Makalah
ANALISA
DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA
Albacore
(Thunnus
alalunga)
Oleh
AHMADRYADI
1410246019
![]() |
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Untuk
menuju era industrialisasi wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama untuk
pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri, pemukiman,
transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga memiliki
potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang sangat
subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia setelah laut utara, hal ini tentunya
menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya Ikan. Seiring kemajuan zaman,
penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologi yang
digunakan maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa
daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan
gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan
efesien. Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui
terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa
faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya
dan parameter lainnya. Ayodhyoa (1976), mengemukakan bahwa fishing
ground merupakan tempat penangkapan ikan. Pada umumnya semua tempat dimana ikan berada
dan dapat dioperasikan suatu alat tangkap. Klasifikasi daerah penangkapan ikan
sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis
dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan
dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi.
Pengetahuan mengenai penyebaran
tuna sangat penting artinya bagi usaha penangkapannya. Teknologi yang digunakan
dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku
ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena
itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku
ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna,
huhate, handline. pukat cincin, dan jaring insang.
Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa daerah potensial
penangkapan berdasarkan sifat dan tingkah lakunya, khusunya ikan tuna jenis
albacore.
BAB II
PEMBAHASAN
Suatu wilayah perairan laut dapat
dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara
sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan
ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan secara umum
diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut:
a. Daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat)
b.
Daerah penangkapan ikan perairan dasar
Ikan pelagis (termasuk ikan Tuna)
adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan mempunyai
ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan
(schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Ikan
pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk
mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning
ground).
2.1. Taksonomi
Ikan Tuna Albakora
Menurut Saanin (1968), ikan tuna albakora (Albacore)
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Class
: Pisces
Order : Percomorphi
Family : Scomberidae
Genus : Thunnus
Spesies : Thunnus alalunga

Gambar Tuna Albakora / Albacore
(Thunnus alalunga)
Spesies
oseanik yang besar, memiliki ujung posterior yang lebih dalam dibandingkan
dengan jenis tuna lainnya. Jumlah gillrakers adalah 25-31 buah pada
lengkungan pertama. Sirip punggung kedua lebih panjang daripada sirip punggung
pertama; memiliki sirip dada yang sangat panjang dan mencapai pangkal sirip
punggung kedua. Ikan dengan ukuran panjang baku lebih kecil dari 50 cm akan
memiliki pectoral yang secara proporsional lebih kecil daripada tuna yang
lainnya, seperti tuna mata besar (Thunnus obesus). Bagian permukaan dari
hati berlurik dikarenakan oleh jaringan vascular pembuluh darah. Memiliki
gelembung renang, namun tidak terdapat pada ikan dengan ukuran panjang baku
lebih kecil dari 50 cm. Bertulang belakang dengan pangkal ekor berjumlah 18 ditambah
ekor berjumlah 21. Memiliki berkas warna-warni biru yang samar pada bagian sisi
tubuh; sirip punggung pertama berwarna kuning tua, sirip punggung kedua dan
sirip dubur memiliki warna kuning terang, finlet bagian dubur berwarna gelap;
bagian belakang dari sirip ekor berwarna putih (Collette, 1983).
2.2 Tingkah Laku Dan Penyebaran Ikan Tuna
Albakora
Berdasarkan Collete (1983), lokasi
penyebarannya albakora di dunia tersebar pada daerah tropis dan daerah laut
bersuhu sedang termasuk Laut Mediterania. Albakora bermigrasi berdasarkan
kandungan massa air, bukan berdasarkan persilangan batasan suhu dan oksigen.
Albakora melewati jarak yang sangat jauh dan muncul untuk membentuk kelompok
terpisah di berbagai tahap dalam siklus hidupnya (Collette, 1983).
Distribusi kedalaman untuk habitat
albakora di Samudera Pasifik dari permukaan hingga dasar perairan ialah sekitar
380 m dan dipengaruhi oleh struktur panas secara vertikal serta kandungan
oksigen pada massa air. Dengan faktor atau kondisi lingkungan yang sama,
habitat albakora terdapat pada perairan dengan kedalaman 600 m di samudera
Atlantik. Seperti tuna lainnya, albakora membentuk gerombolan ikan dengan
jumlah yang lebih sedikit, sebab unit akan lebih kompak saat terdiri dari ikan
besar. Gerombolan ikan tersebut bisa saja bercampur dengan benda-benda yang
melayang, seperti ganggang laut (Collette, 1983).
2.3 Analisa Daerah Penangkapan Berdasarkan Kondisi
Oseanografi
Albakora termasuk ikan jenis epi- dan
mesopelagic, berlimpah pada bagian permukaan laut dengan suhu 15,6°-19,4°
C
untuk albakora dengan jenis yang lebih
besar terdapat pada perairan lebih dalam dengan suhu 13,5°-25,2°
C. Albakora cenderung berkumpul dan
banyak tertangkap pada daerah pertemuan panas tempat terjadinya upwelling (bidang
kelautan seperti Zona Transisi pada utara Samudera Pasifik). Zona transisi
merupakan daerah utama terjadinya upwelling yang kaya akan sumber
makanan bagi organisme laut namun memiliki kandungan oksigen yang sedikit.
Syarat minimum untuk kandungan oksigen bagi albakora ialah sekitar 2ml/l yaitu
sama dengan yellowfin tuna (Collette, 1983).
Blackburn (1965) vide Nababan
(2008) menyatakan bahwa salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa
jenis tuna berbeda-beda, yaitu 18-38‰ untuk madidihang dan tuna sirip biru,
33-35‰ untuk tuna albakora dan 32-35‰ untuk cakalang. Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan
tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan
migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi
suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok
di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi
musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar menyebar di
perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang
sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan
bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran
sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan
thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat
perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi
oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan, (Nelwan A., 2004).
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan
di Kawasan Timur Indonesia ;
Di kawasan timur Indonesia, puncak
musim penangkapan ikan pelagis besar pada umumnya berkisar pada musim peralihan
I (April, Mei, dan Juni) hingga awal musim timur. Di Maumere (NTT), puncak
musim terjadi pada Februari dan November, yaitu akhir musim barat dan akhir
musim peralihan II. Kisaran
bulan-bulan musim penangkapan ikan pelagis besar sebagai berikut :
1.
Perairan Selat Makassar bagian selatan (Maret-Juli)
2.
Laut Flores (September-Maret)
3.
Laut Banda (September- Maret)
4.
Perairan Aru (September-Maret)
5.
Laut Arafura (Agustus-Mei)
6.
Laut Seram (Agustus-Maret)
7.
Laut Maluku (Agustus-Maret)
8.
Teluk Tomini (Oktober-April)
Perairan Laut Banda yang kedalamannya
mencapai 10.000 m merupakan salah satu daerah penangkapan pelagis besar
(terutama ikan tuna mata besar dan tuna albakore) di kawasan timur Indonesia.
Musim penangkapan di perairan Laut Banda mencapai puncaknya pada bulan
November.
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan
di Kawasan Barat Indonesia ;Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat
Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi
percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat
rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat
tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis
besar seperti tuna secara umum dilakukan dengan menggunakan alat tangkap
pancing tonda. Jenis ikan yang banyak tertangkap di wilayah ini adalah cakalang
dan madidihang. Hasil analisis data produksi menyebutkan bahwa titik tertinggi
terjadi pada bulan Oktober. Ini berarti, puncak musim penangkapan ikan pelagis
besar dengan menggunakan alat tangkap tonda di perairan barat Sumatera terjadi
pada bulan Oktober.
Data dan informasi musim penangkapan
sumberdaya ikan pelagis besar untuk perairan Samudera Hindia di wilayah selatan
Jawa dan Nusa Tenggara diperoleh dari basis penangkapan Pelabuhan Perikanan
Nusantara Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap
(Jawa Tengah), dan Pelabuhan Benoa (Bali).
Di Bali, alat tangkap utama yang
digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang berpangkalan di Benoa adalah
rawai tuna. Namun, masih ada alat lain yang digunakan dalam pemanfataan
sumberdaya ikan pelagis besar yaitu pancing tonda yang dioperasikan dengan
perahu jukung dan diberi motor tempel dengan kekuatan 12 PK.
2.4. Alat tangkap yang digunakan
1.
Rumpon
2.
Purse seine
3.
Jaring insang
4.
Payang
5.
Bagan
BAB III
KESIMPULAN
Analisa daerah penangkapan sangat
diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah
penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya
sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. Ikan tuna albacore termasuk ikan
perenang cepat dan sereing bermigrasi, banyak
ditemukan pada bagian permukaan laut dengan suhu 15,6°-19,4°
C.
DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor :
Yayasan Dewi Sri. 97 hal.
Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species
Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated
Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO
Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi
Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93
Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the
World. London : Fishing News Book Ltd.
http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12975289/daerahpenangkapanikanpelagis.zip.html
: Diakses pada tanggal 18-05-15/22:35
http://www.fishyforum.com/fishysalt/fishyronment/96-musim-penangkapan-ikan-pelagis-besar.html
: Diakses pada tanggal 18-05-1/22:45

Tidak ada komentar:
Posting Komentar