PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA KONSERVASI
DI WILAYAH PESISIR LAUT
Studi kasus
Oleh
AHMADRYADI

PROGRAM STUDI S2 ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016
PERAN SERTA
MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN
WILAYAH PESISIR
TELUK AMBON DALAM
Di wilayah pesisir
Teluk Ambon Dalam (TAD) terdapat ekosistem dan sumber daya alam baik hayati
maupun non hayati, yang selama ini dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan
protein dan bahan-bahan atau material bangunan. Terdapat kecenderungan
pemanfaatan yang bersifat eksploitatif, serta perusakan, dan pencemaran
ekosistem dan sumber daya yang makin meningkat, yang tidak menjamin
ketersediaan sumber daya untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Degradasi
lingkungan dan sumber daya itu terjadi pada kawasan pasang surut (meti), mangrove,
lamun, terumbu karang, serta daerah aliran sungai hingga ke arah hulunya .
Pemukiman penduduk yang
semakin padat, kondisi topografi daratan yang memilikikemiringan relatif terjal
serta arus lalu lintas laut yang semakin padat akan berdampak pada tekanan
ekologis perairan TAD. Terdapat berbagai kegiatan pemanfaatan di wilayah
pesisir TAD, seperti pelabuhan berbagai jenis kapal niaga dan kapal
penangkapan, industri perikanan, pangkalan angkatan laut, budidaya karamba
apung, penangkapan ikan, pemukiman penduduk, dan pembangkit listrik tenaga
diesel. Memperhatikan perkembangan berbagai kegiatan tersebut yang semakin
meningkat dari waktu ke waktu, serta dampak yang ditimbulkan di perairan TAD,
dapat diperkirakan perairan ini akan semakin tertekan dan tercemar.
Indikasi tersebut sudah
mulai nampak, yaitu pada beberapa tempat terjadi penyempitan karena proses
sedimentasi yang disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan seperti pemukiman,
reklamasi, pelabuhan, pusat perdagangan, pasar dan lain-lain, dan hal ini pada
akhirnya akan merusak ekosistem di perairan ini seperti mangrove, terumbu
karang dan lamun yang akan diikuti oleh menurunnya keanekaragaman biota yang
hidup di dalamnya (Pelasula, 2009).
Mengingat sifat alamiah
wilayah pesisir dan aktivitas masyarakat pesisir yang dinamis serta kompleks,
pembangunan berkelanjutan wilayah pesisir mengharuskan pendekatan secara
terpadu, rasional, dan optimal yang mencakup peran serta masyarakat di
dalamnya. Selanjutnya pendekatan yang tidak memperhatikan interaksi antara
prinsip ekologi dan perilaku (budaya) masyarakat, dikhawatirkan akan
menyebabkan terjadinya ketimpangan dalam pengelolaan wilayah pesisir yang
berakibat pada perusakan wilayah pesisir. Akar permasalahan ini berasosiasi
dengan faktor sosial-ekonomi-budaya dan bio-fisik yang mempengaruhi kondisi
wilayah pesisir.
Untuk menjawab
pemasalahan tersebut, perlu dilakukan penelitian secara mendalam tentang peran
serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir. Bertolak dari permasalahan
yang ada, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: tingkat kepentingan
masyarakat pemanfaat pesisir terhadap kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir
TAD; faktor-faktor yang membedakan tingkat peran serta masyarakat pemanfaat
pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir TAD; serta merumuskan strategi yang
paling tepat sebagai upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan
wilayah pesisir (pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan) TAD.
METODE
Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi
penelitian adalah di Teluk Ambon Dalam. Penelitian dilakukan pada bulan Maret
sampai Juli 2011. Populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal di kawasan
TAD yang memanfaatkan lahan pesisir secara teratur untuk kegiatan atau
usahanya,sedangkan sampel adalah individu yang
menjadi pelaku, terlibat, berperan secara langsung dalam kegiatan
pemanfaatan di wilayah pesisir TAD. Penentuan sampel dengan cara proporsional
dengan beberapa kategori, yaitu: distribusi jenis pemanfaatan, cluster, dan
stratifikasi. Jumlah sampel sebanyak 55 responden yang terdiri atas 8 orang
dari kegiatan industri, 30 orang dari kegiatan perikanan, dan 17 orang dari
kegiatan ekonomi (pasar). Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi,
wawancara, kuesioner, dan studi literatur.
Tabel 1. Analisis Data Diskriptif

Analisis data yang
digunakan untuk masyarakat menggunakan análisis diskriptif, dengan manghitung
rata-rata (mean) pada setiap pertanyaan yang diberikan kepada responden
(Sugiyono, 2002) seperti pada Tabel 1. Sedangkan faktor-faktor yang membedakan
tingkat peran serta masyarakat menggunakan análisis diskriminan, dan strategi
peran serta masyarakat menggunakan análisis SWOT.
PEMBAHASAN
Tingkat Kepentingan
Responden Terhadap Kegiatan Perikanan Deskripsi hasil penelitian mengenai
kegiatan perikanan dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana
tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan perikanan yang ada di wilayah
pesisir TAD. Tingginya konsumsi ikan di Kota Ambon merupakan salah satu
indikator yang positif terhadap peningkatan permintaan masyarakat (Anonim,
2009). Berdasarkan hal tersebut, maka peran nelayan untuk suplai ikan bagi
masyarakat kota Ambon khususnya TAD sangat penting.
Selain itu, semakin
penting perhatian nelayan terhadap kondisi permukiman, maka semakin besar upaya
nelayan untuk memperbaiki kesan kumuh pada daerah tersebut guna
mewujudkankesejahteraan nelayan, sehingga kepentingan nelayan terhadap kegiatan
perikanan menjadi tinggi. Semakin pentingnya peran nelayan dan penataan kondisi
permukiman nelayan, maka semakin besar pula upaya yang dilakukan oleh nelayan
terhadap kegiatan perikanan.
Berdasarkan hasil
analisis diskriptif terhadap 2 pertanyaan yang diberikan responden yaitu peran
nelayan untuk suplai ikan di wilayah pesisir TAD dan kondisi permukiman nelayan
masing masing memiliki skor rata-rata lebih dari 3 yaitu 3,73 dan 3,87 yang
berarti memiliki tingkat kepentingan yang tinggi terhadap kegiatan perikanan.
Tingginya tingkat kepentingan terhadap kegiatan perikanan menunjukkan kegiatan
ini memiliki pengaruh besar terhadap aktifitas ekonomi masyarakat, khususnya
nelayan, namun di sisi lain mereka tidak mampu mengembangkan sumber daya
perikanan dengan baik. Hal ini sangat berkaitan dengan keterbatasan modal
sehingga nelayan tidak dapat berperan secara baik dalam suplai ikan bagi
masyarakat pesisir TAD dan sekitarnya.
Selain itu juga karena
pencemaran dan sedimentasi mengakibatkan perubahan kualitas perairan TAD sehingga
berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan. Anonim (2009) menyatakan
banyaknya sedimentasi di TAD yang turun dari darat ke laut dan mengendap dari
pinggir pantai mencapai kedalaman 40 hingga 60 cm mengakibatkan tanaman lamun
tidak dapat bernafas dengan baik dan berpengaruh pada biota laut lainnya
seperti ikan pelagis akan berpindah tempat ke lokasi yang lebih aman. Selain
itu, sedimentasi mengakibatkan pedangkalan yang nantinya berdampak terhadap
ekosistem pesisir. Biota-biota perairan dangkal kehilangan habitat, padahal
biota laut dangkal merupakan sumber makanan utama ikan-ikan di laut. Jika
kehilangan makanan, populasi ikan menyusut sehingga jumlah tangkapan nelayan
berkurang.
Tingkat Kepentingan
Responden Terhadap Kegiatan Industri Deskripsi hasil penelitian mengenai
kegiatan industri dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana
tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan industri yang ada di wilayah
pesisir TAD. Industri yang ada di TAD yaitu PLTD Poka, Perusahaan Coldstorage
dan PT. ASDP Ambon. Sumber minyak yang mencemari TAD berasal dari PLTD serta
yang berasal dari daratan yang masuk melalui beberapa sungai. Kandungan minyak
sebesar 39.12 ppm ditemukan di sekitar Galala (Anonim, 2008). Industri yang
bergerak di bidang perikanan adalah Coldstorage.
Pada dasarnya
coldstorage mengelola masukan yang berupa hasil laut atau perikanan dengan
teknik pendinginan dan menghasilkan air buangan yang mengandung bahan
tersuspensi, bahan koloid dan bahan organik terlarut dengan konsentrasi yang
tinggi (Suratmo, 1995). Limbah cair di kawasan TAD tidak tertangani dengan baik
sehingga mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas air dan berdampak
terhadap sumber daya pesisir. Hal ini membutuhkan biaya dalam pengelolaan
limbahnya, antara lain diperlukan tempat pembuangan yang memenuhi syarat.
Berdasarkan hasil
analisis diskriptif diketahui bahwa rata-rata jawaban responden terhadap
keberadaan kawasan industri dan kewajiban industri mengolah limbahnya secara
baik, masingmasing memiliki skor rata-rata lebih dari 3 yaitu 3,84 dan 3,69.
Dengan demikian
kegiatan industri memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Tingginya tingkat
kepentingan terhadap kegiatan industri tampak pada kegiatan pemanfaatan
industri listrik yang memberikan suplai energi, industri feri berperan sebagai
transportasi laut. Selain itu perusahaan coldstorage dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat akan produk perikanan dan juga dapat menyerap tenaga kerja.
Masyarakat masih berharap banyak terhadap kegiatan industri untuk dapat
meningkatkan ekonomi dan memenuhi kebutuhan. Namun di sisi lain kewajiban
industri untuk mengolah limbahnya secara baik juga dirasa penting, agar buangan
limbah industri tidak mencemari lingkungan pesisir.
Dahuri, Rais, Ginting,
& Sitepu (2004), menyatakan penentuan lokasi industri di suatu wilayah
pesisir hendaknya harus melalui pengkajian tentang pengaruhnya terhadap
lingkungan. Penempatan lokasi untuk kegiatan dan pengembangan industri
sebaiknya berada di daerah yang tidak mempunyai nilai ekologis penting. Selain
itu, semua jenis industri harus mendirikan fasilitas pengolahan limbah untuk meminimalkan pengaruhnya terhadap
degradasi lingkungan wilayah pesisir. Tingkat Kepentingan Responden Terhadap
Kegiatan Ekonomi (Pasar) Deskripsi hasil penelitian mengenai kegiatan ekonomi
(pasar) dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat
kepentingan responden terhadap kegiatan ekonomi(pasar) yang ada di wilayah
pesisir TAD.
Berdasarkan hasil analisis diskriptif terhadap
keberadaan pasar bagi masyarakat pesisir TAD dan kewajiban pedagang mengelola
limbah dengan baik masing-masing memiliki memiliki skor lebih dari 3 yaitu 3,98
dan 3,69, sehingga dapat disimpulkan
kegiatan ekonomi (pasar) di wilayah pesisir TAD memiliki tingkat kepentingan
tinggi. Namun di sisi lain, sampah yang dihasilkan oleh aktivitas di pasar
tidak dikelola dengan baik dan merupakan sumber pencemaran sehingga sangat
berpengaruh terhadap lingkungan dan sumber daya pesisir sekitarnya. Hal ini
didukung dengan kurangnya kesadaran dan minimnya peran serta masyarakat tentang
penanggulangan sampah, serta terbatasnya sarana pembuangan sampah yang tersedia
pasar.
Dahuri, at al (2004), menyatakan bahwa
pembuangan limbah pada lahan atas dapat menimbulkan dampak negatif di wilayah
pesisir. Hal ini menyebabkan terjadinya sedimentasi dan dibawa oleh aliran
sungai ke wilayah pesisir. Pemilihan dan penentuan lokasi pembuangan harus dilakukan sedemikian rupa dan harus mendapat
pengawasan ketat, sehingga dalam operasinya
mampu mencegah terjadinya pencemaran badan air dan merusak lingkungan
daerah vital karena daerah vital mempunyai fungsi terhadap stabilitas ekosistem
wilayah pesisir.
Tingkat Kepentingan
Responden Terhadap Kegiatan Kepelabuhanan Deskripsi hasil penelitian mengenai
kegiatan kepelabuhanan dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum sejauh mana
tingkat kepentingan responden terhadap kegiatan kepelabuhanan yang ada di
wilayah pesisir TAD. Pelabuhan yang ada di TAD umumnya tidak dikelola dengan
baik terutama dari aspek penanganan limbah pelabuhan. Dari aspek penataan
kawasan berdasarkan analisis ruang kondisi ini tidak efektif. Hal ini akan
memberikan tekanan yang kuat terhadap kawasan pesisir TAD (Anonim, 2009).
Berdasarkan hasil
analisis diskriptif terhadap 2 pertanyaan yaitu keberadaan dermaga dan kegiatan
keluar masuk kapal atau ferry masing-masing memiliki skor lebih dari 3 yaitu
3,40 dan 3,15. Hal ini menunjukkan tingkat kepentingan masyarakat terhadap
kegiatan kepelabuhanan tinggi. Kegiatan kepelabuhanan secara umum tidak
mengganggu kegiatan yang lain, namun pencemaran di sekitar lokasi pelabuhan
perlu diperhatikan agar tidak berdampak terhadap ruang tangkapan nelayan dan
tidak mencemari sumber daya pesisir sekitarnya.
Anonim (2008),
memaparkan bahwa sumber minyak yang mencemari Teluk Ambon sebagian besar
berasal dari hasil buangan kapal speedboat yang masuk, berlabuh, dan
penyeberangan dari dan masuk ke teluk, pelabuhan dermaga laut, serta yang
berasal dari daratan yang masuk melalui beberapa sungai. Hal tersebut
menyebabkan menurunnya kualitas perairan dan sangat potensial untuk merusak
habitat dan kehidupan organisme air, terutama yang bersifat rentan seperti
telur dan larva ikan dan udang.
Tingkat Kepentingan
Responden Terhadap Kegiatan Pengurugan atau Reklamasi Deskripsi hasil
penelitian mengenai kegiatan pengurugan atau reklamasi dimaksudkan untuk
memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap
kegiatan pengurugan atau reklamasi yang ada di wilayah pesisir TAD. Sebagian
besar tanggapan responden terhadap kegiatan reklamasi untuk kepentingan
permukiman, industri, dan pelabuhan sangat penting.
Berdasarkan hasil
analisis diskriptif terhadap kegiatan reklamasi untuk kepentingan pemukiman,
industri, dan pelabuhan memiliki skor lebih dari 3 yaitu 3,15. Hal ini
menunjukkanpendapat responden terhadap kegiatan pengurugan atau reklamasi cukup
tinggi. Kegiatan reklamasi memiliki pengaruh besar dalam memenuhi kebutuhan dan
pengembangan kegiatan usaha oleh masyarakat. Namun perlu diperhatikan dampak
yang ditimbulkan antara lain meningkatkan laju sedimentasi, sehingga berdampak
pada ekosistem sumber daya pesisir dan keterbatasan ruang tangkapan ikan bagi
nelayan yang menggantungkan hidupnya di wilayah perairan pesisir.
Anonim (2009),
menyatakan bahwa reklamasi memiliki dampak positif maupun negatif bagi masyarakat
dan ekosistem pesisir dan laut. Dampak positif kegiatan reklamasi antara lain
pada peningkatan kualitas dan nilai ekonomi kawasan pesisir, mengurangi lahan
yang dianggap kurang produktif, penambahan wilayah, perlindungan pantai dari
erosi, peningkatan kondisi habitat perairan, perbaikan rejim hidraulik kawasan
pantai, dan penyerapan tenaga kerja. Reklamasi banyak memberikan keuntungan
dalam mengembangkan wilayah. Praktek ini memberikan pilihan penyediaan lahan
untuk pemekaran wilayah, penataan daerah pantai, menciptakan alternatif kegiatan
dan pengembangan wisata bahari.
Hasil reklamasi dapat
menahan gelombang pasang yang mengikis pantai. Dampak negatif dari reklamasi
pada lingkungan pesisir meliputi dampak fisik seperti perubahan
hidro-oseanografi, erosi pantai, sedimentasi, peningkatan kekeruhan, pencemaran
laut, perubahan rejim air tanah, peningkatan potensi banjir dan penggenangan di
wilayah pesisir. Dampak biologis berupa terganggunya ekosistem mangrove,
terumbu karang, padang lamun, estuaria dan penurunan keanekaragaman hayati. Tingkat
Kepentingan Responden Terhadap Kegiatan Penambangan Batu dan Pasir Deskripsi
hasil penelitian mengenai kegiatan penambangan batu dan pasir dimaksudkan untuk
memberikan gambaran umum sejauh mana tingkat kepentingan responden terhadap
kegiatan penambangan batu dan pasir yang ada di wilayah pesisir TAD. Hasil
analisis diskriptif terhadap kegiatan penambangan batu pasir di wilayah pesisir
TAD dianggap responden memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dengan skor
lebih dari 3 yaitu 3,25. Hal ini disebabkan aktivitas tersebut merupakan salah
satu sumber mata pecaharian masyarakat sehingga berpengaruh besar terhadap pendapatan
masyarakat, tetapi kegiatan ini menyebabkan erosi dan abrasi sehingga
menyebabkan degradasi lingkungan dan pada akhirnya berdampak negatif terhadap
ekosistem sumber daya pesisir.
Dengan demikian
diperlukan strategi yang dapat memberikan solusi terhadap aktivitas kegiatan
penambangan batu dan pasir tersebut. Anonim (2009), memaparkan bahwa dampak
dari penambangan batu dan pasir secara liar mengakibatkan abrasi sangat parah,
diantaranya berpotensi meneggelamkan
beberapa pulau kecil dan hilangnya vegetasi mangrove di pesisir pantai. Salah
satu cara mencegah abrasi dilakukan dengan pelestarian hutan bakau, tidak hanya
dilakukan penanaman saja, namun juga pemeliharaan agar tanaman bakau dapat
tumbuh dengan baik. Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah
abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup tanpa
bantuan dari masyarakat. Tingkat Peran serta Masyarakat
Tabel 2. Tahapan Pengelolaan Wilayah
Pesisir

Konsep pengelolaan
wilayah pesisir mengenal prinsip keseimbangan pembangunan dan konservasi guna
mewujudkan pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan. Konsep konservasi ini sebagai
upaya untuk memberikan perlindungan bagi sumber daya wilayah pesisir. Sebagian
besar masyarakat pemanfaat pesisir Teluk Ambon Dalam memiliki tingkat peran
serta rendah terhadap kegiatan konservasi yang hanya melakukan 1 tahap saja,
yaitu tahapan implementasi dengan prosentase sebesar 72,7 %. Pada tingkat peran
serta sedang dengan prosentase sebesar 27,3 % (Tabel 3) yang hanya melakukan 2
tahap dalam kegiatan konservasi yaitu tahapan implementasi dan pemantauan.
Berdasarkan hasil
penelitian, umumnya masyarakat pemanfaat pesisir TAD tidak tergolong tingkat
peran serta tinggi yang melakukan 4 tahap pengelolaan yaitu tahap perencanaan, implementasi,
pemantauan dan evaluasi. Hal ini tampak pada Tabel 3 yang menunjukkan tingkat peran
serta pemanfaat pesisir dalam pengolaan wilayah pesisir TAD tergolong sedang
dan rendah.
Tabel
3. Tingkat Peran serta Masyarakat Pemanfaat Pesisir dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir
Teluk Ambon Dalam

Tahap implementasi
yaitu masyarakat turut berperan serta dalam pelaksanaan program serta menikmati
dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan yang dicapai, sedangkan tahap pemantauan,
yaitu masyarakat turut berperan serta dalam memantau efektivitas terhadap
hasil-hasil pembangunan yang dicapai. Peran serta pemerintah dalam kegiatan
atau program konservasi hanya pada kegiatan-kegiatan perencanaan biasanya
diwakili oleh Kepala Desa dan Pemerintah Daerah, sedangkan kegiatan lapangan
tidak sepenuhnya ditangani sendiri tetapi diserahkan kepada kelompok pelaksana
lapangan, sehingga keberhasilannya tergantung masyarakat sekitar lokasi konservasi.
Oleh karena itu
pemerintah hendaknya mengupayakan peningkatan peran serta masyarakat melalui
perencanaan program yang benar-benar memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Peran serta masyarakat dalam semua
tahapan mulai dari perencanaan, implementasi, pemantauan, serta evaluasi dalam
kegiatan konservasi dapat dimanifestasikan dengan membentuk kelompok atau
organisasi masyarakat yang menjadi penyalur peran serta nya. Pembentukan kelompok
ini memerlukan inisiator yang dipercaya agar dapat menggerakkan masyarakat
untuk terlibat dalam suatu program.
Faktor-Faktor yang
Membedakan Kelompok Tingkat Peran serta Masyarakat Pemanfaat Pesisir dalam
Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam Peran serta masyarakat dalam 4
tahap pengelolaan wilayah pesisir akan berpengaruh terhadap keberhasilan dalam
pembangunan pengelolaan wilayah pesisir. Faktor-faktor yang membedakan kelompok
tingkat peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir adalah persepsi
masyarakat, pendidikan, pendapatan dan umur.
Berdasarkan hasil
analisis diskriminan dengan signifikansi pada tingkat kesalahan 5 % diketahui
bahwa terdapat perbedaan secara signifikan skor variabel persepsi masyarakat,
pendidikan dan pendapatan antara kelompok tingkat peran serta masyarakat. Hal
ini dapat dilihat dari nilai uji F pada variabel persepsi masyarakat sebesar
77,779 dengan signifikansi 0,000; pendidikan dengan nilai uji F sebesar 6,841
dengan signifikansi sebesar 0,014, sedangkan nilai uji F pada pendapatan sebesar
6,344 dengan signifikansi 0,015. Pada bagian lain, variabel umur tidak
signifikan sebesar 0,135 dengan memiliki nilai uji F sebesar 2,308. Tidak
signifikannya variabel umur menunjukkan tidak adanya perbedaan variabel umur
antara kelompok tingkat peran serta masyarakat sehingga variabel umur tidak
berperan dalam membedakan kelompok tingkat peran serta.
Berdasarkan hasil
analisis diskriminan terhadap faktor-faktor yang membedakan kelompok tingkat
peran serta masyarakat, maka didapatkan persamaan fungsi diskriminan yaitu : Fungsi
diksriminan : -2,69 + Ln 2,069 X1 (umur) + Ln 1,355 X2 (pendidikan) – Ln 0,451
X3 (pendapatan) + Ln 3,950 X4 (persepsi pesisir) Berdasarkan persamaan fungsi
diskriminan menunjukkan bobot diskriminan yang paling besar adalah persepsi
masyarakat tentang pesisir sebesar Ln 3,950 dengan korelasi positif. Hal ini berarti
peran serta masyarakat pemanfaat pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir TAD
lebih dipengaruhi oleh persepsi. Peningkatan persepsi akan menghasilkan peran
serta yang lebih meningkat lagi. Menurut Wirawan (1983), persepsi adalah suatu
proses kesadaran seseorang dalam merespon rangsangan yang diperhatikan,
diterima, dipahami dan dibuat interpretasi, evaluasi, pemaknaan dan prediksi
secara subyektif yang pada gilirannya menentukan perilaku (pemikiran, perasaan,
sikap) dan tindakan seseorang. Persepsi seseorang dipengaruhi oleh pengalaman
masa lampau, kebutuhan, dan suasana hati. Persepsi responden tentang pesisir
dipengaruhi oleh pengalaman dalam pengelolaan wilayah pesisir (Saptorini,
2003). Keterlibatan seseorang dalam pengelolaan wilayah pesisir mulai dari
tahap perencanaan, implementasi, pemantauan sampai evaluasi maka akan mempengaruhi
perilaku persepsi seseorang.
Namun, sejauh ini
program pengelolaan wilayah pesisir kurang melibatkan masyarakat sebagai
pengguna utama sumber daya. Selain itu pemahaman responden mengenai pesisir
terhadap sumber daya yang ada lebih mengarah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya
tanpa memahami nilai sumber daya dengan mengabaikan dampak ekologis, sehingga
pemanfaatan cenderung bersifat eksploitatif, perusakan dan pencemaran ekosistem.
Terbentuknya persepsi
mengenai keberadaan sumber daya pesisir memberikan manfaat untuk kelangsungan
kehidupannya, maka dalam tindakannya mereka akan berupaya kearah terbentuknya
komunitas sumber daya pesisir di daerahnya, selanjutnya apabila mereka telah menikmati
secara langsung hasil dari keberadaan sumber daya pesisir tersebut akan
mengakibatkan peran serta yang lebih baik lagi. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Babo dan Frochlich (1998) menunjukkan bahwa peran serta seseorang
menjadi lebih baik lagi jika persepsi orang-orang di Sinjai Timur Sulawesi
Selatan mulai melakukan konservasi mangrove setelah memiliki kebutuhan untuk melindungi
pantai dan keberlanjutan dalam memetik hasilnya, atau penduduk Timika (Papua)
yang menjaga mangrove baik-baik karena di sanalah sumber udang sungai dan
Tambelo sebagai makanan mereka.
Peran serta yang tumbuh
dari dalam akibat persepsinya yang baik lebih berarti dibandingkan dengan peran
serta yang tumbuh sebagai akibat adanya pengaruh dari luar, terlebih lagi
apabila peran serta tersebut disertai kesadaran bahwa aktivitasnya sangat bermanfaat
bagi masyarakat. Selain itu, persepsi yang berkembang di masyarakat dalam
memandang pentingnya kestabilan hubungan manusia dengan lingkungan di
sekitarnya memandang bahwa keterlibatan masyarakat bukanlah organisasi
lingkungan, akan tetapi organisasi keagamaan dengan kemampuan mengarahkan
berbagai aktivitas yang tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan.
Organisasi ini memiliki
kemampuan untuk menggerakkan masyarakat khususnya dalam menjaga dan memelihara
lingkungan, dibanding organisasi lainnya. Bahkan skala menggerakkannya mencakup
kalangan remaja sampai dewasa. Organisasi ini mampu mewacanakan pentingnya
upaya untuk memelihara lingkungan dan upaya penyelarasan antara aktivitas
pembangunan dengan fungsi lingkungan.
Kesamaan persepsi inilah
yang mampu membentuk kesadaran dan menggerakkan setiap kalangan tanpa
dipengaruhi perbedaan latar belakang, sebab telah terbentuk persamaan persepsi
yang mampu mempengaruhi perilaku dalam menjaga lingkungan, khususnya
pengelolaan wilayah pesisir. Jika organisasi keagamaan dilibatkan dalam
pengelolaan wilayah pesisir maka dapat mendorong masyarakat untuk berperan
serta lebih baik lagi. Rendahnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan
wilayah pesisir juga disebabkan terjadi
pergeseran nilai-nilai sosial budaya yang sejak lama berkembang dalam
masyarakat dan merupakan budaya leluhur masyarakat Maluku dirasakan sudah mulai
memudar. Nilai-nilai budaya tersebut, antara lain penghayatan dan pengalaman
sasi sebagai sistem konservasi sumber daya alam.
Persepsi mengenai
budaya sasi dianggap sebagai penghambat dalam proses perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan, sehingga diabaikan dalam proyek pembangunan.
Badan-badan pemerintah masih cenderung mengutamakan segi produksi yang bersifat
semu ketimbang segi konservasi. Apabila kebijaksanaan demikian secara terus
menerus diterapkan tanpa kebijakan mendalam, cepat atau lambat akan
membahayakan kelestarian ekosistem pesisir beserta segala biota asosiasinya. Variabel
pendapatan memiliki bobot diskriminan pada persamaan fungsi diskriminan sebesar
-Ln 0,451 dengan korelasi negatif. Persamaan tersebut, menunjukkan bahwa dengan
meningkatkan pendapatan maka akan menurunkan peran serta. Tingginya pendapatan
seseorang identik dengan tingkat konsumsi penduduk dengan gaya hidup masyarkat
yang berhubungan dengan tingkat penggunaan produk tertentu. Penggunaan produk
oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Jika daya beli
masyarakat tinggi maka tingkat penggunaan produk pun akan tinggi, yang tentu
saja akan sangat berpengaruh pada volume sampah yang dihasilkan. Semakin tinggi
pendapatan maka tingkat kepentingan terhadap kegiatan pemanfaatan di wilayah
pesisir TAD juga meningkat.
Tingginya kepentingan
terhadap kegiatan pemanfaatan di wilayah pesisir TAD yang seiring dengan
meningkatnya konsumsi penduduk berpengaruh terhadap buangan sampah yang
dihasilkan dimana hal ini berkaitan dengan besarnya pendapatan seseorang. Sejauh
ini sampah yang dihasilkan tidak terkelola dengan baik, sehingga menimbulkan
pencemaran dan berdampak terhadap sumber daya pesisir disekitarnya. Hal ini
perlu adanya ketegasan dari pemerintah baik dalam penegakan hukum bagi yang
melanggar aturan maupun dengan tersedianya sarana untuk mengatasi kerusakan
lingkungan pesisir agar mendorong masyarakat untuk berperan serta lebih baik.
Berdasarkan persamaan
fungsi diskriminan terhadap variabel pendidikan memiliki bobot diskriminan
sebesar Ln 1,355 dengan korelasi positif. Hal ini berarti variabel pendidikan
memiliki pengaruh yang besar dalam membedakan antara kelompok tingkat peran
serta masyarakat. Dari fungsi persamaan tersebut didapatkan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan maka akan meningkatkan peran serta .
Rendahnya tingkat
pendidikan mengakibatkan penguasaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan
masyarakat yang terbatas telah menyebabkan kemampuan dalam memanfaatkan sumber
daya pesisir terbatas pula, sehingga berakibat pada rendahnya kesadaran mereka
dalam melestarikan sumber daya pesisir serta kemampuan bersaing dengan pihak
luar rendah. Menurut Sorjani, Achmad,
dan Munir (1987), tingkat pendidikan sangat menentukan sebagai alat penyampaian
informasi kepada manusia tentang perlunya perubahan dan untuk merangsang penerimaan
gagasan baru. Menurut hasil pengamatan dan wawancara dengan sebagian nelayan,
pendidikan mereka pada umumnya masih sangat rendah. Hal ini menjadi salah satu
kendala dalam kegiatan perikanan, di mana para nelayan agak sulit menerima
teknologi yang baru, juga karena rendahnya pemahaman terhadap ekosistem
sekitarnya yang dimanfaatkan, sehingga kegiatan pemanfaatan cenderung merusak
lingkungan. Strategi Peningkatan Peran serta Masyarakat dalam Pengelolaan
Wilayah Pesisir Teluk Ambon Dalam.
Tabel
4. Identifikasi Komponen SWOT Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah
Pesisir Teluk Ambon Dalam

Tabel 5. Matrik Strategi Analisis SWOT

Arahan
Untuk Pengelolaan
Berdasarkan hasil
analisis SWOT, maka sebagai upaya peningkatkan peran serta masyarakat dalam
pengelolaan wilayah pesisir maka diterapkannya sebuah strategi yang komprehensif
yang dikenal dengan konsep pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat
(comanagement) untuk menangani isu-isu yang mempengaruhi lingkungan pesisir.
Pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat mengharuskan masyarakat
memiliki kewenangan cukup dalam pengelolaan dan terakomodasinya kepentingan
masyarakat dalam proses pengelolaan. Melalui konsep pengelolaan wilayah pesisir
berbasis masyarakat (co-management), maka beberapa arahan untuk pengelolaan ke
depan dikemukakan sebagai berikut:
v Perlu
dilakukan pendampingan masyarakat atau disebut juga motivator, fasilitator,
penggerak
masyarakat
dalam mengajak masyarakat untuk terlibat aktif di dalam pengelolaan wilayah pesisir.
Tujuan dari pendampingan ini adalah untuk membantu menghubungkan masyarakat dengan
pihak luar atau berkerja sama seperti tukar-menukar informasi serta memberikan penyuluhan
agar masyarakat dibekali pengetahuan, ketrampilan khususnya mengenai lingkungan
hidup serta peranannya secara timbal balik dalam pengelolaan wilayah pesisir.
v Perlu
dilakukan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya membangun kapasitas dan kemampuan
masyarakat untuk secara efisien dan efektif mengelola sumber daya mereka secara
berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan dan pengembangan kelembagaan.
v Penerapan
pengelolaan tradisional (kearifan lokal) perlu dikembangkan serta dipadukan ke dalam
perencanaan pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat.
v Pengembangan
mata pencaharian yang ditujukan untuk mengurangi tekanan terhadap produktivitas
sumber daya yang terbatas. Pengembangan mata pencaharian dapat berupa memperkenalkan
(introduksi) mata pencaharian yang dapat dilakukan baik di laut maupun di daratan
(misalnya: pemanfaatan lahan/pekarangan sempit, budidaya rumput laut atau
ikan), pengembangan serta perbaikan mata pencaharian yang sudah ada, dan upaya
kampanye untuk menentang metode-metode pemanfaatan yang destruktif.
v Semua
kegiatan dalam pengelolaan wilayah pesisir harus dijalankan berdasarkan
keterpaduan antarsektor, keterpaduan antartingkat pemerintahan, keterpaduan
pengelolaan dan ilmu pengetahuan, dan keterpaduan ruang.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang
telah diuraikan, maka dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan pemanfaatan
di pesisir Teluk Ambon Dalam memiliki tingkat kepentingan tergolong tinggi yang
ditunjukkan dengan besarnya pengaruh kegiatan pemanfaatan terhadap aktivitas ekonomi
masyarakat, tetapi dampaknya terhadap sumber daya pesisir akibat kegiatan pemanfaatan
yang tidak berkelanjutan menjadi ancaman yang serius, sedangkan tingkat peran serta
masyarakat pemanfaat pesisir dalam pengelolaan wilayah pesisir rendah yang
ditunjukkan dengan keterlibatan masyarakat pada tahap implementasi dan
pemantauan.
2. Faktor-faktor
pendidikan, persepsi dan pendapatan yang membedakan kelompok tingkat peran serta
masyarakat pemanfaat pesisir, sedangkan faktor umur tidak berperan dalam membedakan
kelompok tingkat peran serta masyarakat.
3. Strategi
meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir adalah dengan
pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat (co-management), dengan masyarakat
memiliki kewenangan cukup dalam pengelolaan dan terakomodasinya kepentingan masyarakat
dalam proses pengelolaan.
REFERENSI
Anonim.
(2008). Data dan analisis profil sumber daya kelautan dan perikanan. Ambon:
Dinas Kelautan dan Perikanan.
Anonim.
(2009). Monitoring teluk Ambon. Ambon: Balitbang Sumber daya Laut P3O LIPI.
Babo,
N. R., & Froechlich, J. W. (1998). Community-based mangrove rehabilitation:
A lesson learned from East Sinjai. South Sulawesi, Indonesia. Diakses pada
tanggal 4 Agustus 2011, dari http.www.Glomis.com ().
Dahuri,
R., Rais, J. Ginting, S.P., & Sitepu, M.J. (2004). Pengelolaan sumber daya
wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Jakarta. PT. Pradnya Paramita.
Pelasula,
D.D. (2009). Dampak perubahan lahan atas terhadap ekosistem teluk Ambon. Tesis magister
yang tidak dipublikasikan. Universitas Pattimura, Ambon.
Saptorini.
(2003). Persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konservasi hutan mangrove.
Tesis magister yang tidak dipublikasikan. Universitas Diponogoro, Semarang.
Soerjani,
R., Achmad, & Munir, R. (1987). Lingkungan sumber daya alam dan
kependudukan dalam pembangunan. Jakarta: UI Press.
Sugiyono.
(2002). Statistika untuk penelitian. Bandung: Ikatan Penerbit Indonesia.
Suratmo,
F.G. (1995). Analisis mengenai dampak lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Wirawan,
S. (1983). Teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Rajawali.
Betway Online Casino | All the info for - KDK Casino
BalasHapus› app › app Betway Online Casino is a reliable deccasino gambling website. You can find 제왕카지노 real money games and bonus spins on kadangpintar games that are available for your