Jumat, 10 Juni 2016

Peran Serta Masarakat Dalam Konservasi Wilayah Pesisir

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA KONSERVASI
DI WILAYAH PESISIR LAUT

Studi kasus





Oleh
AHMADRYADI








PROGRAM STUDI S2 ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN
WILAYAH PESISIR TELUK AMBON DALAM

Di wilayah pesisir Teluk Ambon Dalam (TAD) terdapat ekosistem dan sumber daya alam baik hayati maupun non hayati, yang selama ini dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan protein dan bahan-bahan atau material bangunan. Terdapat kecenderungan pemanfaatan yang bersifat eksploitatif, serta perusakan, dan pencemaran ekosistem dan sumber daya yang makin meningkat, yang tidak menjamin ketersediaan sumber daya untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Degradasi lingkungan dan sumber daya itu terjadi pada kawasan pasang surut (meti), mangrove, lamun, terumbu karang, serta daerah aliran sungai hingga ke arah hulunya .
Pemukiman penduduk yang semakin padat, kondisi topografi daratan yang memilikikemiringan relatif terjal serta arus lalu lintas laut yang semakin padat akan berdampak pada tekanan ekologis perairan TAD. Terdapat berbagai kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir TAD, seperti pelabuhan berbagai jenis kapal niaga dan kapal penangkapan, industri perikanan, pangkalan angkatan laut, budidaya karamba apung, penangkapan ikan, pemukiman penduduk, dan pembangkit listrik tenaga diesel. Memperhatikan perkembangan berbagai kegiatan tersebut yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, serta dampak yang ditimbulkan di perairan TAD, dapat diperkirakan perairan ini akan semakin tertekan dan tercemar.
Indikasi tersebut sudah mulai nampak, yaitu pada beberapa tempat terjadi penyempitan karena proses sedimentasi yang disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan seperti pemukiman, reklamasi, pelabuhan, pusat perdagangan, pasar dan lain-lain, dan hal ini pada akhirnya akan merusak ekosistem di perairan ini seperti mangrove, terumbu karang dan lamun yang akan diikuti oleh menurunnya keanekaragaman biota yang hidup di dalamnya (Pelasula, 2009).
Mengingat sifat alamiah wilayah pesisir dan aktivitas masyarakat pesisir yang dinamis serta kompleks, pembangunan berkelanjutan wilayah pesisir mengharuskan pendekatan secara terpadu, rasional, dan optimal yang mencakup peran serta masyarakat di dalamnya. Selanjutnya pendekatan yang tidak memperhatikan interaksi antara prinsip ekologi dan perilaku (budaya) masyarakat, dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya ketimpangan dalam pengelolaan wilayah pesisir yang berakibat pada perusakan wilayah pesisir. Akar permasalahan ini berasosiasi dengan faktor sosial-ekonomi-budaya dan bio-fisik yang mempengaruhi kondisi wilayah pesisir.
Untuk menjawab pemasalahan tersebut, perlu dilakukan penelitian secara mendalam tentang peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir. Bertolak dari permasalahan yang ada, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: tingkat kepentingan masyarakat pemanfaat pesisir terhadap kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir TAD; faktor-faktor yang membedakan tingkat peran serta masyarakat pemanfaat pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir TAD; serta merumuskan strategi yang paling tepat sebagai upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir (pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan) TAD.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian adalah di Teluk Ambon Dalam. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juli 2011. Populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal di kawasan TAD yang memanfaatkan lahan pesisir secara teratur untuk kegiatan atau usahanya,sedangkan sampel adalah individu yang  menjadi pelaku, terlibat, berperan secara langsung dalam kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir TAD. Penentuan sampel dengan cara proporsional dengan beberapa kategori, yaitu: distribusi jenis pemanfaatan, cluster, dan stratifikasi. Jumlah sampel sebanyak 55 responden yang terdiri atas 8 orang dari kegiatan industri, 30 orang dari kegiatan perikanan, dan 17 orang dari kegiatan ekonomi (pasar). Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, kuesioner, dan studi literatur.
Tabel 1. Analisis Data Diskriptif
Analisis data yang digunakan untuk masyarakat menggunakan análisis diskriptif, dengan manghitung rata-rata (mean) pada setiap pertanyaan yang diberikan kepada responden (Sugiyono, 2002) seperti pada Tabel 1. Sedangkan faktor-faktor yang membedakan tingkat peran serta masyarakat menggunakan análisis diskriminan, dan strategi peran serta masyarakat menggunakan análisis SWOT.

PEMBAHASAN
Tingkat Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Perikanan Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan perikanan dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan perikanan yang ada di wilayah pesisir TAD. Tingginya konsumsi ikan di Kota Ambon merupakan salah satu indikator yang positif terhadap peningkatan permintaan masyarakat (Anonim, 2009). Berdasarkan hal tersebut, maka peran nelayan untuk suplai ikan bagi masyarakat kota Ambon khususnya TAD sangat penting.
Selain itu, semakin penting perhatian nelayan terhadap kondisi permukiman, maka semakin besar upaya nelayan untuk memperbaiki kesan kumuh pada daerah tersebut guna mewujudkankesejahteraan nelayan, sehingga kepentingan nelayan terhadap kegiatan perikanan menjadi tinggi. Semakin pentingnya peran nelayan dan penataan kondisi permukiman nelayan, maka semakin besar pula upaya yang dilakukan oleh nelayan terhadap kegiatan perikanan.
Berdasarkan hasil analisis diskriptif terhadap 2 pertanyaan yang diberikan responden yaitu peran nelayan untuk suplai ikan di wilayah pesisir TAD dan kondisi permukiman nelayan masing masing memiliki skor rata-rata lebih dari 3 yaitu 3,73 dan 3,87 yang berarti memiliki tingkat kepentingan yang tinggi terhadap kegiatan perikanan. Tingginya tingkat kepentingan terhadap kegiatan perikanan menunjukkan kegiatan ini memiliki pengaruh besar terhadap aktifitas ekonomi masyarakat, khususnya nelayan, namun di sisi lain mereka tidak mampu mengembangkan sumber daya perikanan dengan baik. Hal ini sangat berkaitan dengan keterbatasan modal sehingga nelayan tidak dapat berperan secara baik dalam suplai ikan bagi masyarakat pesisir TAD dan sekitarnya.
Selain itu juga karena pencemaran dan sedimentasi mengakibatkan perubahan kualitas perairan TAD sehingga berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan. Anonim (2009) menyatakan banyaknya sedimentasi di TAD yang turun dari darat ke laut dan mengendap dari pinggir pantai mencapai kedalaman 40 hingga 60 cm mengakibatkan tanaman lamun tidak dapat bernafas dengan baik dan berpengaruh pada biota laut lainnya seperti ikan pelagis akan berpindah tempat ke lokasi yang lebih aman. Selain itu, sedimentasi mengakibatkan pedangkalan yang nantinya berdampak terhadap ekosistem pesisir. Biota-biota perairan dangkal kehilangan habitat, padahal biota laut dangkal merupakan sumber makanan utama ikan-ikan di laut. Jika kehilangan makanan, populasi ikan menyusut sehingga jumlah tangkapan nelayan berkurang.
Tingkat Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Industri Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan industri dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan industri yang ada di wilayah pesisir TAD. Industri yang ada di TAD yaitu PLTD Poka, Perusahaan Coldstorage dan PT. ASDP Ambon. Sumber minyak yang mencemari TAD berasal dari PLTD serta yang berasal dari daratan yang masuk melalui beberapa sungai. Kandungan minyak sebesar 39.12 ppm ditemukan di sekitar Galala (Anonim, 2008). Industri yang bergerak di bidang perikanan adalah Coldstorage.
Pada dasarnya coldstorage mengelola masukan yang berupa hasil laut atau perikanan dengan teknik pendinginan dan menghasilkan air buangan yang mengandung bahan tersuspensi, bahan koloid dan bahan organik terlarut dengan konsentrasi yang tinggi (Suratmo, 1995). Limbah cair di kawasan TAD tidak tertangani dengan baik sehingga mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas air dan berdampak terhadap sumber daya pesisir. Hal ini membutuhkan biaya dalam pengelolaan limbahnya, antara lain diperlukan tempat pembuangan yang memenuhi syarat.
Berdasarkan hasil analisis diskriptif diketahui bahwa rata-rata jawaban responden terhadap keberadaan kawasan industri dan kewajiban industri mengolah limbahnya secara baik, masingmasing memiliki skor rata-rata lebih dari 3 yaitu 3,84 dan 3,69.
Dengan demikian kegiatan industri memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Tingginya tingkat kepentingan terhadap kegiatan industri tampak pada kegiatan pemanfaatan industri listrik yang memberikan suplai energi, industri feri berperan sebagai transportasi laut. Selain itu perusahaan coldstorage dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk perikanan dan juga dapat menyerap tenaga kerja. Masyarakat masih berharap banyak terhadap kegiatan industri untuk dapat meningkatkan ekonomi dan memenuhi kebutuhan. Namun di sisi lain kewajiban industri untuk mengolah limbahnya secara baik juga dirasa penting, agar buangan limbah industri tidak mencemari lingkungan pesisir.
Dahuri, Rais, Ginting, & Sitepu (2004), menyatakan penentuan lokasi industri di suatu wilayah pesisir hendaknya harus melalui pengkajian tentang pengaruhnya terhadap lingkungan. Penempatan lokasi untuk kegiatan dan pengembangan industri sebaiknya berada di daerah yang tidak mempunyai nilai ekologis penting. Selain itu, semua jenis industri harus mendirikan fasilitas pengolahan limbah  untuk meminimalkan pengaruhnya terhadap degradasi lingkungan wilayah pesisir. Tingkat Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Ekonomi (Pasar) Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan ekonomi (pasar) dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan ekonomi(pasar) yang ada di wilayah pesisir TAD.
 Berdasarkan hasil analisis diskriptif terhadap keberadaan pasar bagi masyarakat pesisir TAD dan kewajiban pedagang mengelola limbah dengan baik masing-masing memiliki memiliki skor lebih dari 3 yaitu 3,98 dan 3,69, sehingga dapat  disimpulkan kegiatan ekonomi (pasar) di wilayah pesisir TAD memiliki tingkat kepentingan tinggi. Namun di sisi lain, sampah yang dihasilkan oleh aktivitas di pasar tidak dikelola dengan baik dan merupakan sumber pencemaran sehingga sangat berpengaruh terhadap lingkungan dan sumber daya pesisir sekitarnya. Hal ini didukung dengan kurangnya kesadaran dan minimnya peran serta masyarakat tentang penanggulangan sampah, serta terbatasnya sarana pembuangan sampah yang tersedia pasar.
Dahuri, at al (2004), menyatakan bahwa pembuangan limbah pada lahan atas dapat menimbulkan dampak negatif di wilayah pesisir. Hal ini menyebabkan terjadinya sedimentasi dan dibawa oleh aliran sungai ke wilayah pesisir. Pemilihan dan penentuan lokasi pembuangan harus  dilakukan sedemikian rupa dan harus mendapat pengawasan ketat, sehingga dalam operasinya  mampu mencegah terjadinya pencemaran badan air dan merusak lingkungan daerah vital karena daerah vital mempunyai fungsi terhadap stabilitas ekosistem wilayah pesisir.
Tingkat Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Kepelabuhanan Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan kepelabuhanan dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan kepelabuhanan yang ada di wilayah pesisir TAD. Pelabuhan yang ada di TAD umumnya tidak dikelola dengan baik terutama dari aspek penanganan limbah pelabuhan. Dari aspek penataan kawasan berdasarkan analisis ruang kondisi ini tidak efektif. Hal ini akan memberikan tekanan yang kuat terhadap kawasan pesisir TAD (Anonim, 2009).
Berdasarkan hasil analisis diskriptif terhadap 2 pertanyaan yaitu keberadaan dermaga dan kegiatan keluar masuk kapal atau ferry masing-masing memiliki skor lebih dari 3 yaitu 3,40 dan 3,15. Hal ini menunjukkan tingkat kepentingan masyarakat terhadap kegiatan kepelabuhanan tinggi. Kegiatan kepelabuhanan secara umum tidak mengganggu kegiatan yang lain, namun pencemaran di sekitar lokasi pelabuhan perlu diperhatikan agar tidak berdampak terhadap ruang tangkapan nelayan dan tidak mencemari sumber daya pesisir sekitarnya.
Anonim (2008), memaparkan bahwa sumber minyak yang mencemari Teluk Ambon sebagian besar berasal dari hasil buangan kapal speedboat yang masuk, berlabuh, dan penyeberangan dari dan masuk ke teluk, pelabuhan dermaga laut, serta yang berasal dari daratan yang masuk melalui beberapa sungai. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kualitas perairan dan sangat potensial untuk merusak habitat dan kehidupan organisme air, terutama yang bersifat rentan seperti telur dan larva ikan dan udang.
Tingkat Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Pengurugan atau Reklamasi Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan pengurugan atau reklamasi dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan pengurugan atau reklamasi yang ada di wilayah pesisir TAD. Sebagian besar tanggapan responden terhadap kegiatan reklamasi untuk kepentingan permukiman, industri, dan pelabuhan sangat penting.
Berdasarkan hasil analisis diskriptif terhadap kegiatan reklamasi untuk kepentingan pemukiman, industri, dan pelabuhan memiliki skor lebih dari 3 yaitu 3,15. Hal ini menunjukkanpendapat responden terhadap kegiatan pengurugan atau reklamasi cukup tinggi. Kegiatan reklamasi memiliki pengaruh besar dalam memenuhi kebutuhan dan pengembangan kegiatan usaha oleh masyarakat. Namun perlu diperhatikan dampak yang ditimbulkan antara lain meningkatkan laju sedimentasi, sehingga berdampak pada ekosistem sumber daya pesisir dan keterbatasan ruang tangkapan ikan bagi nelayan yang menggantungkan hidupnya di wilayah perairan pesisir.
Anonim (2009), menyatakan bahwa reklamasi memiliki dampak positif maupun negatif bagi masyarakat dan ekosistem pesisir dan laut. Dampak positif kegiatan reklamasi antara lain pada peningkatan kualitas dan nilai ekonomi kawasan pesisir, mengurangi lahan yang dianggap kurang produktif, penambahan wilayah, perlindungan pantai dari erosi, peningkatan kondisi habitat perairan, perbaikan rejim hidraulik kawasan pantai, dan penyerapan tenaga kerja. Reklamasi banyak memberikan keuntungan dalam mengembangkan wilayah. Praktek ini memberikan pilihan penyediaan lahan untuk pemekaran wilayah, penataan daerah pantai, menciptakan alternatif kegiatan dan pengembangan wisata bahari.
Hasil reklamasi dapat menahan gelombang pasang yang mengikis pantai. Dampak negatif dari reklamasi pada lingkungan pesisir meliputi dampak fisik seperti perubahan hidro-oseanografi, erosi pantai, sedimentasi, peningkatan kekeruhan, pencemaran laut, perubahan rejim air tanah, peningkatan potensi banjir dan penggenangan di wilayah pesisir. Dampak biologis berupa terganggunya ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria dan penurunan keanekaragaman hayati. Tingkat Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Penambangan Batu dan Pasir Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan penambangan batu dan pasir dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan penambangan batu dan pasir yang ada di wilayah pesisir TAD. Hasil analisis diskriptif terhadap kegiatan penambangan batu pasir di wilayah pesisir TAD dianggap responden memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dengan skor lebih dari 3 yaitu 3,25. Hal ini disebabkan aktivitas tersebut merupakan salah satu sumber mata pecaharian masyarakat sehingga berpengaruh besar terhadap pendapatan masyarakat, tetapi kegiatan ini menyebabkan erosi dan abrasi sehingga menyebabkan degradasi lingkungan dan pada akhirnya berdampak negatif terhadap ekosistem sumber daya pesisir.
Dengan demikian diperlukan strategi yang dapat memberikan solusi terhadap aktivitas kegiatan penambangan batu dan pasir tersebut. Anonim (2009), memaparkan bahwa dampak dari penambangan batu dan pasir secara liar mengakibatkan abrasi sangat parah, diantaranya berpotensi  meneggelamkan beberapa pulau kecil dan hilangnya vegetasi mangrove di pesisir pantai. Salah satu cara mencegah abrasi dilakukan dengan pelestarian hutan bakau, tidak hanya dilakukan penanaman saja, namun juga pemeliharaan agar tanaman bakau dapat tumbuh dengan baik. Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup tanpa bantuan dari masyarakat. Tingkat Peran serta Masyarakat







Tabel 2. Tahapan Pengelolaan Wilayah Pesisir
Konsep pengelolaan wilayah pesisir mengenal prinsip keseimbangan pembangunan dan konservasi guna mewujudkan pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan. Konsep konservasi ini sebagai upaya untuk memberikan perlindungan bagi sumber daya wilayah pesisir. Sebagian besar masyarakat pemanfaat pesisir Teluk Ambon Dalam memiliki tingkat peran serta rendah terhadap kegiatan konservasi yang hanya melakukan 1 tahap saja, yaitu tahapan implementasi dengan prosentase sebesar 72,7 %. Pada tingkat peran serta sedang dengan prosentase sebesar 27,3 % (Tabel 3) yang hanya melakukan 2 tahap dalam kegiatan konservasi yaitu tahapan implementasi dan pemantauan.
Berdasarkan hasil penelitian, umumnya masyarakat pemanfaat pesisir TAD tidak tergolong tingkat peran serta tinggi yang melakukan 4 tahap pengelolaan yaitu tahap perencanaan, implementasi, pemantauan dan evaluasi. Hal ini tampak pada Tabel 3 yang menunjukkan tingkat peran serta pemanfaat pesisir dalam pengolaan wilayah pesisir TAD tergolong sedang dan rendah.



Tabel 3. Tingkat Peran serta Masyarakat Pemanfaat Pesisir dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam
Tahap implementasi yaitu masyarakat turut berperan serta dalam pelaksanaan program serta menikmati dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan yang dicapai, sedangkan tahap pemantauan, yaitu masyarakat turut berperan serta dalam memantau efektivitas terhadap hasil-hasil pembangunan yang dicapai. Peran serta pemerintah dalam kegiatan atau program konservasi hanya pada kegiatan-kegiatan perencanaan biasanya diwakili oleh Kepala Desa dan Pemerintah Daerah, sedangkan kegiatan lapangan tidak sepenuhnya ditangani sendiri tetapi diserahkan kepada kelompok pelaksana lapangan, sehingga keberhasilannya tergantung masyarakat sekitar lokasi konservasi.
Oleh karena itu pemerintah hendaknya mengupayakan peningkatan peran serta masyarakat melalui perencanaan program yang benar-benar memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.  Peran serta masyarakat dalam semua tahapan mulai dari perencanaan, implementasi, pemantauan, serta evaluasi dalam kegiatan konservasi dapat dimanifestasikan dengan membentuk kelompok atau organisasi masyarakat yang menjadi penyalur peran serta nya. Pembentukan kelompok ini memerlukan inisiator yang dipercaya agar dapat menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam suatu program.
Faktor-Faktor yang Membedakan Kelompok Tingkat Peran serta Masyarakat Pemanfaat Pesisir dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam Peran serta masyarakat dalam 4 tahap pengelolaan wilayah pesisir akan berpengaruh terhadap keberhasilan dalam pembangunan pengelolaan wilayah pesisir. Faktor-faktor yang membedakan kelompok tingkat peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir adalah persepsi masyarakat, pendidikan, pendapatan dan umur.
Berdasarkan hasil analisis diskriminan dengan signifikansi pada tingkat kesalahan 5 % diketahui bahwa terdapat perbedaan secara signifikan skor variabel persepsi masyarakat, pendidikan dan pendapatan antara kelompok tingkat peran serta masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari nilai uji F pada variabel persepsi masyarakat sebesar 77,779 dengan signifikansi 0,000; pendidikan dengan nilai uji F sebesar 6,841 dengan signifikansi sebesar 0,014, sedangkan nilai uji F pada pendapatan sebesar 6,344 dengan signifikansi 0,015. Pada bagian lain, variabel umur tidak signifikan sebesar 0,135 dengan memiliki nilai uji F sebesar 2,308. Tidak signifikannya variabel umur menunjukkan tidak adanya perbedaan variabel umur antara kelompok tingkat peran serta masyarakat sehingga variabel umur tidak berperan dalam membedakan kelompok tingkat peran serta.
Berdasarkan hasil analisis diskriminan terhadap faktor-faktor yang membedakan kelompok tingkat peran serta masyarakat, maka didapatkan persamaan fungsi diskriminan yaitu : Fungsi diksriminan : -2,69 + Ln 2,069 X1 (umur) + Ln 1,355 X2 (pendidikan) – Ln 0,451 X3 (pendapatan) + Ln 3,950 X4 (persepsi pesisir) Berdasarkan persamaan fungsi diskriminan menunjukkan bobot diskriminan yang paling besar adalah persepsi masyarakat tentang pesisir sebesar Ln 3,950 dengan korelasi positif. Hal ini berarti peran serta masyarakat pemanfaat pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir TAD lebih dipengaruhi oleh persepsi. Peningkatan persepsi akan menghasilkan peran serta yang lebih meningkat lagi. Menurut Wirawan (1983), persepsi adalah suatu proses kesadaran seseorang dalam merespon rangsangan yang diperhatikan, diterima, dipahami dan dibuat interpretasi, evaluasi, pemaknaan dan prediksi secara subyektif yang pada gilirannya menentukan perilaku (pemikiran, perasaan, sikap) dan tindakan seseorang. Persepsi seseorang dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau, kebutuhan, dan suasana hati. Persepsi responden tentang pesisir dipengaruhi oleh pengalaman dalam pengelolaan wilayah pesisir (Saptorini, 2003). Keterlibatan seseorang dalam pengelolaan wilayah pesisir mulai dari tahap perencanaan, implementasi, pemantauan sampai evaluasi maka akan mempengaruhi perilaku persepsi seseorang.
Namun, sejauh ini program pengelolaan wilayah pesisir kurang melibatkan masyarakat sebagai pengguna utama sumber daya. Selain itu pemahaman responden mengenai pesisir terhadap sumber daya yang ada lebih mengarah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya tanpa memahami nilai sumber daya dengan mengabaikan dampak ekologis, sehingga pemanfaatan cenderung bersifat eksploitatif, perusakan dan pencemaran ekosistem.
Terbentuknya persepsi mengenai keberadaan sumber daya pesisir memberikan manfaat untuk kelangsungan kehidupannya, maka dalam tindakannya mereka akan berupaya kearah terbentuknya komunitas sumber daya pesisir di daerahnya, selanjutnya apabila mereka telah menikmati secara langsung hasil dari keberadaan sumber daya pesisir tersebut akan mengakibatkan peran serta yang lebih baik lagi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Babo dan Frochlich (1998) menunjukkan bahwa peran serta seseorang menjadi lebih baik lagi jika persepsi orang-orang di Sinjai Timur Sulawesi Selatan mulai melakukan konservasi mangrove setelah memiliki kebutuhan untuk melindungi pantai dan keberlanjutan dalam memetik hasilnya, atau penduduk Timika (Papua) yang menjaga mangrove baik-baik karena di sanalah sumber udang sungai dan Tambelo sebagai makanan mereka.
Peran serta yang tumbuh dari dalam akibat persepsinya yang baik lebih berarti dibandingkan dengan peran serta yang tumbuh sebagai akibat adanya pengaruh dari luar, terlebih lagi apabila peran serta tersebut disertai kesadaran bahwa aktivitasnya sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, persepsi yang berkembang di masyarakat dalam memandang pentingnya kestabilan hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya memandang bahwa keterlibatan masyarakat bukanlah organisasi lingkungan, akan tetapi organisasi keagamaan dengan kemampuan mengarahkan berbagai aktivitas yang tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan.
Organisasi ini memiliki kemampuan untuk menggerakkan masyarakat khususnya dalam menjaga dan memelihara lingkungan, dibanding organisasi lainnya. Bahkan skala menggerakkannya mencakup kalangan remaja sampai dewasa. Organisasi ini mampu mewacanakan pentingnya upaya untuk memelihara lingkungan dan upaya penyelarasan antara aktivitas pembangunan dengan fungsi lingkungan.
Kesamaan persepsi inilah yang mampu membentuk kesadaran dan menggerakkan setiap kalangan tanpa dipengaruhi perbedaan latar belakang, sebab telah terbentuk persamaan persepsi yang mampu mempengaruhi perilaku dalam menjaga lingkungan, khususnya pengelolaan wilayah pesisir. Jika organisasi keagamaan dilibatkan dalam pengelolaan wilayah pesisir maka dapat mendorong masyarakat untuk berperan serta lebih baik lagi. Rendahnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir juga disebabkan  terjadi pergeseran nilai-nilai sosial budaya yang sejak lama berkembang dalam masyarakat dan merupakan budaya leluhur masyarakat Maluku dirasakan sudah mulai memudar. Nilai-nilai budaya tersebut, antara lain penghayatan dan pengalaman sasi sebagai sistem konservasi sumber daya alam.
Persepsi mengenai budaya sasi dianggap sebagai penghambat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, sehingga diabaikan dalam proyek pembangunan. Badan-badan pemerintah masih cenderung mengutamakan segi produksi yang bersifat semu ketimbang segi konservasi. Apabila kebijaksanaan demikian secara terus menerus diterapkan tanpa kebijakan mendalam, cepat atau lambat akan membahayakan kelestarian ekosistem pesisir beserta segala biota asosiasinya. Variabel pendapatan memiliki bobot diskriminan pada persamaan fungsi diskriminan sebesar -Ln 0,451 dengan korelasi negatif. Persamaan tersebut, menunjukkan bahwa dengan meningkatkan pendapatan maka akan menurunkan peran serta. Tingginya pendapatan seseorang identik dengan tingkat konsumsi penduduk dengan gaya hidup masyarkat yang berhubungan dengan tingkat penggunaan produk tertentu. Penggunaan produk oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat tinggi maka tingkat penggunaan produk pun akan tinggi, yang tentu saja akan sangat berpengaruh pada volume sampah yang dihasilkan. Semakin tinggi pendapatan maka tingkat kepentingan terhadap kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir TAD juga meningkat.
Tingginya kepentingan terhadap kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir TAD yang seiring dengan meningkatnya konsumsi penduduk berpengaruh terhadap buangan sampah yang dihasilkan dimana hal ini berkaitan dengan besarnya pendapatan seseorang. Sejauh ini sampah yang dihasilkan tidak terkelola dengan baik, sehingga menimbulkan pencemaran dan berdampak terhadap sumber daya pesisir disekitarnya. Hal ini perlu adanya ketegasan dari pemerintah baik dalam penegakan hukum bagi yang melanggar aturan maupun dengan tersedianya sarana untuk mengatasi kerusakan lingkungan pesisir agar mendorong masyarakat untuk berperan serta lebih baik.
Berdasarkan persamaan fungsi diskriminan terhadap variabel pendidikan memiliki bobot diskriminan sebesar Ln 1,355 dengan korelasi positif. Hal ini berarti variabel pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam membedakan antara kelompok tingkat peran serta masyarakat. Dari fungsi persamaan tersebut didapatkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan meningkatkan peran serta .
Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan penguasaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan masyarakat yang terbatas telah menyebabkan kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya pesisir terbatas pula, sehingga berakibat pada rendahnya kesadaran mereka dalam melestarikan sumber daya pesisir serta kemampuan bersaing dengan pihak luar rendah. Menurut  Sorjani, Achmad, dan Munir (1987), tingkat pendidikan sangat menentukan sebagai alat penyampaian informasi kepada manusia tentang perlunya perubahan dan untuk merangsang penerimaan gagasan baru. Menurut hasil pengamatan dan wawancara dengan sebagian nelayan, pendidikan mereka pada umumnya masih sangat rendah. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam kegiatan perikanan, di mana para nelayan agak sulit menerima teknologi yang baru, juga karena rendahnya pemahaman terhadap ekosistem sekitarnya yang dimanfaatkan, sehingga kegiatan pemanfaatan cenderung merusak lingkungan. Strategi Peningkatan Peran serta Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam.
Tabel 4. Identifikasi Komponen SWOT Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam
Tabel 5. Matrik Strategi Analisis SWOT
Arahan Untuk Pengelolaan
Berdasarkan hasil analisis SWOT, maka sebagai upaya peningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir maka diterapkannya sebuah strategi yang komprehensif yang dikenal dengan konsep pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat (comanagement) untuk menangani isu-isu yang mempengaruhi lingkungan pesisir. Pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat mengharuskan masyarakat memiliki kewenangan cukup dalam pengelolaan dan terakomodasinya kepentingan masyarakat dalam proses pengelolaan. Melalui konsep pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat (co-management), maka beberapa arahan untuk pengelolaan ke depan dikemukakan sebagai berikut:
v  Perlu dilakukan pendampingan masyarakat atau disebut juga motivator, fasilitator, penggerak
masyarakat dalam mengajak masyarakat untuk terlibat aktif di dalam pengelolaan wilayah pesisir. Tujuan dari pendampingan ini adalah untuk membantu menghubungkan masyarakat dengan pihak luar atau berkerja sama seperti tukar-menukar informasi serta memberikan penyuluhan agar masyarakat dibekali pengetahuan, ketrampilan khususnya mengenai lingkungan hidup serta peranannya secara timbal balik dalam pengelolaan wilayah pesisir.
v  Perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya membangun kapasitas dan kemampuan masyarakat untuk secara efisien dan efektif mengelola sumber daya mereka secara berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan dan pengembangan kelembagaan.
v  Penerapan pengelolaan tradisional (kearifan lokal) perlu dikembangkan serta dipadukan ke dalam perencanaan pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat.
v  Pengembangan mata pencaharian yang ditujukan untuk mengurangi tekanan terhadap produktivitas sumber daya yang terbatas. Pengembangan mata pencaharian dapat berupa memperkenalkan (introduksi) mata pencaharian yang dapat dilakukan baik di laut maupun di daratan (misalnya: pemanfaatan lahan/pekarangan sempit, budidaya rumput laut atau ikan), pengembangan serta perbaikan mata pencaharian yang sudah ada, dan upaya kampanye untuk menentang metode-metode pemanfaatan yang destruktif.
v  Semua kegiatan dalam pengelolaan wilayah pesisir harus dijalankan berdasarkan keterpaduan antarsektor, keterpaduan antartingkat pemerintahan, keterpaduan pengelolaan dan ilmu pengetahuan, dan keterpaduan ruang.



KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan pemanfaatan di pesisir Teluk Ambon Dalam memiliki tingkat kepentingan tergolong tinggi yang ditunjukkan dengan besarnya pengaruh kegiatan pemanfaatan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi dampaknya terhadap sumber daya pesisir akibat kegiatan pemanfaatan yang tidak berkelanjutan menjadi ancaman yang serius, sedangkan tingkat peran serta masyarakat pemanfaat pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir rendah yang ditunjukkan dengan keterlibatan masyarakat pada tahap implementasi dan pemantauan.
2. Faktor-faktor pendidikan, persepsi dan pendapatan yang membedakan kelompok tingkat peran serta masyarakat pemanfaat pesisir, sedangkan faktor umur tidak berperan dalam membedakan kelompok tingkat peran serta masyarakat.
3. Strategi meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir adalah dengan pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat (co-management), dengan masyarakat memiliki kewenangan cukup dalam pengelolaan dan terakomodasinya kepentingan masyarakat dalam proses pengelolaan.



REFERENSI
Anonim. (2008). Data dan analisis profil sumber daya kelautan dan perikanan. Ambon: Dinas Kelautan dan Perikanan.

Anonim. (2009). Monitoring teluk Ambon. Ambon: Balitbang Sumber daya Laut P3O LIPI.

Babo, N. R., & Froechlich, J. W. (1998). Community-based mangrove rehabilitation: A lesson learned from East Sinjai. South Sulawesi, Indonesia. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2011, dari http.www.Glomis.com ().

Dahuri, R., Rais, J. Ginting, S.P., & Sitepu, M.J. (2004). Pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Jakarta. PT. Pradnya Paramita.

Pelasula, D.D. (2009). Dampak perubahan lahan atas terhadap ekosistem teluk Ambon. Tesis magister yang tidak dipublikasikan. Universitas Pattimura, Ambon.

Saptorini. (2003). Persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konservasi hutan mangrove. Tesis magister yang tidak dipublikasikan. Universitas Diponogoro, Semarang.

Soerjani, R., Achmad, & Munir, R. (1987). Lingkungan sumber daya alam dan kependudukan dalam pembangunan. Jakarta: UI Press.

Sugiyono. (2002). Statistika untuk penelitian. Bandung: Ikatan Penerbit Indonesia.

Suratmo, F.G. (1995). Analisis mengenai dampak lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Wirawan, S. (1983). Teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Rajawali.

Pengaruh Pemanasan Global Terhadap Ekosistem Mangrove

Tugas Individu

PENGARUH PEMANASAN GLOBAL TERHADAP
EKOSISTEM MANGROVE



Oleh
AHMADRYADI











PROGRAM STUDI S2 ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016






PENDAHULUAN

 Dewasa ini meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir menyebabkan terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global). Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola/distribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau, naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob, dan bencana badai/gelombang yang sering meluluhlantakan sarana-prasarana penopang kehidupan di kawasan pesisir.
                                          Skema terjadinya efek rumah kaca
Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain: pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain: penghasil keperluan rumah tangga dan penghasil keperluan industri. Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya (Barua et al.,2010)
            Sebagai ekosistem yang berada di daerah peralihan antara laut dan darat, mangrove akan merupakan tipe ekosistem yang pertama terkena pengaruh berbagai dampak yang akan terjadi akibat perubahan iklim global ini. Namun  ekosistem mangrove itu sendiri juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu mereduksi CO2 melalui mekanisme “sekuestrasi”, penyerapan karbon dari atmosfer dan penyimpanannya dalam beberapa kompartemen seperti tumbuhan, serasah dan materi organik tanah.
PEMBAHASAN

Respon Mangrove terhadap Peningkatan Konsentrasi CO2 di Atmosfir
Laju fotosintesis tanaman (termasuk mangrove) akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfir. Pada tingkat konsentrasi CO2 yang relatif tinggi, stomata sebagai saluran masuknya CO2 ke daun konduktansinya akan menurun yang menyebabkan pengurangan kehilangan air dari proses transpirasi yang juga melalui stomata tersebut sehingga terjadilah efisiensi penggunaan air oleh tanaman tersebut. Nampaknya tingginya konsentrasi CO2 akan menyebabkan efisiensi penggunaan Nitrogen oleh tanaman seperti yang dilaporkan oleh Hogarth (1999). Oleh karena itu, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir diperkirakan akan menstimulasi pertumbuhan tanaman dalam kondisi keterbatasan ketersediaan air, karbon atau nitrogen, namun pertumbuhan tanaman tidak akan meningkat apabila tingkat salinitas terlalu tinggi untuk lancarnya proses pengambilan air oleh tanaman atau bila ketersediaan beberapa unsur hara terbatas ketersediaannya (Field, 1995). Dengan demikian respon mangrove terhadap peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir bergantung pada trade-off antara peningkatan efisiensi penggunaan air dengan tingkat pengaruh simultan dari proses fisiologi yang berkaitan dengan laju transpirasi dan pertumbuhan.
Sehubungan dengan mangrove, fenomena tersebut di atas secara empiris telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, di antaranya:

(1) Penelitian Farnsworth et. al. (1996) yang melaporkan bahwa semai Rhizophora mangle berumur satu tahun yang ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 yang tinggi (double-ambient, 700 μL.L-1) memperlihatkan biomassa yang lebih besar, batang yang lebih panjang, cabang yang lebih banyak, dan area daun yang lebih luas dibandingkan dengan semai yang ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 ambient (350 μL.L-1). Biomassa yang relatif lebih tinggi ini disebabkan oleh rasio akar terhadap pucuk yang lebih tinggi, lajur pertumbuhan dan laju asimilasi bersih yang lebih cepat. Setelah berumur satu tahun semai yang ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 yang tinggi mampu membentuk organ reproduktif, akar tunjang, lignin pada batang, yang mana tidak diperlihatkan oleh semai yang ditanam pada kondisi CO2 ambient.

(2) Penelitian Ball et. al. (1997) yang melaporkan bahwa laju pertumbuhan, laju fotosintesis, dan efisiensi penggunaan air dari semai R. mucronata dan R. stylosayang ditanam pada kondisi salinitas yang relatif rendah lebih tinggi daripada semai yang ditanam pada kondisi salinitas yang relatif tinggi.
Fenomena ini juga diperkuat oleh penelitian Kusmana et. al. (2010) bahwa semaiR. mucronata yang ditanam pada kondisi salinitas sekitar 10 ppt memperlihatkan riap diameter dan tinggi batang yang relatif lebih tinggi daripada semai yang ditanam pada kondisi salinitas sekitar 28 ppt. Dengan demikian nampaknya efek dari peningkatan konsentrasi CO2 bervariasi dengan kondisi fisik dan kimia habitat dimana mangrove tumbuh seperti dilaporkan oleh Ball and Munns (1992).

(3) Penelitian Snedaker and Araujo (1998) melaporkan bahwa 4 jenis mangrove Florida menunjukkan respon penurunan konduktansi stomata dan transpirasi serta peningkatan laju fotosintesis, efisiensi penggunaan air dan laju pertumbuhan pada kondisi konsentrasi CO2 yang tinggi. Namun, tidak nampak adanya perubahan berarti dari produktifitas primer bersih pada jenis R. mangle, Avicennia germinans, dan Conocarpus erectus, tetapi sebaliknya terjadi penurunan produktifitas primer bersih pada Laguncularia racemosa.

Respon Mangrove terhadap Peningkatan Suhu Udara
Species mangrove mempunyai toleransi yang berbeda terhadap peningkatan suhu udara. Dalam hal ini fotosintesis dan beberapa variabel ekofisiologi mangrove seperti produksi daun yang maksimal terjadi pada tingkat suhu optimal tertentu, dibawah dan diatas suhu tersebut fotosintesis dan produksi daun menurun (Hogarth, 1999).
Penelitian Hutchings dan Saenger (1987) melaporkan bahwa species mangrove Australia umumnya memperlihatkan laju fotosintesis yang maksimum pada suhu antara 21 0C dan 28 0C. A. marina yang tumbuh jauh ke selatan menunjukkan laju fotosintesis yang maksimum pada suhu 20 0C, sedang laju fotosintesis maksimum Xylocarpus yang tersebar di daerah tropika terjadi pada suhu lebih tinggi dari 28 0C. Field (1995) mengemukakan bahwa sedikit peningkatan dalam suhu udara memberikan pengaruh langsung yang relatif kecil terhadap mangrove, namun bila suhu lebih tinggi dari 35 0C, maka akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap struktur akar, pembentukan semai dan proses fotosintesis.
Efek yang lebih luas dari peningkatan suhu adalah modifikasi/perubahan distribusi geografis mangrove dan struktur komunitas, peningkatan keanekaragaman jenis mangrove pada garis lintang yang lebih tinggi dan menstimulasi persebaran mangrove ke wilayah lingkungan salt marsh sub-tropis (Ellison, 1994). Selain itu, peningkatan suhu juga akan berpengaruh terhadap laju pembusukan serasah dan fisiologi serta distribusi geografis fauna mangrove. Fauna yang berasosiasi dengan mangrove akan secara langsung terpengaruh oleh perubahan iklim dan secara tidak langsung oleh perubahan mangrove (Karthiresan and Bingham, 2001).
Species fauna yang toleran terhadap peningkatan suhu (seperti ikan, gastropoda, dan krustase) akan cepat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Namun fauna dengan tubuh yang lunak dan moluska (keong dan kerang) diperkirakan akan menderita dengan adanya kenaikan suhu. Dalam hal ini dampak yang serius akibat perubahan iklim akan terjadi pada fauna yang hidupnya bergantung pada mangrove akibat banyaknya mangrove yang hilang di berbagai belahan dunia.

Respon Mangrove terhadap Naiknya Muka Air Laut
Secara umum, kenaikan muka air laut merupakan dampak dari pemanasan global (global warming) yang melanda seluruh belahan bumi ini. Berdasarkan laporan IPCC (International Panel On Climate Change) bahwa rata - rata suhu permukaan global meningkat 0,3 - 0,6 0C sejak akhir abad 19 dan sampai tahun 2100 suhu bumi diperkirakan akan naik sekitar 1,4 - 5,8 0C (Dahuri, 2002 dan Bratasida, 2002). Naiknya suhu permukaan global menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan bumi sehingga terjadilah kenaikan muka laut (Sea Level Rise). Diperkirakan dari tahun 1999-2100 mendatang kenaikan muka air laut sekitar 1,4-5,8 m (Dahuri, 2002).
Akibat pemanasan global maka air laut akan meningkat karena peningkatan suhu lautan dunia dan mencairnya benua es di Kutub. Respon mangrove terhadap naiknya muka air laut akan bervariasi menurut lokasi dan akan bergantung pada laju kenaikan muka air laut secara lokal dan ketersediaan sedimen sebagai media tempat tumbuhnya mangrove (Semeniuk, 1994; Woodroffe, 1999). Sebagai contoh di Wilayah Carribbean, semai mangrove sangat sensitif terhadap ketersediaan sedimen yang rendah, diperkirakan mangrove di Pulau Koral Caribbean tidak akan survive apabila muka air laut meningkat (Ellison, 1996).
Peningkatan muka air laut akan menyebabkan zona mangrove pinggir laut (seawardmangrove) semakin lama dan dalam tergenang air pasang yang dapat menyebabkan kematian mangrove tersebut, namun jangkauan pasang air laut akan menyebabkan mangrove menyebar jauh ke daratan yang mana akan sekaligus terjadinya pergeseran zonasi dan perubahan komposisi jenis mangrove di sepanjang gradien lingkungan tersebut.
Fenomena ini akan terjadi apabila tidak ada barier (buatan dan alamiah/topografi) yang menghalangi persebaran mangrove tersebut dan/atau lahan daratannya tidak digunakan penduduk untuk berbagai usaha penopang kehidupan, misal lahan pertanian, tambak, sarana-prasarana perumahan dan perkotaan, dan lain-lain. Berdasarkan fakta saat ini di berbagai belahan dunia, perluasan mangrove ke daratan akibat adanya kenaikan muka laut sulit terjadi karena umumnya lahan daratan pesisir di belakang mangrove sudah banyak yang dikonversi ke bentuk landuse lain, akibatnya mangrove akan bertambah sempit atau cenderung hilang sama sekali. Ellison and Stoddart (1991) melaporkan bahwa di wilayah Caribbean dan Pasifik mangrove masih dapat berkembang pada kenaikan muka air laut sekitar 8-9 cm/100 tahun mangrove mengalami stres, dan kenaikan diatas 12 cm/100 tahun mangrove hilang.
Dengan demikian, nampaknya mangrove akan terhindar dari kepunahan apabila laju deposisi sedimen dapat mengimbangi laju kenaikan muka air laut, seperti sering terjadi di pulau-pulau besar dan pulau-pulau oseanik yang relatif tinggi dimana sering terbentuknya delta dari sungai-sungai besar dan adanya pasokan runoff yang cukup dari air hujan dan aliran sungai, atau pada situasi dimana terjadinya deposisi sedimen marine dalam jumlah yang banyak, maka mangrove akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik. Tetapi, sebaliknya pada daerah-daerah gurun seperti di Laut Merah diprediksi mangrove akan hilang dengan adanya kenaikan muka laut. Secara empiris fenomena tersebut di atas dibuktikan oleh hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan oleh beberapa penelitian, di antaranya:
(1) Sayed (1995) melaporkan bahwa semai A. marina yang ditanam pada pot yang direndam dengan level air yang lebih tinggi menunjukkan banyak penutupan pada stomata, kehilangan kecerahan klorofil, dan sedikit penurunan kandungan potensial daun. Namun setelah perendaman pemulihan pertumbuhannya relatif cepat, sehingga yang bersangkutan memprediksi bahwa A. marina dapat mengkolonisasi daratan supratidal bila muka air laut naik.
(2) Ellison and Farnsworth (1997) melaporkan bahwa anakan R. mangle yang berumur 2,5 tahun yang direndam dengan level tinggi air yang lebih tinggi memperlihatkan laju fotosintesis dan pertumbuhan yang lebih rendah, lebih pendek dan lebih ramping, mempunyai cabang dan daun yang lebih sedikit dan tanah tempat tumbuhnya banyak mengandung asam sulfida. Mereka memperkirakan bahwa peningkatan pertumbuhan mangrove akibat peningkatan konsentrasi CO2 diimbangi oleh penurunan pertumbuhan akibat perubahan dalam rejim pasang-surut akibat naiknya muka air laut, seperti juga dikemukakan oleh Ellison and Farnsworth (1997).
3) Ellison and Farnsworth (1997) melaporkan bahwa semai R. mangle berumur satu tahun yang ditanam pada kondisi muka laut yang lebih rendah menunjukkan pertumbuhan yang relatif lebih pendek dan lebih ramping daripada semai dalam kondisi kontrol. Adapun semai yang ditanam pada kondisi muka air laut yang lebih tinggi memperlihatkan pertumbuhan yang lebih cepat daripada semai pada kondisi kontrol. Namun, pada tingkat sapling (menjelang berumur 30 bulan) pertumbuhan menurun secara drastis, sedangkan semai pada kondisi kontrol (tinggi muka air laut ambient) memperlihatkan ukuran lebih besar dan pertumbuhan yang lebih cepat.

Respon Mangrove terhadap Perubahan Rejim Hidrologi atau Pasang Surut
Rejim hidrologi, di antaranya meliputi aspek curah hujan, evapotranspirasi, runoffdan salinitas. Blasco et. al. (1996) menjelaskan bahwa karena mangrove bersifat spesialis dan hidup mendekati batas limitnya, maka mangrove sangat sensitif terhadap terjadinya variasi kecil dalam rejim hidrologi atau pasang surut. Penurunan runoff dan curah hujan akan menyebabkan peningkatan salinitas dan kandungan kadar sulfat dalam air laut, yang mengakibatkan penurunan pertumbuhan mangrove (Snedaker, 1995).

Respon Mangrove terhadap Badai Tropika
Perubahan iklim global melalui peningkatan suhu atmosfir dan terjadinya ekstrim cuaca di berbagai belahan bumi memicu sering terjadinya bencana badai tropis. Respon mangrove terhadap besar dan frekuensi badai tropis bergantung pada komposisi jenis, kerapatan individu, ukuran rata-rata diameter dan tinggi pohon, lebar hutan, serta bentuk tipologi pantai dimana mangrove berada. Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa mangrove dapat meminimalisir daya rusak dari badai gelombang, namun gelombang yang terlalu besar kekuatannya dapat meluluhlantahkan mangrove tersebut. Oleh karena itu, pengaruh badai tropis terhadap mangrove tergantung pada karakteristik lingkungan lokal dimana mangrove berada.

Prediksi Dampak Perubahan Iklim terhadap Mangrove di Indonesia
Perubahan iklim memiliki dampak yang cukup besar bagi Indonesia. Dampak tersebut diantaranya adalah perubahan pola dan distribusi curah hujan, bencana banjir dan tanah longsor, dan naiknya permukaan air laut. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi resiko kehilangan banyak pulau-pulau kecil dan menyempitnya kawasan pesisir akibat naiknya permukaan air laut. Gregory dan Oerlemans (1998) memprediksi suhu udara meningkat sekitar 0,30C dan peningkatan muka air laut global sekitar 6 cm setiap 10 tahun. Susandi et al. (2008) memprediksi kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia hingga tahun 2100 sekitar 1,1 m yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan pulau-pulau kecil seluas 90.260 km2 atau tenggelamnya sekitar 115 buah pulau. Selain itu para ahli telah memperkirakan presipitasi di Asia Tenggara yang akan meningkat sekitar 3,6% di tahun 2020-an, 7,1% di tahun 2050, dan 11,3% di tahun 2080-an.
Nampaknya iklim di Asia Tenggara di masa yang akan datang akan menjadi lebih panas dan lebih basah daripada kondisi saat ini yang memicu terjadinya banjir dan longsor di musim penghujan, dan kekeringan di musim kemarau. Berdasarkan fenomena di atas, maka perubahan iklim global akan menyebabkan hilangnya hutan mangrove yang tumbuh di pulau-pulau kecil seiring dengan tenggelamnya pulau-pulau tersebut. Disamping itu, akan terjadi penyempitan lebar hutan mangrove yang tumbuh di pantai-pantai pulau yang tidak tenggelam tetapi lahan di kawasan pesisir di belakang mangrove banyak diokupasi oleh penduduk. Namun, bagi mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir yang tidak banyak diokupasi oleh penduduk, diperkirakan lebar mangrove akan meluas ke pedalaman.

Respon Genetika mangrove Terhadap Perubahan Iklim Global
Gregory dan Oerlemans (1998) memprediksi suhu udara meningkat sekitar 0,30C dan peningkatan muka air laut global sekitar 6 cm setiap 10 tahun. Susandi et al. (2008) memprediksi kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia hingga tahun 2100 sekitar 1,1 m yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan pulau-pulau kecil seluas 90.260 km2 atau tenggelamnya sekitar 115 buah pulau.
Tenggelamnya beberapa pulau kecil menigkatkan terjadinya isolasi geografis antar pulau tersebut, sehingga menyebabkan terjadinya discontinouitas dalam penyebaran mangrove secara genetik (Dodd and Rafii, 2001). Isolasi tersebut menyebabkan gene flowterhambat, sehingga menyebabkan keanekaragaman genetik menurun.





KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Mangrove memiliki peran ekologi dan ekonomi yang sangat bermanfaat bagi manusia dan keseimbangan lingkungan.
2. Mangrove menunjukkan respon yang berbeda – beda terhadap dampak perubahan iklim global tergantung dari jenis dan kondisi lingkungan lokal tempat mangrove tersebut tumbuh.
3. Perubahan iklim global dapat mengancam keberadaan mangrove di alam, sehingga perlu suatu upaya yang dapat meredam efek negatif dari perubahan iklim global terhadap distribusi mangrove, diantaranya dengan melestarikan keberadaan daratan di sekitar pesisir.













DAFTAR PUSTAKA

Ball, M. C. and R. Munns. 1992. Plant responses to salinity under elevated atmospheric concentrations of CO2. Aust. J. Bot. 40: 515-525.

Ball, M. C., M. J. Cochrane and H. M. Rawson. 1997. Growth and water use of the mangroves Rhizophora apiculata and R. stylosa in response to salinity and humadity under ambient and elevated concentrations of atmospheric CO2. Plant, Cell and Environ. 20:1158-1166.

Blasco, F., Saenger, P. and Janodet, E. 1996. Mangroves as indicators of coastal changes.Catena 27 (3-4) 167-178.

Barua, P., Chowadhury and Sarker, S. 2010. Climate change and its Risk Reduction By Mangrove Ecosystem of Bangladesh. Bangladesh Research Publications Journal.Vol. 4. 208-225.

Dodd R. S  and Rafii, Z A. Evolutionary Genetics of Mangroves: Continental Drift to Recent Climate Change. Trees (2002) 16:80–86.

Ellison, A. M. and Farnsworth, E. J. 1997. Simulated sea level change alters anatomy, physiology, drawth, and reproduction of red mangrove (Rhizophora mangle L.).Oecologie 112 (4), 435-446.

Ellison, A. M., Farnsworth, E. J. and Twilley, R. R. 1996. Facultative mutualism between red mangrove and root fawling sponges in Belizeans mangal. Ecology 77 (8), 2431-2444.

Ellison, J. C. 1994. Climate change and sea level rise impacts on mangrove ecosystems. In” Impacts of climate change on ecosystems and species: marine and coastal ecosystems” (J. Pernetta, R. Leemans, D. Elder and S. Humphrey, eds.), pp. 11-30. IUCN, gland.

Ellison, J. C. and Stoddart, D. R. 1991. Mangrove ecosystem collapse during predicted sea level rise: holocene analogues and implications. Journal of coastal research, 7, 151-165.

Farnsworth, E. J. and A. M. Ellison. 1996. Sun-shade adaptability of the red mangrove, Rhizophora mangle (Rhizophoraceae): changes through ontogeny at several levels of biological organisation. Amer. J. Bot. 83: 1131-1143. Field, C. D. 1995. Impact of expected climate change on mangroves. Hydrobiologia 295, 75-81.

Hogarth, P. J. 1999. The Biology of Mangroves. Oxford University Press. New York.

Hutchings, P. and Saenger, P. 1987. Ecology of mangroves. University of Queensland Press, St. Lucia.

Kathiresan, K. and B. L. Bingham. 2001. Biology of Mangrove and Mangrove  Ecosystems. Center of Advanced Study in Marine Biology, Annamalai University, Parangipettai 608502 and Huxley College of Environmental Studies, Western Washington University, Bellingham, WA 98225, USA.

Saenger, P. 2002. Mangrove Ecology, Silviculture and Conservation. Kluwer Academic Publisher. Australia.

Sayed, O. H. 1995. Effects of the expected sea level rise on Avicennia marina L.: A case study in Qatar. Qatar University Science Journal. 15 (1), 91-94.

Semeniuk, V. 1994. Predicting the effect of sea level rise on mangrove in northwestern Australia. Journal of coastal research 10 (4), 1050-1076.

Snedaker, S. C. and R. J. Araujo. 1998. Stomatal conductance and gas exchange in four species of Caribbean mangroves exposed to ambient and increased CO2. Mar. Freshw. Res. 49: 325-327. Woodroffe, C. D. 1999. Response of mangrove shorelines to sea level change. Tropics 8 (3), 159-177.