PENGARUH PEMANASAN GLOBAL TERHADAP
EKOSISTEM MANGROVE
Oleh
AHMADRYADI
PROGRAM STUDI S2 ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016
PENDAHULUAN
Dewasa ini meningkatnya
konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan
konsentrasi CO2 di atmosfir menyebabkan terjadinya global
warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu
terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global).
Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap
keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di
antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola/distribusi hujan yang
memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan
pada musim kemarau, naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan
pulau-pulau kecil dan banjir rob, dan bencana badai/gelombang yang sering
meluluhlantakan sarana-prasarana penopang kehidupan di kawasan pesisir.
Skema terjadinya efek rumah kaca
Sebagai salah satu
ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan.
Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan
mangrove antara lain: pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut,
habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan
dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka
biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya
antara lain: penghasil keperluan rumah tangga dan penghasil keperluan industri.
Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi
ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan
(mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun
penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak ekologis akibat
berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies
flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka
panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem
pesisir umumnya (Barua et al.,2010)
Sebagai
ekosistem yang berada di daerah peralihan antara laut dan darat, mangrove akan
merupakan tipe ekosistem yang pertama terkena pengaruh berbagai dampak yang
akan terjadi akibat perubahan iklim global ini. Namun ekosistem mangrove
itu sendiri juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu mereduksi
CO2 melalui mekanisme “sekuestrasi”, penyerapan karbon dari atmosfer dan
penyimpanannya dalam beberapa kompartemen seperti tumbuhan, serasah dan materi
organik tanah.
PEMBAHASAN
Respon
Mangrove terhadap Peningkatan Konsentrasi CO2 di Atmosfir
Laju fotosintesis
tanaman (termasuk mangrove) akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi
CO2 di atmosfir. Pada tingkat konsentrasi CO2 yang relatif tinggi,
stomata sebagai saluran masuknya CO2 ke daun konduktansinya akan menurun
yang menyebabkan pengurangan kehilangan air dari proses transpirasi yang juga
melalui stomata tersebut sehingga terjadilah efisiensi penggunaan air oleh
tanaman tersebut. Nampaknya tingginya konsentrasi CO2 akan menyebabkan
efisiensi penggunaan Nitrogen oleh tanaman seperti yang dilaporkan oleh Hogarth
(1999). Oleh karena itu, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir
diperkirakan akan menstimulasi pertumbuhan tanaman dalam kondisi keterbatasan
ketersediaan air, karbon atau nitrogen, namun pertumbuhan tanaman tidak akan meningkat
apabila tingkat salinitas terlalu tinggi untuk lancarnya proses pengambilan air
oleh tanaman atau bila ketersediaan beberapa unsur hara terbatas
ketersediaannya (Field, 1995). Dengan demikian respon mangrove terhadap
peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir bergantung
pada trade-off antara peningkatan efisiensi penggunaan air dengan
tingkat pengaruh simultan dari proses fisiologi yang berkaitan dengan laju
transpirasi dan pertumbuhan.
Sehubungan dengan
mangrove, fenomena tersebut di atas secara empiris telah dibuktikan oleh
beberapa hasil penelitian, di antaranya:
(1) Penelitian Farnsworth et.
al. (1996) yang melaporkan bahwa semai Rhizophora mangle berumur
satu tahun yang ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 yang tinggi
(double-ambient, 700 μL.L-1) memperlihatkan biomassa yang lebih besar, batang
yang lebih panjang, cabang yang lebih banyak, dan area daun yang lebih luas
dibandingkan dengan semai yang ditanam pada kondisi konsentrasi
CO2 ambient (350 μL.L-1). Biomassa yang relatif lebih tinggi ini
disebabkan oleh rasio akar terhadap pucuk yang lebih tinggi, lajur pertumbuhan
dan laju asimilasi bersih yang lebih cepat. Setelah berumur satu tahun semai
yang ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 yang tinggi mampu membentuk
organ reproduktif, akar tunjang, lignin pada batang, yang mana tidak
diperlihatkan oleh semai yang ditanam pada kondisi CO2 ambient.
(2) Penelitian Ball et.
al. (1997) yang melaporkan bahwa laju pertumbuhan, laju fotosintesis, dan
efisiensi penggunaan air dari semai R. mucronata dan R.
stylosayang ditanam pada kondisi salinitas yang relatif rendah lebih tinggi
daripada semai yang ditanam pada kondisi salinitas yang relatif tinggi.
Fenomena ini juga
diperkuat oleh penelitian Kusmana et. al. (2010) bahwa semaiR.
mucronata yang ditanam pada kondisi salinitas sekitar 10 ppt
memperlihatkan riap diameter dan tinggi batang yang relatif lebih tinggi
daripada semai yang ditanam pada kondisi salinitas sekitar 28 ppt. Dengan
demikian nampaknya efek dari peningkatan konsentrasi CO2 bervariasi dengan
kondisi fisik dan kimia habitat dimana mangrove tumbuh seperti dilaporkan oleh
Ball and Munns (1992).
(3) Penelitian Snedaker and Araujo
(1998) melaporkan bahwa 4 jenis mangrove Florida menunjukkan respon penurunan
konduktansi stomata dan transpirasi serta peningkatan laju fotosintesis,
efisiensi penggunaan air dan laju pertumbuhan pada kondisi konsentrasi CO2 yang
tinggi. Namun, tidak nampak adanya perubahan berarti dari produktifitas primer
bersih pada jenis R. mangle, Avicennia germinans, dan Conocarpus
erectus, tetapi sebaliknya terjadi penurunan produktifitas primer bersih
pada Laguncularia racemosa.
Respon
Mangrove terhadap Peningkatan Suhu Udara
Species mangrove
mempunyai toleransi yang berbeda terhadap peningkatan suhu udara. Dalam hal ini
fotosintesis dan beberapa variabel ekofisiologi mangrove seperti produksi daun
yang maksimal terjadi pada tingkat suhu optimal tertentu, dibawah dan diatas
suhu tersebut fotosintesis dan produksi daun menurun (Hogarth, 1999).
Penelitian Hutchings
dan Saenger (1987) melaporkan bahwa species mangrove Australia umumnya
memperlihatkan laju fotosintesis yang maksimum pada suhu antara 21 0C dan
28 0C. A. marina yang tumbuh jauh ke selatan menunjukkan laju
fotosintesis yang maksimum pada suhu 20 0C, sedang laju fotosintesis
maksimum Xylocarpus yang tersebar di daerah tropika terjadi pada suhu lebih
tinggi dari 28 0C. Field (1995) mengemukakan bahwa sedikit peningkatan
dalam suhu udara memberikan pengaruh langsung yang relatif kecil terhadap
mangrove, namun bila suhu lebih tinggi dari 35 0C, maka akan memberikan
pengaruh yang kurang baik terhadap struktur akar, pembentukan semai dan proses
fotosintesis.
Efek yang lebih luas
dari peningkatan suhu adalah modifikasi/perubahan distribusi geografis mangrove
dan struktur komunitas, peningkatan keanekaragaman jenis mangrove pada garis
lintang yang lebih tinggi dan menstimulasi persebaran mangrove ke wilayah
lingkungan salt marsh sub-tropis (Ellison, 1994). Selain itu,
peningkatan suhu juga akan berpengaruh terhadap laju pembusukan serasah dan
fisiologi serta distribusi geografis fauna mangrove. Fauna yang berasosiasi
dengan mangrove akan secara langsung terpengaruh oleh perubahan iklim dan
secara tidak langsung oleh perubahan mangrove (Karthiresan and Bingham, 2001).
Species fauna yang
toleran terhadap peningkatan suhu (seperti ikan, gastropoda, dan krustase) akan
cepat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Namun fauna dengan tubuh yang
lunak dan moluska (keong dan kerang) diperkirakan akan menderita dengan adanya
kenaikan suhu. Dalam hal ini dampak yang serius akibat perubahan iklim akan
terjadi pada fauna yang hidupnya bergantung pada mangrove akibat banyaknya
mangrove yang hilang di berbagai belahan dunia.
Respon
Mangrove terhadap Naiknya Muka Air Laut
Secara umum, kenaikan
muka air laut merupakan dampak dari pemanasan global (global warming) yang
melanda seluruh belahan bumi ini. Berdasarkan laporan IPCC (International Panel
On Climate Change) bahwa rata - rata suhu permukaan global meningkat 0,3 -
0,6 0C sejak akhir abad 19 dan sampai tahun 2100 suhu bumi diperkirakan
akan naik sekitar 1,4 - 5,8 0C (Dahuri, 2002 dan Bratasida, 2002). Naiknya
suhu permukaan global menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan bumi
sehingga terjadilah kenaikan muka laut (Sea Level Rise). Diperkirakan dari
tahun 1999-2100 mendatang kenaikan muka air laut sekitar 1,4-5,8 m (Dahuri,
2002).
Akibat pemanasan global
maka air laut akan meningkat karena peningkatan suhu lautan dunia dan
mencairnya benua es di Kutub. Respon mangrove terhadap naiknya muka air laut
akan bervariasi menurut lokasi dan akan bergantung pada laju kenaikan muka air
laut secara lokal dan ketersediaan sedimen sebagai media tempat tumbuhnya
mangrove (Semeniuk, 1994; Woodroffe, 1999). Sebagai contoh di Wilayah
Carribbean, semai mangrove sangat sensitif terhadap ketersediaan sedimen yang
rendah, diperkirakan mangrove di Pulau Koral Caribbean tidak
akan survive apabila muka air laut meningkat (Ellison, 1996).
Peningkatan muka air
laut akan menyebabkan zona mangrove pinggir laut (seawardmangrove) semakin lama
dan dalam tergenang air pasang yang dapat menyebabkan kematian mangrove
tersebut, namun jangkauan pasang air laut akan menyebabkan mangrove menyebar
jauh ke daratan yang mana akan sekaligus terjadinya pergeseran zonasi dan
perubahan komposisi jenis mangrove di sepanjang gradien lingkungan tersebut.
Fenomena ini akan
terjadi apabila tidak ada barier (buatan dan alamiah/topografi) yang
menghalangi persebaran mangrove tersebut dan/atau lahan daratannya tidak
digunakan penduduk untuk berbagai usaha penopang kehidupan, misal lahan
pertanian, tambak, sarana-prasarana perumahan dan perkotaan, dan lain-lain.
Berdasarkan fakta saat ini di berbagai belahan dunia, perluasan mangrove ke
daratan akibat adanya kenaikan muka laut sulit terjadi karena umumnya lahan
daratan pesisir di belakang mangrove sudah banyak yang dikonversi ke
bentuk landuse lain, akibatnya mangrove akan bertambah sempit atau
cenderung hilang sama sekali. Ellison and Stoddart (1991) melaporkan bahwa di
wilayah Caribbean dan Pasifik mangrove masih dapat berkembang pada kenaikan
muka air laut sekitar 8-9 cm/100 tahun mangrove mengalami stres, dan kenaikan
diatas 12 cm/100 tahun mangrove hilang.
Dengan demikian,
nampaknya mangrove akan terhindar dari kepunahan apabila laju deposisi sedimen
dapat mengimbangi laju kenaikan muka air laut, seperti sering terjadi di
pulau-pulau besar dan pulau-pulau oseanik yang relatif tinggi dimana sering
terbentuknya delta dari sungai-sungai besar dan adanya
pasokan runoff yang cukup dari air hujan dan aliran sungai, atau pada
situasi dimana terjadinya deposisi sedimen marine dalam jumlah yang banyak,
maka mangrove akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik. Tetapi, sebaliknya
pada daerah-daerah gurun seperti di Laut Merah diprediksi mangrove akan hilang
dengan adanya kenaikan muka laut. Secara empiris fenomena tersebut di atas
dibuktikan oleh hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan oleh beberapa
penelitian, di antaranya:
(1) Sayed (1995) melaporkan bahwa
semai A. marina yang ditanam pada pot yang direndam dengan level air
yang lebih tinggi menunjukkan banyak penutupan pada stomata, kehilangan
kecerahan klorofil, dan sedikit penurunan kandungan potensial daun. Namun
setelah perendaman pemulihan pertumbuhannya relatif cepat, sehingga yang
bersangkutan memprediksi bahwa A. marina dapat mengkolonisasi daratan
supratidal bila muka air laut naik.
(2) Ellison and Farnsworth (1997)
melaporkan bahwa anakan R. mangle yang berumur 2,5 tahun yang
direndam dengan level tinggi air yang lebih tinggi memperlihatkan laju
fotosintesis dan pertumbuhan yang lebih rendah, lebih pendek dan lebih ramping,
mempunyai cabang dan daun yang lebih sedikit dan tanah tempat tumbuhnya banyak
mengandung asam sulfida. Mereka memperkirakan bahwa peningkatan pertumbuhan
mangrove akibat peningkatan konsentrasi CO2 diimbangi oleh penurunan
pertumbuhan akibat perubahan dalam rejim pasang-surut akibat naiknya muka air
laut, seperti juga dikemukakan oleh Ellison and Farnsworth (1997).
3) Ellison and Farnsworth (1997)
melaporkan bahwa semai R. mangle berumur satu tahun yang ditanam pada
kondisi muka laut yang lebih rendah menunjukkan pertumbuhan yang relatif lebih
pendek dan lebih ramping daripada semai dalam kondisi kontrol. Adapun semai
yang ditanam pada kondisi muka air laut yang lebih tinggi memperlihatkan
pertumbuhan yang lebih cepat daripada semai pada kondisi kontrol. Namun, pada
tingkat sapling (menjelang berumur 30 bulan) pertumbuhan menurun secara
drastis, sedangkan semai pada kondisi kontrol (tinggi muka air laut ambient)
memperlihatkan ukuran lebih besar dan pertumbuhan yang lebih cepat.
Respon
Mangrove terhadap Perubahan Rejim Hidrologi atau Pasang Surut
Rejim hidrologi, di
antaranya meliputi aspek curah hujan, evapotranspirasi, runoffdan
salinitas. Blasco et. al. (1996) menjelaskan bahwa karena mangrove
bersifat spesialis dan hidup mendekati batas limitnya, maka mangrove sangat
sensitif terhadap terjadinya variasi kecil dalam rejim hidrologi atau pasang
surut. Penurunan runoff dan curah hujan akan menyebabkan peningkatan salinitas
dan kandungan kadar sulfat dalam air laut, yang mengakibatkan penurunan
pertumbuhan mangrove (Snedaker, 1995).
Respon
Mangrove terhadap Badai Tropika
Perubahan iklim global
melalui peningkatan suhu atmosfir dan terjadinya ekstrim cuaca di berbagai
belahan bumi memicu sering terjadinya bencana badai tropis. Respon mangrove terhadap
besar dan frekuensi badai tropis bergantung pada komposisi jenis, kerapatan
individu, ukuran rata-rata diameter dan tinggi pohon, lebar hutan, serta bentuk
tipologi pantai dimana mangrove berada. Banyak hasil penelitian membuktikan
bahwa mangrove dapat meminimalisir daya rusak dari badai gelombang, namun
gelombang yang terlalu besar kekuatannya dapat meluluhlantahkan mangrove
tersebut. Oleh karena itu, pengaruh badai tropis terhadap mangrove tergantung
pada karakteristik lingkungan lokal dimana mangrove berada.
Prediksi
Dampak Perubahan Iklim terhadap Mangrove di Indonesia
Perubahan iklim
memiliki dampak yang cukup besar bagi Indonesia. Dampak tersebut diantaranya
adalah perubahan pola dan distribusi curah hujan, bencana banjir dan tanah
longsor, dan naiknya permukaan air laut. Sebagai negara kepulauan terbesar di
dunia, Indonesia menghadapi resiko kehilangan banyak pulau-pulau kecil dan
menyempitnya kawasan pesisir akibat naiknya permukaan air laut. Gregory dan
Oerlemans (1998) memprediksi suhu udara meningkat sekitar 0,30C dan peningkatan
muka air laut global sekitar 6 cm setiap 10 tahun. Susandi et
al. (2008) memprediksi kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia
hingga tahun 2100 sekitar 1,1 m yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan
pulau-pulau kecil seluas 90.260 km2 atau tenggelamnya sekitar 115 buah pulau.
Selain itu para ahli telah memperkirakan presipitasi di Asia Tenggara yang akan
meningkat sekitar 3,6% di tahun 2020-an, 7,1% di tahun 2050, dan 11,3% di tahun
2080-an.
Nampaknya iklim di Asia
Tenggara di masa yang akan datang akan menjadi lebih panas dan lebih basah
daripada kondisi saat ini yang memicu terjadinya banjir dan longsor di musim
penghujan, dan kekeringan di musim kemarau. Berdasarkan fenomena di atas, maka
perubahan iklim global akan menyebabkan hilangnya hutan mangrove yang tumbuh di
pulau-pulau kecil seiring dengan tenggelamnya pulau-pulau tersebut. Disamping
itu, akan terjadi penyempitan lebar hutan mangrove yang tumbuh di pantai-pantai
pulau yang tidak tenggelam tetapi lahan di kawasan pesisir di belakang mangrove
banyak diokupasi oleh penduduk. Namun, bagi mangrove yang tumbuh di kawasan
pesisir yang tidak banyak diokupasi oleh penduduk, diperkirakan lebar mangrove
akan meluas ke pedalaman.
Respon
Genetika mangrove Terhadap Perubahan Iklim Global
Gregory dan Oerlemans
(1998) memprediksi suhu udara meningkat sekitar 0,30C dan peningkatan muka air
laut global sekitar 6 cm setiap 10 tahun. Susandi et al. (2008)
memprediksi kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia hingga tahun 2100
sekitar 1,1 m yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan pulau-pulau kecil
seluas 90.260 km2 atau tenggelamnya sekitar 115 buah pulau.
Tenggelamnya beberapa
pulau kecil menigkatkan terjadinya isolasi geografis antar pulau tersebut,
sehingga menyebabkan terjadinya discontinouitas dalam penyebaran mangrove
secara genetik (Dodd and Rafii, 2001). Isolasi tersebut menyebabkan gene
flowterhambat, sehingga menyebabkan keanekaragaman genetik menurun.
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa :
1. Mangrove memiliki peran ekologi dan
ekonomi yang sangat bermanfaat bagi manusia dan keseimbangan lingkungan.
2. Mangrove menunjukkan respon yang
berbeda – beda terhadap dampak perubahan iklim global tergantung dari jenis dan
kondisi lingkungan lokal tempat mangrove tersebut tumbuh.
3. Perubahan iklim global dapat
mengancam keberadaan mangrove di alam, sehingga perlu suatu upaya yang dapat
meredam efek negatif dari perubahan iklim global terhadap distribusi mangrove,
diantaranya dengan melestarikan keberadaan daratan di sekitar pesisir.
DAFTAR
PUSTAKA
Ball,
M. C. and R. Munns. 1992. Plant responses to salinity under elevated
atmospheric concentrations of CO2. Aust. J. Bot. 40: 515-525.
Ball,
M. C., M. J. Cochrane and H. M. Rawson. 1997. Growth and water use of the
mangroves Rhizophora apiculata and R. stylosa in response to salinity and
humadity under ambient and elevated concentrations of atmospheric
CO2. Plant, Cell and Environ. 20:1158-1166.
Blasco,
F., Saenger, P. and Janodet, E. 1996. Mangroves as indicators of coastal
changes.Catena 27 (3-4) 167-178.
Barua,
P., Chowadhury and Sarker, S. 2010. Climate change and its Risk Reduction By
Mangrove Ecosystem of Bangladesh. Bangladesh Research Publications Journal.Vol.
4. 208-225.
Dodd
R. S and Rafii, Z A. Evolutionary Genetics of Mangroves: Continental
Drift to Recent Climate Change. Trees (2002) 16:80–86.
Ellison,
A. M. and Farnsworth, E. J. 1997. Simulated sea level change alters anatomy,
physiology, drawth, and reproduction of red mangrove (Rhizophora
mangle L.).Oecologie 112 (4), 435-446.
Ellison,
A. M., Farnsworth, E. J. and Twilley, R. R. 1996. Facultative mutualism between
red mangrove and root fawling sponges in Belizeans mangal. Ecology 77
(8), 2431-2444.
Ellison,
J. C. 1994. Climate change and sea level rise impacts on mangrove ecosystems.
In” Impacts of climate change on ecosystems and species: marine and coastal
ecosystems” (J. Pernetta, R. Leemans, D. Elder and S. Humphrey, eds.), pp.
11-30. IUCN, gland.
Ellison,
J. C. and Stoddart, D. R. 1991. Mangrove ecosystem collapse during predicted
sea level rise: holocene analogues and implications. Journal of coastal
research, 7, 151-165.
Farnsworth,
E. J. and A. M. Ellison. 1996. Sun-shade adaptability of the red mangrove,
Rhizophora mangle (Rhizophoraceae): changes through ontogeny at several levels
of biological organisation. Amer. J. Bot. 83: 1131-1143. Field, C. D. 1995.
Impact of expected climate change on mangroves. Hydrobiologia 295,
75-81.
Hogarth,
P. J. 1999. The Biology of Mangroves. Oxford University Press. New York.
Hutchings,
P. and Saenger, P. 1987. Ecology of mangroves. University of Queensland Press,
St. Lucia.
Kathiresan,
K. and B. L. Bingham. 2001. Biology of Mangrove and Mangrove Ecosystems.
Center of Advanced Study in Marine Biology, Annamalai University, Parangipettai
608502 and Huxley College of Environmental Studies, Western Washington
University, Bellingham, WA 98225, USA.
Saenger,
P. 2002. Mangrove Ecology, Silviculture and Conservation. Kluwer Academic
Publisher. Australia.
Sayed,
O. H. 1995. Effects of the expected sea level rise on Avicennia
marina L.: A case study in Qatar. Qatar University Science
Journal. 15 (1), 91-94.
Semeniuk,
V. 1994. Predicting the effect of sea level rise on mangrove in northwestern
Australia. Journal of coastal research 10 (4), 1050-1076.
Snedaker,
S. C. and R. J. Araujo. 1998. Stomatal conductance and gas exchange in four
species of Caribbean mangroves exposed to ambient and increased CO2. Mar.
Freshw. Res. 49: 325-327. Woodroffe, C. D. 1999. Response of mangrove
shorelines to sea level change. Tropics 8 (3), 159-177.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar