Kamis, 21 Mei 2015

Marine Science

Makalah

ANALISA DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA
Albacore (Thunnus alalunga)



Oleh

AHMADRYADI
1410246019





Image3
 









BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Untuk menuju era industrialisasi wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri, pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang sangat subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia  setelah laut utara, hal ini tentunya menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya Ikan. Seiring kemajuan zaman, penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologi yang digunakan maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan efesien. Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya dan parameter lainnya. Ayodhyoa (1976), mengemukakan bahwa fishing ground merupakan tempat penangkapan ikan.  Pada umumnya semua tempat dimana ikan berada dan dapat dioperasikan suatu alat tangkap. Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi.
Pengetahuan mengenai penyebaran tuna sangat penting artinya bagi usaha penangkapannya. Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna, huhate, handline. pukat cincin, dan jaring insang.
 b. Tujuan
                Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa daerah potensial penangkapan berdasarkan sifat dan tingkah lakunya, khusunya ikan tuna jenis albacore.




BAB II
PEMBAHASAN

Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut:
a. Daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat)
b. Daerah penangkapan ikan perairan dasar
Ikan pelagis (termasuk ikan Tuna) adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan mempunyai ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Ikan pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning ground).

2.1. Taksonomi Ikan Tuna Albakora
Menurut Saanin (1968), ikan tuna albakora (Albacore) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom              : Animalia
Filum                     : Chordata
Class                       : Pisces
Order                    : Percomorphi
Family                   : Scomberidae
Genus                   : Thunnus
Spesies                 : Thunnus alalunga

Hasil gambar untuk ikan tuna albakora

Gambar  Tuna Albakora / Albacore (Thunnus alalunga)
Spesies oseanik yang besar, memiliki ujung posterior yang lebih dalam dibandingkan dengan jenis tuna lainnya. Jumlah gillrakers adalah 25-31 buah pada lengkungan pertama. Sirip punggung kedua lebih panjang daripada sirip punggung pertama; memiliki sirip dada yang sangat panjang dan mencapai pangkal sirip punggung kedua. Ikan dengan ukuran panjang baku lebih kecil dari 50 cm akan memiliki pectoral yang secara proporsional lebih kecil daripada tuna yang lainnya, seperti tuna mata besar (Thunnus obesus). Bagian permukaan dari hati berlurik dikarenakan oleh jaringan vascular pembuluh darah. Memiliki gelembung renang, namun tidak terdapat pada ikan dengan ukuran panjang baku lebih kecil dari 50 cm. Bertulang belakang dengan pangkal ekor berjumlah 18 ditambah ekor berjumlah 21. Memiliki berkas warna-warni biru yang samar pada bagian sisi tubuh; sirip punggung pertama berwarna kuning tua, sirip punggung kedua dan sirip dubur memiliki warna kuning terang, finlet bagian dubur berwarna gelap; bagian belakang dari sirip ekor berwarna putih (Collette, 1983).

2.2 Tingkah Laku Dan Penyebaran Ikan Tuna Albakora
Berdasarkan Collete (1983), lokasi penyebarannya albakora di dunia tersebar pada daerah tropis dan daerah laut bersuhu sedang termasuk Laut Mediterania. Albakora bermigrasi berdasarkan kandungan massa air, bukan berdasarkan persilangan batasan suhu dan oksigen. Albakora melewati jarak yang sangat jauh dan muncul untuk membentuk kelompok terpisah di berbagai tahap dalam siklus hidupnya (Collette, 1983).
Distribusi kedalaman untuk habitat albakora di Samudera Pasifik dari permukaan hingga dasar perairan ialah sekitar 380 m dan dipengaruhi oleh struktur panas secara vertikal serta kandungan oksigen pada massa air. Dengan faktor atau kondisi lingkungan yang sama, habitat albakora terdapat pada perairan dengan kedalaman 600 m di samudera Atlantik. Seperti tuna lainnya, albakora membentuk gerombolan ikan dengan jumlah yang lebih sedikit, sebab unit akan lebih kompak saat terdiri dari ikan besar. Gerombolan ikan tersebut bisa saja bercampur dengan benda-benda yang melayang, seperti ganggang laut (Collette, 1983).

2.3 Analisa Daerah Penangkapan Berdasarkan Kondisi Oseanografi
Albakora termasuk ikan jenis epi- dan mesopelagic, berlimpah pada bagian permukaan laut dengan suhu 15,6°-19,4° C untuk albakora dengan jenis yang lebih besar terdapat pada perairan lebih dalam dengan suhu 13,5°-25,2° C. Albakora cenderung berkumpul dan banyak tertangkap pada daerah pertemuan panas tempat terjadinya upwelling (bidang kelautan seperti Zona Transisi pada utara Samudera Pasifik). Zona transisi merupakan daerah utama terjadinya upwelling yang kaya akan sumber makanan bagi organisme laut namun memiliki kandungan oksigen yang sedikit. Syarat minimum untuk kandungan oksigen bagi albakora ialah sekitar 2ml/l yaitu sama dengan yellowfin tuna (Collette, 1983).
Blackburn (1965) vide Nababan (2008) menyatakan bahwa salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa jenis tuna berbeda-beda, yaitu 18-38‰ untuk madidihang dan tuna sirip biru, 33-35‰ untuk tuna albakora dan 32-35‰ untuk cakalang.  Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan, (Nelwan A., 2004).
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Timur Indonesia ;
Di kawasan timur Indonesia, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar pada umumnya berkisar pada musim peralihan I (April, Mei, dan Juni) hingga awal musim timur. Di Maumere (NTT), puncak musim terjadi pada Februari dan November, yaitu akhir musim barat dan akhir musim peralihan II. Kisaran bulan-bulan musim penangkapan ikan pelagis besar sebagai berikut :
1. Perairan Selat Makassar bagian selatan (Maret-Juli)
2. Laut Flores (September-Maret)
3. Laut Banda (September- Maret)
4. Perairan Aru (September-Maret)
5. Laut Arafura (Agustus-Mei)
6. Laut Seram (Agustus-Maret)
7. Laut Maluku (Agustus-Maret)
8. Teluk Tomini (Oktober-April)
Perairan Laut Banda yang kedalamannya mencapai 10.000 m merupakan salah satu daerah penangkapan pelagis besar (terutama ikan tuna mata besar dan tuna albakore) di kawasan timur Indonesia. Musim penangkapan di perairan Laut Banda mencapai puncaknya pada bulan November.
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Barat Indonesia ;Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar seperti tuna secara umum dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda. Jenis ikan yang banyak tertangkap di wilayah ini adalah cakalang dan madidihang. Hasil analisis data produksi menyebutkan bahwa titik tertinggi terjadi pada bulan Oktober. Ini berarti, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar dengan menggunakan alat tangkap tonda di perairan barat Sumatera terjadi pada bulan Oktober.
Data dan informasi musim penangkapan sumberdaya ikan pelagis besar untuk perairan Samudera Hindia di wilayah selatan Jawa dan Nusa Tenggara diperoleh dari basis penangkapan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap (Jawa Tengah), dan Pelabuhan Benoa (Bali).
Di Bali, alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang berpangkalan di Benoa adalah rawai tuna. Namun, masih ada alat lain yang digunakan dalam pemanfataan sumberdaya ikan pelagis besar yaitu pancing tonda yang dioperasikan dengan perahu jukung dan diberi motor tempel dengan kekuatan 12 PK.
2.4. Alat tangkap yang digunakan
1. Rumpon
2. Purse seine
3. Jaring insang
4. Payang
5. Bagan


BAB III
KESIMPULAN

Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. Ikan tuna albacore termasuk ikan perenang cepat dan sereing bermigrasi, banyak ditemukan pada bagian permukaan laut dengan suhu 15,6°-19,4° C.



DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor : Yayasan Dewi Sri. 97 hal.

Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93

Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the World. London : Fishing News Book Ltd.


http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12975289/daerahpenangkapanikanpelagis.zip.html : Diakses pada tanggal 18-05-15/22:35





Tidak ada komentar:

Posting Komentar