Makalah
ANALISA
DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA
Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
Oleh
AHMADRYADI
1410246019
![]() |
PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA
PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan
sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul Analisa Daerah Penangkapan Ikan
Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) dan disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah AnalisaDaerah Penangkapan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan
Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka
tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut
berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis
menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu
penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi
kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita
semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima
kasih.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Untuk
menuju era industrialisasi wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama
untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri,
pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga
memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang
sangat subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia setelah laut utara, hal ini tentunya
menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya Ikan. Seiring kemajuan zaman,
penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologi yang digunakan
maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa
daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan
gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan
efesien. Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui
terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa
faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya
dan parameter lainnya. Ayodhyoa (1976), mengemukakan bahwa fishing
ground merupakan tempat penangkapan ikan. Pada umumnya semua tempat dimana ikan berada
dan dapat dioperasikan suatu alat tangkap. Klasifikasi daerah penangkapan ikan
sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis
dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan
dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi.
Sumberdaya ikan tuna merupakan
salah satu komuditas ekspor andalan Indonesia khusunya dibidang perikanan laut.
Pengetahuan mengenai penyebaran tuna sangat penting artinya bagi usaha
penangkapan. Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna
disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran serta memperhatikan
beberapa faktor oseanografi yang mempengaruhi pola penyebarannya.
b. Tujuan
Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa daerah potensial
penangkapan berdasarkan sifat dan tingkah lakunya, khusunya ikan mata besar (Thunnus obesus).
BAB II
PEMBAHASAN
Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan
sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya
ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang
digunakan untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan secara umum
diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut:
a. Daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat)
b.
Daerah penangkapan ikan perairan dasar
Ikan pelagis (termasuk ikan Tuna)
adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan
mempunyai ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan
(schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Ikan
pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk
mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning
ground).
2.1 Taksonomi Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
Menurut Saanin (1968), ikan Tuna Mata Besar (Bigeye
tuna) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Class
: Pisces
Order : Percomorphi
Family
: Scomberidae
Genus
: Thunnus
Spesies
: Thunnus obesus
Tuna mata besar mempunyai tubuh
fusiform, sangat besar dan seluruhnya tertutup dengan sisik agak membesar,
terutama pada bagian korselet kepala dan mata berukuran besar. Sirip dada
panjang, mengarah ke belakang dan dapat mencapai bagian bawah dari sirip punggung
pertama, sedang pada ikan yang telah tua hampir melampaui permukaan sirip
punggung kedua. Sirip punggung kedua dan sirip dubur lebih tinggi sedikit dari
sirip punggung pertama. Kedua warna sirip pungung berwarna biru keabu-abuan
dengan sirip dada berwarna hitam pada sisi atasnya, sedang sisi bawah
keabu-abuan. Warna punggung hitam keabu-abuan, bagian sisi dan perut putih
keperak-perakkan (Nakamura, 1969 vide Syahreza, 1995).

Gambar Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
2.2 Tingkah Laku
Dan Penyebaran Ikan Tuna Mata Besar
Ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) hidup
diperairan tropis sampai subtropis. Ikan ini merupakan ikan perenang cepat dan
hidup bergerombol (schooling) sewaktu mencari makan. Kecepatan renang ikan
dapat mencapi 50 km/jam, kemampuan renang ini merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan penyebarannya dapat meliputi skala ruang (wilayah geografis) yang
cukup luas, termasuk diantaranya spesies yang dapat menyebar dan bermigrasi
lintas samudra (highly migratory, (Supadiningsih dan Rosana 2004). Tuna mata
besar bersifat epipelagik, mesopelagik berada pada permukaan sampai kedalaman
250 m. Suhu dan kedalaman thermoklin menjadi faktor utama distribusi vertikal
dan horizontal ikan tuna mata besar (Maury 2005).
Penyebaran
ikan tuna mata besar di Dunia yaitu diperairan subtropis dan tropis Samudra
Pacifik, India dan Atlantik, tetapi tidak ditemukan di laut Medeterenia. Di
Indonesia, daerah penyebaran tuna termasuk tuna mata besar secara horizontal
meliputi perairan barat dan selatan Sumatra, selatan Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara, Laut Banda dan sekitarnya, Laut Sulawesi dan periaran barat Papua.
Semua jenis ikan tuna terdapat di Indonesia kecuali ikan tuna sirip biru dan
sirip hitam (Oktolseja, 1988). Penyebaran di perairan Indonesia yaitu
pada daerah antara 15° LU-15°
LS, melimpah pada lintang 0°
-15° LS (FAO vide Syahreza, 1995). Menurut Sumadhiharja (1971) vide Syahreza
(1995), daerah penangkapan tuna yang baik adalah sebagai berikut :
1. Tempat
pertemuan arus dari daerah perairan sempit dengan laut dalam atau daerah karang
tebing, merupakan daerah penangkapan laut dalam;
2. Tempat-tempat
terdapatnya arus yang mengalir dengan cepat atau tempat yang ada rintangan
seperti karang, pulau, dan tebing.
3. Tempat-tempat
terjadinya konvergen atau divergensi diantara arus yang berdekatan.
2.3 Kondisi
Oseanografi Yang Mempengaruhi Penyebaran Ikan Tuna Mata Besar dan Analisa Waktu
Penangkapan
Berkaitan dengan letak geografis Indonesia
yang beriklim tropis, maka dapat dikatakan bahwa lingkungan perairannya relatif
stabil sepanjang tahun misal pada kedalaman 100 m sebaran temperatur permukaan
± 20-29° C, kadar garam permukaan ± 34‰, dan kandungan
02-nya 3-4 ml/l. Oleh sebab itu musim penangkapan tuna pada dasarnya dapat
dilakukan sepanjang tahun (Widana, 1991 vide Syahreza, 1995).
Salinitas
perairan yang disukai ikan tuna mata besar berkisar 32-25 ptt atau diperairan
oceanik. Habitat ikan tuna mata besar didaerah perairan dengan suhu 13°C-29°C.
Ikan ini mempunyai pola tingkah laku yang khas berdasarkan kedalaman, yaitu
pada malam hari berada dilapisan permukaan pada kedalaman kira-kira 50 m dan
pada siang hari dapat menyelam hingga kedalaman 500m ( Dagorn et al 2000, Gunn
dan Block 2001).
Blackburn (1965) vide Nababan
(2008) menyatakan bahwa salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa
jenis tuna berbeda-beda, yaitu 18-38‰ untuk madidihang dan tuna sirip biru,
33-35‰ untuk tuna albakora dan 32-35‰ untuk cakalang. Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan
tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan
migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas
yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan
pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal
pada saat terjadi musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar, termasuk tuna mata
besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali
ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang
relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis
menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat
dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang
terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal
yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan,
(Nelwan A., 2004).
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar
Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Timur Indonesia ; Di kawasan timur
Indonesia, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar pada umumnya berkisar
pada musim peralihan I (April, Mei, dan Juni) hingga awal musim timur. Di
Maumere (NTT), puncak musim terjadi pada Februari dan November, yaitu akhir
musim barat dan akhir musim peralihan II.
Kisaran
bulan-bulan musim penangkapan ikan pelagis besar sebagai berikut :
1.
Perairan Selat Makassar bagian selatan (Maret-Juli)
2.
Laut Flores (September-Maret)
3.
Laut Banda (September- Maret)
4.
Perairan Aru (September-Maret)
5.
Laut Arafura (Agustus-Mei)
6.
Laut Seram (Agustus-Maret)
7.
Laut Maluku (Agustus-Maret)
8.
Teluk Tomini (Oktober-April)
Perairan Laut Banda yang kedalamannya
mencapai 10.000 m merupakan salah satu daerah penangkapan pelagis besar
(terutama ikan tuna mata besar dan tuna albakore) di kawasan timur Indonesia.
Musim penangkapan di perairan Laut Banda mencapai puncaknya pada bulan
November.
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan
di Kawasan Barat Indonesia ;Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat
Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi
percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat
rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat
tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis
besar seperti tuna secara umum dilakukan dengan menggunakan alat tangkap
pancing tonda. Jenis ikan yang banyak tertangkap di wilayah ini adalah cakalang
dan madidihang. Hasil analisis data produksi menyebutkan bahwa titik tertinggi
terjadi pada bulan Oktober. Ini berarti, puncak musim penangkapan ikan pelagis
besar dengan menggunakan alat tangkap tonda di perairan barat Sumatera terjadi
pada bulan Oktober. Data dan informasi musim penangkapan sumberdaya ikan
pelagis besar untuk perairan Samudera Hindia di wilayah selatan Jawa dan Nusa
Tenggara diperoleh dari basis penangkapan Pelabuhan Perikanan Nusantara
Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap (Jawa
Tengah), dan Pelabuhan Benoa (Bali).
Di Bali, alat tangkap utama yang
digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang berpangkalan di Benoa adalah
rawai tuna. Namun, masih ada alat lain yang digunakan dalam pemanfataan
sumberdaya ikan pelagis besar yaitu pancing tonda yang dioperasikan dengan
perahu jukung dan diberi motor tempel dengan kekuatan 12 PK.
2.4. Alat tangkap yang digunakan
1.
Rumpon
2.
Purse seine
3.
Jaring insang
4.
Payang
5.
Bagan
BAB III
KESIMPULAN
Analisa daerah penangkapan sangat
diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah
penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya
sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) merupakan jenis
ikan perenang cepat dan termasuk species highly migratory. Suhu optimum sekitar
13°C-29°C dan pada salinitas 25-32 ppt. Ikan tuna mata besar menyebar hampir
diseluruh perairan laut Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the
World. London : Fishing News Book Ltd.
Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species
Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated
Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO
Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.
Dagorn L. Bach P, Josse E. 2000. Movement Patterns of
Large Bigeye Tuna (Thunus obesus) In The Open Ocean, Determined Using
Ultrasonic Telemectry. Marine Blog (2): 36-371
Maury O. 2005 How To Model The Size –Dependent
Vertikal Behavior of Bigeye (Thunus obesus) Tuna In Its Enverionment?
Collect.Vol.Sel. Pap, ICCAT, 57(2): 115-126
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi
Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93
Supadiningsih CN dan Rosana N. 2004 Penentuan Fishing
Ground Tuna dan Cikalang Dengan Teknologi Pengindraan Jauh. Pertemuan Ilmiah I Teknik Geodesi – ITS, Surabaya, 13 Oktober 2004.
Hal 114-118.
Uktoselja JCB.1988. Pengaruh Kedalaman Mata Pancing
Rawai Tuna Terhadap Hasil Tangkap Ikan Tuna. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 49.
http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12975289/daerahpenangkapanikanpelagis.zip.html
: Diakses pada tanggal 18-05-15/22:35
http://www.fishyforum.com/fishysalt/fishyronment/96-musim-penangkapan-ikan-pelagis-besar.html
: Diakses pada tanggal 18-05-1/22:45

