Sabtu, 30 Mei 2015

Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tuna Mata Besar (thunnus obesus)

Makalah

ANALISA DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA
Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)



Oleh

AHMADRYADI
1410246019





Image3
 













PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) dan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah AnalisaDaerah Penangkapan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
    Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.








                                                                                                                                        Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Untuk menuju era industrialisasi wilayah pesisir dan laut menjadi perioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis, agroindustri, pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Dalam bidang penangkapan, Indonesia juga memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selat malaka merupakan perairan yang sangat subur dan merupakan perairan dengan potensi terbaik kedua didunia  setelah laut utara, hal ini tentunya menjadikan negara kita kaya dengan sumberdaya Ikan. Seiring kemajuan zaman, penangkapan juga mengalami kemajuan dari segi cara atau teknologi yang digunakan maupun dari analisa daerah penangkapannya.
Analisa daerah penangkapan diperlukan untuk memberikan informasi akurat keberadaan gerombolan ikan, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara efektif dan efesien. Untuk menganalisa daerah penangkapan ikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang tingkah laku ikan dan reakasinya terhadap beberpa faktor oseanografi yang meliputi beberpa parameter seperti suhu, arus, cahaya dan parameter lainnya. Ayodhyoa (1976), mengemukakan bahwa fishing ground merupakan tempat penangkapan ikan.  Pada umumnya semua tempat dimana ikan berada dan dapat dioperasikan suatu alat tangkap. Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi.
Sumberdaya ikan tuna merupakan salah satu komuditas ekspor andalan Indonesia khusunya dibidang perikanan laut. Pengetahuan mengenai penyebaran tuna sangat penting artinya bagi usaha penangkapan. Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran serta memperhatikan beberapa faktor oseanografi yang mempengaruhi pola penyebarannya.

b. Tujuan
                Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa daerah potensial penangkapan berdasarkan sifat dan tingkah lakunya, khusunya ikan mata besar (Thunnus obesus).





BAB II
PEMBAHASAN

Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut:
a. Daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat)
b. Daerah penangkapan ikan perairan dasar
Ikan pelagis (termasuk ikan Tuna) adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan mempunyai ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Ikan pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning ground).

2.1 Taksonomi Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
Menurut Saanin (1968), ikan Tuna Mata Besar (Bigeye tuna) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom              : Animalia
Class                      : Pisces
Order                     : Percomorphi
Family                   : Scomberidae                 
Genus                   : Thunnus
Spesies                 : Thunnus obesus

Tuna mata besar mempunyai tubuh fusiform, sangat besar dan seluruhnya tertutup dengan sisik agak membesar, terutama pada bagian korselet kepala dan mata berukuran besar. Sirip dada panjang, mengarah ke belakang dan dapat mencapai bagian bawah dari sirip punggung pertama, sedang pada ikan yang telah tua hampir melampaui permukaan sirip punggung kedua. Sirip punggung kedua dan sirip dubur lebih tinggi sedikit dari sirip punggung pertama. Kedua warna sirip pungung berwarna biru keabu-abuan dengan sirip dada berwarna hitam pada sisi atasnya, sedang sisi bawah keabu-abuan. Warna punggung hitam keabu-abuan, bagian sisi dan perut putih keperak-perakkan (Nakamura, 1969 vide Syahreza, 1995).
                Gambar Ikan Tuna Mata Besar (Thunnus obesus)
2.2 Tingkah Laku Dan Penyebaran Ikan Tuna Mata Besar
Ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) hidup diperairan tropis sampai subtropis. Ikan ini merupakan ikan perenang cepat dan hidup bergerombol (schooling) sewaktu mencari makan. Kecepatan renang ikan dapat mencapi 50 km/jam, kemampuan renang ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyebarannya dapat meliputi skala ruang (wilayah geografis) yang cukup luas, termasuk diantaranya spesies yang dapat menyebar dan bermigrasi lintas samudra (highly migratory, (Supadiningsih dan Rosana 2004). Tuna mata besar bersifat epipelagik, mesopelagik berada pada permukaan sampai kedalaman 250 m. Suhu dan kedalaman thermoklin menjadi faktor utama distribusi vertikal dan horizontal ikan tuna mata besar (Maury 2005).
Penyebaran ikan tuna mata besar di Dunia yaitu diperairan subtropis dan tropis Samudra Pacifik, India dan Atlantik, tetapi tidak ditemukan di laut Medeterenia. Di Indonesia, daerah penyebaran tuna termasuk tuna mata besar secara horizontal meliputi perairan barat dan selatan Sumatra, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Laut Banda dan sekitarnya, Laut Sulawesi dan periaran barat Papua. Semua jenis ikan tuna terdapat di Indonesia kecuali ikan tuna sirip biru dan sirip hitam (Oktolseja, 1988). Penyebaran di perairan Indonesia yaitu pada daerah antara 15° LU-15° LS, melimpah pada lintang 0° -15°  LS (FAO vide Syahreza, 1995).  Menurut Sumadhiharja (1971) vide Syahreza (1995), daerah penangkapan tuna yang baik adalah sebagai berikut :
1.       Tempat pertemuan arus dari daerah perairan sempit dengan laut dalam atau daerah karang tebing, merupakan daerah penangkapan laut dalam;
2.       Tempat-tempat terdapatnya arus yang mengalir dengan cepat atau tempat yang ada rintangan seperti karang, pulau, dan tebing.
3.       Tempat-tempat terjadinya konvergen atau divergensi diantara arus yang berdekatan.

2.3 Kondisi Oseanografi Yang Mempengaruhi Penyebaran Ikan Tuna Mata Besar dan Analisa Waktu Penangkapan

 Berkaitan dengan letak geografis Indonesia yang beriklim tropis, maka dapat dikatakan bahwa lingkungan perairannya relatif stabil sepanjang tahun misal pada kedalaman 100 m sebaran temperatur permukaan ± 20-29°  C, kadar garam permukaan ± 34‰, dan kandungan 02-nya 3-4 ml/l. Oleh sebab itu musim penangkapan tuna pada dasarnya dapat dilakukan sepanjang tahun (Widana, 1991 vide Syahreza, 1995).
Salinitas perairan yang disukai ikan tuna mata besar berkisar 32-25 ptt atau diperairan oceanik. Habitat ikan tuna mata besar didaerah perairan dengan suhu 13°C-29°C. Ikan ini mempunyai pola tingkah laku yang khas berdasarkan kedalaman, yaitu pada malam hari berada dilapisan permukaan pada kedalaman kira-kira 50 m dan pada siang hari dapat menyelam hingga kedalaman 500m ( Dagorn et al 2000, Gunn dan Block 2001).
Blackburn (1965) vide Nababan (2008) menyatakan bahwa salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa jenis tuna berbeda-beda, yaitu 18-38‰ untuk madidihang dan tuna sirip biru, 33-35‰ untuk tuna albakora dan 32-35‰ untuk cakalang.  Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar, termasuk tuna mata besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan, (Nelwan A., 2004).
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Timur Indonesia ; Di kawasan timur Indonesia, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar pada umumnya berkisar pada musim peralihan I (April, Mei, dan Juni) hingga awal musim timur. Di Maumere (NTT), puncak musim terjadi pada Februari dan November, yaitu akhir musim barat dan akhir musim peralihan II.
Kisaran bulan-bulan musim penangkapan ikan pelagis besar sebagai berikut :
1. Perairan Selat Makassar bagian selatan (Maret-Juli)
2. Laut Flores (September-Maret)
3. Laut Banda (September- Maret)
4. Perairan Aru (September-Maret)
5. Laut Arafura (Agustus-Mei)
6. Laut Seram (Agustus-Maret)
7. Laut Maluku (Agustus-Maret)
8. Teluk Tomini (Oktober-April)
Perairan Laut Banda yang kedalamannya mencapai 10.000 m merupakan salah satu daerah penangkapan pelagis besar (terutama ikan tuna mata besar dan tuna albakore) di kawasan timur Indonesia. Musim penangkapan di perairan Laut Banda mencapai puncaknya pada bulan November.
Musim penangkapan Ikan Pelagis Besar Wilayah Pengelolan Perikanan di Kawasan Barat Indonesia ;Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan barat Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar seperti tuna secara umum dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda. Jenis ikan yang banyak tertangkap di wilayah ini adalah cakalang dan madidihang. Hasil analisis data produksi menyebutkan bahwa titik tertinggi terjadi pada bulan Oktober. Ini berarti, puncak musim penangkapan ikan pelagis besar dengan menggunakan alat tangkap tonda di perairan barat Sumatera terjadi pada bulan Oktober. Data dan informasi musim penangkapan sumberdaya ikan pelagis besar untuk perairan Samudera Hindia di wilayah selatan Jawa dan Nusa Tenggara diperoleh dari basis penangkapan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap (Jawa Tengah), dan Pelabuhan Benoa (Bali).
Di Bali, alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar yang berpangkalan di Benoa adalah rawai tuna. Namun, masih ada alat lain yang digunakan dalam pemanfataan sumberdaya ikan pelagis besar yaitu pancing tonda yang dioperasikan dengan perahu jukung dan diberi motor tempel dengan kekuatan 12 PK.

2.4. Alat tangkap yang digunakan
1. Rumpon
2. Purse seine
3. Jaring insang
4. Payang
5. Bagan



BAB III
KESIMPULAN

Analisa daerah penangkapan sangat diperlukan agar penangkapan bisa lebih efektif dan efisien, analisa daerah penangkapan biasanya dilakukan dengan mempelajari sifat dan tingkah lakunya sehingga bisa diketahui pola penyebarannya. ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) merupakan jenis ikan perenang cepat dan termasuk species highly migratory. Suhu optimum sekitar 13°C-29°C dan pada salinitas 25-32 ppt. Ikan tuna mata besar menyebar hampir diseluruh perairan laut Indonesia.



DAFTAR PUSTAKA

Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the World. London : Fishing News Book Ltd.

Collete, B.B and C.E. Naven. 1983. FAO Species Catalogue. Vol.2, Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos, and Related Species Known to Date. FAO Fish.Synop ; (125) Vol.2 : 137 p.

Dagorn L. Bach P, Josse E. 2000. Movement Patterns of Large Bigeye Tuna (Thunus obesus) In The Open Ocean, Determined Using Ultrasonic Telemectry. Marine Blog (2): 36-371

Maury O. 2005 How To Model The Size –Dependent Vertikal Behavior of Bigeye (Thunus obesus) Tuna In Its Enverionment? Collect.Vol.Sel. Pap, ICCAT, 57(2): 115-126

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Vol I dan II. Bandung : Binacipta. 93

Supadiningsih CN dan Rosana N. 2004 Penentuan Fishing Ground Tuna dan Cikalang Dengan Teknologi Pengindraan Jauh. Pertemuan Ilmiah I Teknik Geodesi – ITS, Surabaya, 13 Oktober 2004. Hal 114-118.

Uktoselja JCB.1988. Pengaruh Kedalaman Mata Pancing Rawai Tuna Terhadap Hasil Tangkap Ikan Tuna. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 49.

http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12975289/daerahpenangkapanikanpelagis.zip.html : Diakses pada tanggal 18-05-15/22:35







1 komentar: