ikan tuna mata besar di Dunia yaitu diperairan subtropis dan tropis Samudra Pacifik, India dan Atlantik, tetapi tidak ditemukan di laut Medeterenia. Di Indonesia, daerah penyebaran tuna termasuk tuna mata besar secara horizontal meliputi perairan barat dan selatan Sumatra, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Laut Banda dan sekitarnya, Laut Sulawesi dan periaran barat Papua. Semua jenis ikan tuna terdapat di Indonesia kecuali ikan tuna sirip biru dan sirip hitam (Oktolseja, 1988). Penyebaran di perairan Indonesia yaitu pada daerah antara 15° LU-15° LS, melimpah pada lintang 0° -15°  LS (FAO vide Syahreza, 1995).  Menurut Sumadhiharja (1971) vide Syahreza (1995), daerah penangkapan tuna yang baik adalah sebagai berikut :
1.       Tempat pertemuan arus dari daerah perairan sempit dengan laut dalam atau daerah karang tebing, merupakan daerah penangkapan laut dalam;
2.       Tempat-tempat terdapatnya arus yang mengalir dengan cepat atau tempat yang ada rintangan seperti karang, pulau, dan tebing.
3.       Tempat-tempat terjadinya konvergen atau divergensi diantara arus yang berdekatan.

2.3 Kondisi Oseanografi Yang Mempengaruhi Penyebaran Ikan Tuna Mata Besar dan Analisa Waktu Penangkapan

 Berkaitan dengan letak geografis Indonesia yang beriklim tropis, maka dapat dikatakan bahwa lingkungan perairannya relatif stabil sepanjang tahun misal pada kedalaman 100 m sebaran temperatur permukaan ± 20-29°  C, kadar garam permukaan ± 34‰, dan kandungan 02-nya 3-4 ml/l. Oleh sebab itu musim penangkapan tuna pada dasarnya dapat dilakukan sepanjang tahun (Widana, 1991 vide Syahreza, 1995).
Salinitas perairan yang disukai ikan tuna mata besar berkisar 32-25 ptt atau diperairan oceanik. Habitat ikan tuna mata besar didaerah perairan dengan suhu 13°C-29°C. Ikan ini mempunyai pola tingkah laku yang khas berdasarkan kedalaman, yaitu pada malam hari berada dilapisan permukaan pada kedalaman kira-kira 50 m dan pada siang hari dapat menyelam hingga kedalaman 500m ( Dagorn et al 2000, Gunn dan Block 2001).
Blackburn (1965) vide Nababan (2008) menyatakan bahwa salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa jenis tuna berbeda-beda, yaitu 18-38‰ untuk madidihang dan tuna sirip biru, 33-35‰ untuk tuna albakora dan 32-35‰ untuk cakalang.  Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar, termasuk tuna mata besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan, (Nelwan A., 2004).
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Timur Indonesia ; Di kawasan timur Indonesia, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar pada umumnya berkisar pada musim peralihan I (April, Mei, dan Juni) hingga awal musim timur. Di Maumere (NTT), puncak musim terjadi pada Februari dan November, yaitu akhir musim barat dan akhir musim peralihan II.
Kisaran bulan-bulan musim penangkapan ikan pelagis besar sebagai berikut :
1. Perairan Selat Makassar bagian selatan (Maret-Juli)
2. Laut Flores (September-Maret)
3. Laut Banda (September- Maret)
4. Perairan Aru (September-Maret)
5. Laut Arafura (Agustus-Mei)
6. Laut Seram (Agustus-Maret)
7. Laut Maluku (Agustus-Maret)
8. Teluk Tomini (Oktober-April)
Perairan Laut Banda yang kedalamannya mencapai 10.000 m merupakan salah satu daerah penangkapan pelagis besar (terutama ikan tuna mata besar dan tuna albakore) di kawasan timur Indonesia. Musim penangkapan di perairan Laut Banda mencapai puncaknya pada bulan November.
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Barat Indonesia ;Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar seperti tuna secara umum dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda. Jenis ikan yang banyak tertangkap di wilayah ini adalah cakalang dan madidihang. Hasil analisis data produksi menyebutkan bahwa titik tertinggi terjadi pada bulan Oktober. Ini berarti, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar dengan menggunakan alat tangkap tonda di perairan barat Sumatera terjadi pada bulan Oktober. Data dan informasi musim penangkapan sumberdaya ikan pelagis besar untuk perairan Samudera Hindia di wilayah selatan Jawa dan Nusa Tenggara diperoleh dari basis penangkapan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap (Jawa Tengah), dan Pelabuhan Benoa (Bali).
Di Bali, alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang berpangkalan di Benoa adalah rawai tuna. Namun, masih ada alat lain yang digunakan dalam pemanfataan sumberdaya ikan pelagis besar yaitu pancing tonda yang dioperasikan dengan perahu jukung dan diberi motor tempel dengan kekuatan 12 PK.

2.4. Alat tangkap yang digunakan
1. Rumpon
2. Purse seine
3. Jaring insang
4. Payang
5. Bagan



BAB III
KESIMPULAN

Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) merupakan jenis ikan perenang cepat dan termasuk species highly migratory. Suhu optimum sekitar 13°C-29°C dan pada salinitas 25-32 ppt. Ikan tuna mata besar menyebar hampir diseluruh perairan laut Indonesia.



DAFTAR PUSTAKA

Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the World. London : Fishing News Book Ltd.

Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.

Dagorn L. Bach P, Josse E. 2000. Movement Patterns of Large Bigeye Tuna (Thunus obesus) In The Open Ocean, Determined Using Ultrasonic Telemectry. Marine Blog (2): 36-371

Maury O. 2005 How To Model The Size –Dependent Vertikal Behavior of Bigeye (Thunus obesus) Tuna In Its Enverionment? Collect.Vol.Sel. Pap, ICCAT, 57(2): 115-126

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93

Supadiningsih CN dan Rosana N. 2004 Penentuan Fishing Ground Tuna dan Cikalang Dengan Teknologi Pengindraan Jauh. Pertemuan Ilmiah I Teknik Geodesi – ITS, Surabaya, 13 Oktober 2004. Hal 114-118.

Uktoselja JCB.1988. Pengaruh Kedalaman Mata Pancing Rawai Tuna Terhadap Hasil Tangkap Ikan Tuna. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 49.

http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12975289/daerahpenangkapanikanpelagis.zip.html : Diakses pada tanggal 18-05-15/22:35







Makalah Analisa Daerah Penangkapan Ikan

Makalah

ANALISA DAERAH PENANGKAPAN IKAN



Oleh

AHMADRYADI
1410246019




Image3

 














PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015



KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul “Analisa Daerah Penangkapan Ikan”  disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah AnalisaDaerah Penangkapan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
    Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.









                                                                                                                                        Penulis











PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang  terdiri dari 16.777 pulau dan hampir dua pertiga bagiannya terdiri dari lautan, serta mempunyai garis pantai sepanjang 95.181 km. Maka tidak salah jika dari dahulu Indonesia dikenal sebagai bangsa pelaut. Semenjak berakhirnya pemerintahan orde baru, maka pemerintah telah mencanangkan kebijakan pembangunan strategis yang diarahkan kepada pembangunan sumber daya pesisir dan laut. Alasan pokok kebijakan tersebut diantaranya: Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, luas laut sekitar 3,1 juta km atau 62% dari luas teritorialnya. Semakin meningkatnya pembanguanan dan jumlah penduduk serta semakin menipisnya sumberdaya alam di daratan. Pergeseran konsentrasi kegiatan ekonomi global dari poros Eropa-Atlantik mejadi poros Asia Pasifik yang diikuti perdagangan bebas dunia pada tahun 2020,  menjadikan kekayaan laut indoneisa menjadi aset nasional.
Dalam menuju era industrialisasi, wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama untuk pusat pengembangan industri , pariwisata, agribisnis, agroindustri, pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang sangat subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia  setelah laut utara, hal ini tentunya menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya penangkapan atau hasil tangkap ikan. Seiring kemajuan zaman, penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologiyang digunakan maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan efesien. Permasalahan nelayan Indoensia sampai dengan hari ini adalah kurangnya penerapan teknologi baik dalam analisa daerah  penangkapan maupun teknologi penangkapannya. Tidak heran jika saat ini, nelayan-nelayan Indoensai sangat jauh tertinggal dibanding para nelayan tetangga seperti Malaysia, Singapur ataupun Thailand. Keterbatasan teknologi dan rendahnya tingkat pendidikan para nelayan  merupakan faktor penyebab masih misikinnya nelayan-nelayan Indoneisa. 
Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya dan parameter lainnya.







PEMBAHASAN

Menurut Yusuf (2006) dalam Dinas Kelautan dan Perikanan (2009), daerah penangkapan ikan merupakan suatu perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan diharapkan dapat tertangkap secara maksimal, tetapi masih dalam batas kelestarian sumberdayanya.  Melihat potensi laut kita dan membandingan dengan hasil tangkapan pertahunnya yang berkisar 30 juta ton/tahun, maka produksi perikanan kita masih jauh dibandingkan dengan negara-negara lainnya bahkan masih sangat rendah.
Secara tradisiona para nelayan biasanya menentukan daerah penangkapan ikan berdasarkan fenomena alam seperti keadaan angin, keadaan bulan, pasang surut, warna air laut ataupun dengan bebrapa teknik seperti membuat baringan dengan cara sederhana. Hal ini tentunya sangat jauh dibanding dengan teknologi yang sudah maju seperti sonar,echoconder ataupun melalui data citra satelit yang dapat memberikan informasi lebih jelas tentang keberadaan ikan pada lokasi tertentu dan waktu tertentu.
Penggunaan teknologi Inderaja dengan menggunakan satelit merupakan sarana yang sangat bermanfaat dalam mengelola sumberdaya perikanan secara bijaksana, termasuk kegunaanya untuk mendeteksi zona potensi penangkapan ikan. Informasi yang dihasilkan secara akurat menggambarkan fenomena alam yang memungkinkan adanya ikan di suatu tempat, karena pada tempat itu banyak terdapat makanan ikan (plankton)  dan mempunyai kondisi lingkungan yang sesuai dengan jenis ikan tertentu. Daerah penangkapan ikan dikatakan baik bila  tersedia ikan, parameter oseanografi mendukung, serta kondisi perairan mendukung untuk pengoperasian alat tangkap. 
Gower dalam Zainuddin et al (2007) bahwa suatu daerah perairan memiliki rentang tertentu dimana ikan berkumpul untuk melakukan adaptasi fisiologis terhadap faktor lain misalnya suhu, arus, dan salinitas yang lebih sesuai dengan yang diinginkan ikan, namun keberadaan konsentrasi klorofil-a di atas 0,2 mgm-3 mengindikasikan k eberadaan plankton yang cukup untuk menjaga kelangsungan hidup ikan ekonomis penting.

Beberapa parameter yang mempengaruhi keberadaan ikan (Daerah Penangkapan)
Suhu
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya. Hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan. Pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan syaraf sehingga ikan sangat peka terhadap perubahan suhu walau hanya sebesar 0,03°C.
Arus
Arus sangat mempengaruhi penyebaran ikan, hubungan arus terhadap penyebaran ikan adalah arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak ikan pelagis dan daerah pemijahan ke daerah pembesaran dan ke  tempat mencari  makan.  Migrasi ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat orientasi ikan dan sebagai bentuk rute alami; tingkah laku ikan dapat disebabkan arus, khususnya arus pasut, arus secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokan makanan.
Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. Arus tampak jelas dalam organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar pada tubuh ikan. Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada pada organisme yang mampu memberikan informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan selalu mengarah menuju arus. (Amirudin, 1993).
Fishing ground yang paling baik biasanya terletak pada daerah batas antara dua arus atau di daerah upwelling dan divergensi. Batas arus (konvergensi dan divergensi) dan kondisi oseanografi dinamis yang lain (seperti eddies), berfungsi tidak hanya sebagai perbatasan distribusi lingkungan bagi ikan, tetapi juga menyebabkan pengumpulan ikan pada kondisi ini. Pengumpulan ikan-ikan yang penting secara komersil biasanya berada pada tengah-tengah arus eddies. Akumulasi plankton, telur ikan juga berada di tengah-tengah antisiklon eddies. Pengumpulan ini bisa berkaitan dengan pengumpulan ikan dewasa dalam arus eddi (melalui rantai makanan). (Amirudin, 1993).
Upwelling merupakan penaikan massa air laut dari suatu lapisan dalam ke lapisan permukaan. Gerakan naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas tinggi, dan zat-zat hara yang kaya ke permukaan (Nontji, 1993). Menurut Barnes (1988). Meningkatnya produksi perikanan di suatu perairan dapat disebabkan karena terjadinya proses air naik (upwelling). Karena gerakan air naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas yang tinggi dan tak kalah pentingnya zat-zat hara yang kaya seperti fosfat dan nitrat naik ke permukaan.  (Nontji, 1993). 
Berdasarkan beberapa penelitian, banyak sekali upwelling  yang terjadi di Indonesia daiantaranya seperti peraian Samudra Hindia selatan,  perairan Pulau Jawa, periaran Nusa Tenggara Barat, perairan Sumatra, perairan Kepulauan Selayar,  laut di Kepulauan Maluku, Selat  Makasar, Laut Banda dan Laut Arafura. 

Cahaya
Ikan bersifat fototaktik (responsif terhadap cahaya) baik secara positif maupun negatif. Banyak ikan yang tertarik pada cahaya buatan pada malam hari, satu fakta yang digunakan dalam penangkapan ikan. Pengaruh cahaya buatan pada ikan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain dan pada beberapa spesies bervariasi terhadap waktu dalam sehari. Secara umum, sebagian besar ikan pelagis naik ke permukaan sebelum matahari terbenam. Setelah matahari terbenam, ikan-ikan ini menyebar pada kolom air, dan tenggelam ke lapisan lebih dalam setelah matahari terbit. Ikan demersal biasanya menghabiskan waktu siang hari di dasar selanjutnya naik dan menyebar pada kolom air pada malam hari.             
                Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya, antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. Dengan demikian, kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Ada ikan yang sangat senang pada intensitas cahaya yang rendah, tetapi ada pula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi.
           





KESIMPULAN
 Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. Pada umumnya pola penyebaran ikan di Laut sangat dipengaruhi oleh bebrap faktor oseanografi perairan itu sendiri meliputi suhu, arus cahaya dan parameter lainnya.









DAFTAR PUSTAKA

Amirudin, 1993. Analisa Penangkapan Cakalang dengan Pole and Line di Perairan Teluk Bone dalam Hubungannya dengan Kondisi Oseanografi Fisika. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Balai Riset Penangkapan Laut-BRKP, 1996 .Musim Penangkpan Ikan Pelagis Besar (ikan Tuna). http://www.fishyforum.com/fishysalt/fishyronment/96- musim-penangkapan-ikan-pelagis-besar.html

Nontji, A.  1993. Laut Nusantara.Djembatan. Jakarta.
Yusuf, 2006. Peranan Suhu Sebagai Salah Satu Penentu Daerah Penangkapan Ikan. Gower dalam Zainuddin et al (2007



Kamis, 21 Mei 2015

Marine Science

Makalah

ANALISA DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA
Albacore (Thunnus alalunga)



Oleh

AHMADRYADI
1410246019





Image3
 









BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Untuk menuju era industrialisasi wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri, pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang sangat subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia  setelah laut utara, hal ini tentunya menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya Ikan. Seiring kemajuan zaman, penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologi yang digunakan maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan efesien. Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya dan parameter lainnya. Ayodhyoa (1976), mengemukakan bahwa fishing ground merupakan tempat penangkapan ikan.  Pada umumnya semua tempat dimana ikan berada dan dapat dioperasikan suatu alat tangkap. Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi.
Pengetahuan mengenai penyebaran tuna sangat penting artinya bagi usaha penangkapannya. Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna, huhate, handline. pukat cincin, dan jaring insang.
 b. Tujuan
                Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa daerah potensial penangkapan berdasarkan sifat dan tingkah lakunya, khusunya ikan tuna jenis albacore.




BAB II
PEMBAHASAN

Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut:
a. Daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat)
b. Daerah penangkapan ikan perairan dasar
Ikan pelagis (termasuk ikan Tuna) adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan mempunyai ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Ikan pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning ground).

2.1. Taksonomi Ikan Tuna Albakora
Menurut Saanin (1968), ikan tuna albakora (Albacore) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom              : Animalia
Filum                     : Chordata
Class                       : Pisces
Order                    : Percomorphi
Family                   : Scomberidae
Genus                   : Thunnus
Spesies                 : Thunnus alalunga

Hasil gambar untuk ikan tuna albakora

Gambar  Tuna Albakora / Albacore (Thunnus alalunga)
Spesies oseanik yang besar, memiliki ujung posterior yang lebih dalam dibandingkan dengan jenis tuna lainnya. Jumlah gillrakers adalah 25-31 buah pada lengkungan pertama. Sirip punggung kedua lebih panjang daripada sirip punggung pertama; memiliki sirip dada yang sangat panjang dan mencapai pangkal sirip punggung kedua. Ikan dengan ukuran panjang baku lebih kecil dari 50 cm akan memiliki pectoral yang secara proporsional lebih kecil daripada tuna yang lainnya, seperti tuna mata besar (Thunnus obesus). Bagian permukaan dari hati berlurik dikarenakan oleh jaringan vascular pembuluh darah. Memiliki gelembung renang, namun tidak terdapat pada ikan dengan ukuran panjang baku lebih kecil dari 50 cm. Bertulang belakang dengan pangkal ekor berjumlah 18 ditambah ekor berjumlah 21. Memiliki berkas warna-warni biru yang samar pada bagian sisi tubuh; sirip punggung pertama berwarna kuning tua, sirip punggung kedua dan sirip dubur memiliki warna kuning terang, finlet bagian dubur berwarna gelap; bagian belakang dari sirip ekor berwarna putih (Collette, 1983).

2.2 Tingkah Laku Dan Penyebaran Ikan Tuna Albakora
Berdasarkan Collete (1983), lokasi penyebarannya albakora di dunia tersebar pada daerah tropis dan daerah laut bersuhu sedang termasuk Laut Mediterania. Albakora bermigrasi berdasarkan kandungan massa air, bukan berdasarkan persilangan batasan suhu dan oksigen. Albakora melewati jarak yang sangat jauh dan muncul untuk membentuk kelompok terpisah di berbagai tahap dalam siklus hidupnya (Collette, 1983).
Distribusi kedalaman untuk habitat albakora di Samudera Pasifik dari permukaan hingga dasar perairan ialah sekitar 380 m dan dipengaruhi oleh struktur panas secara vertikal serta kandungan oksigen pada massa air. Dengan faktor atau kondisi lingkungan yang sama, habitat albakora terdapat pada perairan dengan kedalaman 600 m di samudera Atlantik. Seperti tuna lainnya, albakora membentuk gerombolan ikan dengan jumlah yang lebih sedikit, sebab unit akan lebih kompak saat terdiri dari ikan besar. Gerombolan ikan tersebut bisa saja bercampur dengan benda-benda yang melayang, seperti ganggang laut (Collette, 1983).

2.3 Analisa Daerah Penangkapan Berdasarkan Kondisi Oseanografi
Albakora termasuk ikan jenis epi- dan mesopelagic, berlimpah pada bagian permukaan laut dengan suhu 15,6°-19,4° C untuk albakora dengan jenis yang lebih besar terdapat pada perairan lebih dalam dengan suhu 13,5°-25,2° C. Albakora cenderung berkumpul dan banyak tertangkap pada daerah pertemuan panas tempat terjadinya upwelling (bidang kelautan seperti Zona Transisi pada utara Samudera Pasifik). Zona transisi merupakan daerah utama terjadinya upwelling yang kaya akan sumber makanan bagi organisme laut namun memiliki kandungan oksigen yang sedikit. Syarat minimum untuk kandungan oksigen bagi albakora ialah sekitar 2ml/l yaitu sama dengan yellowfin tuna (Collette, 1983).
Blackburn (1965) vide Nababan (2008) menyatakan bahwa salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa jenis tuna berbeda-beda, yaitu 18-38‰ untuk madidihang dan tuna sirip biru, 33-35‰ untuk tuna albakora dan 32-35‰ untuk cakalang.  Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan, (Nelwan A., 2004).
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Timur Indonesia ;
Di kawasan timur Indonesia, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar pada umumnya berkisar pada musim peralihan I (April, Mei, dan Juni) hingga awal musim timur. Di Maumere (NTT), puncak musim terjadi pada Februari dan November, yaitu akhir musim barat dan akhir musim peralihan II. Kisaran bulan-bulan musim penangkapan ikan pelagis besar sebagai berikut :
1. Perairan Selat Makassar bagian selatan (Maret-Juli)
2. Laut Flores (September-Maret)
3. Laut Banda (September- Maret)
4. Perairan Aru (September-Maret)
5. Laut Arafura (Agustus-Mei)
6. Laut Seram (Agustus-Maret)
7. Laut Maluku (Agustus-Maret)
8. Teluk Tomini (Oktober-April)
Perairan Laut Banda yang kedalamannya mencapai 10.000 m merupakan salah satu daerah penangkapan pelagis besar (terutama ikan tuna mata besar dan tuna albakore) di kawasan timur Indonesia. Musim penangkapan di perairan Laut Banda mencapai puncaknya pada bulan November.
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Barat Indonesia ;Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar seperti tuna secara umum dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda. Jenis ikan yang banyak tertangkap di wilayah ini adalah cakalang dan madidihang. Hasil analisis data produksi menyebutkan bahwa titik tertinggi terjadi pada bulan Oktober. Ini berarti, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar dengan menggunakan alat tangkap tonda di perairan barat Sumatera terjadi pada bulan Oktober.
Data dan informasi musim penangkapan sumberdaya ikan pelagis besar untuk perairan Samudera Hindia di wilayah selatan Jawa dan Nusa Tenggara diperoleh dari basis penangkapan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap (Jawa Tengah), dan Pelabuhan Benoa (Bali).
Di Bali, alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang berpangkalan di Benoa adalah rawai tuna. Namun, masih ada alat lain yang digunakan dalam pemanfataan sumberdaya ikan pelagis besar yaitu pancing tonda yang dioperasikan dengan perahu jukung dan diberi motor tempel dengan kekuatan 12 PK.
2.4. Alat tangkap yang digunakan
1. Rumpon
2. Purse seine
3. Jaring insang
4. Payang
5. Bagan


BAB III
KESIMPULAN

Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. Ikan tuna albacore termasuk ikan perenang cepat dan sereing bermigrasi, banyak ditemukan pada bagian permukaan laut dengan suhu 15,6°-19,4° C.



DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor : Yayasan Dewi Sri. 97 hal.

Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93

Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the World. London : Fishing News Book Ltd.


http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12975289/daerahpenangkapanikanpelagis.zip.html : Diakses pada tanggal 18-05-15/22:35