Selasa, 07 Juli 2015

Peranan Hormon Dalam Proses Reproduksi Ikan

Tugas Mata Kuliah  Manajeme Produksin Akuakultur
Makalah



PERANAN HORMON DALAM PROSES
REPRODUKSI IKAN







Image3
 














PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR
                Segala bentuk rasa syukur atas semua kenikmatan yang dilimpahkan Sang Pencipta Allah SWT kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan makalah  ini tepat pada waktunya.
                Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini tidak terlepas dari kekurangan didalam penulisan dan penyusunannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan dari semua pihak menuju perbaikan kearah kemajuan demi kesempurnaan makalah ini dan dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya.






                                                                                                                                 Pekanbaru, 2015


                                                                                                                                  Penulis


PENDAHULUAN

A.    PENGERTIAN HORMON DARI LUAR
Hormon merupakan suatu senyawa yang ekskresikan oleh kelenjar endokrin, dimana kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu yang tidak memiliki saluran (Zairin,2002). Kelenjar endokrin pada ikan menurut Lagleret al. (1962) dalam Gusrina(2008) terdapat beberapa organ antara lain adalah pituitari, pineal, thymus, jaringan ginjal, jaringan kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannus, thyroid, ultibranchial, pancreatic islets, intestinal tissue, intestitial tissue of gonads danurohypophysis. Beberapa hormon sangat berperan dalam proses reproduksi ikan , selain hormon primer dan sekunder yang terdapat dalam tubuh ikan adapula hormon luar (sintesis) yang dapat mempengaruhi proses pematangan gonad ikan. Hormon Luar adalah suatu senyawa sintetik yang berfungsi untuk menginduksi terjadinya ovulasi.

B.     PERANAN HORMON LUAR DALAM PROSES REPRODUKSI IKAN
Proses pemijahan adalah proses yang ditujukan oleh suatu species ikan dalam bentuk tingkah laku melakukan perkawinan. Pada ikan air tawar yang hidup di perairan tropis, terlihat bahwa musim memijah ikan lebih panjang waktunya. Setiap individu lain, namun demikian masih tetap terlihat adanya puncak-puncak musim memijah dalam setiap periode waktu tertentu (Peter dan Hontela dalam Deswita 1995). Dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan gonad semakin besar dan berat.
Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian menurun dengan cepat selama pemijahan sampai selesai (Effendie, 1979). Abidin (1996) menyatakan selama dalam       proses  perkembangan baik dalam tahap pertumbuhan maupun tahap pematangan gonad atau produksi, gonad ikan akan mengalami perubahan-perubahan, seperti perubahan berat, volume serta perubahan morfologi. Perubahan-perubahan ini sering dipakai sebagai indikator dalam menentukan tingkat perkembangan gonad dalam proses oogenesis pada ikan betina atau spermatogenesis pada ikan jantan.
Bye (1984) menyatakan bahwa umumnya species ikan menunjukkan siklus reproduksi tahunan (annual), tengah tahunan (binual) dan siklus reproduksi akan tetap berlangsung selama fungsi reproduksi masih normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus reproduksi ikan di perairan terdiri dari faktor fisika, kimia dan biologi. Untuk ikan di daerah tropis faktor fisika yang utama mengontrol siklus reproduksi adalah substrat dan arus, faktor kimia adalah gas-gas terlarut; pH, nitrogen, metabolik, alkalinity, kesadahan dan zat buangan yang berbahaya bagi kehidupan ikan di perairan. Selanjutnya faktor biologi di bagi atas faktor biologi dalam dan faktor biologi luar.
Faktor biologi dalam meliputi faktor fisiologi individu dan respon terhadap berbagai faktor lingkungan. Faktor biologi luar yang penting adalah predator dan kompetisi sesama species ikan tertentu atau dengan species lain.
Berdasarkan dinamika perkembangan oosit, Wallace dan Selma (1980) dan De Vlamming dalam Syandri (1993) mengklasifikasikan pola perkembangan gonad ikan Teleostei ada tiga type yaitu:
1.       Tipe Sinkronisme total, oosit dalam ovari dibentuk dalam waktu yang bersamaan, tumbuh bersama-sama melalui tahapan perkembangan dan tidak ditemukan adanya oosit pada tingkat perkembangan yang berbeda.
2.       Type ovari demikian ditemukan pada species yang bersifat anadromus dan katadromus ya ng mempunyai musim pemijahan sangat terbatas dan harus bermigrasi cukup jauh untuk mencapai lokasi pemijahan
3.       Tipe Sinkronisme kelompok, ditemukan paling tidak dua populasi yang berbeda pada tingkat perkembangan oosit yang berbeda. Kebanyakan species Cyprinidae mempunyai pola perkembangan ovari yang demikian.
4.       Tipe Asinkronisme, ditemukan oosit pada tingkat perkembangan yang berbeda, sementara oosit baru terus muncul. Ditemukan pada spec ies ikan yang memijah sepanjang tahun.
Lowe Me Connel (1975) menyatakan bahwa berdasarkan kepada pola pemijahannya, ada 4 tipe reproduksi ikan air tawar yang mengisi perairan tropis yaitu :
1.       Tipe “Big Bang Spawner” yaitu species ikan yang memijah satu kali seumur hidupnya.
2.       Tipe “Total Spawner” yaitu golongan ikan yang mengeluarkan telurnya secara keseluruhan pada satu kali memijah. Tipe reproduksi seperti ini mempunyai fekunditas yang tinggi dan musim pemijahan yang terbatas.
3.       Tipe “Partial Spawner” atau “Multiple Spawner” yaitu ikan yang berpijah di sungai dikaitkan dengan fluktuasi tingginya permukaan air akibat hujan atau banjir. Beberapa ikan dari famili Cyprinidae, Characoida e dan Siluridae tergolong pada pemijahan ini.
4.       Tipe “Small Brood Spawner” yaitu golonga n ikan air tawar yang mempunyai fekunditas sangat sedikit dan umumnya species ikan yang melindungi telur dan anak di dalam mulutnya.
Menurut Effendie (2004), berdasarkan sifatnya proses pemijahan ikan bisa berlangsung dalam dua cara yaitu :
1.        Pemijahan Alami, Dalam pemijahan alami, telur dibuahi oleh sperma dalam air setelah dikeluarkan oleh induk betina. Proses ini biasanya didahului oleh aktivitas percumbuan oleh kedua induk ikan tersebut. Pemijahan induk ikan secara alamiah bisa berlangsung secara berkelompok atau berpasangan.
2.       Pemijahan Buatan, Pada pemijahan buatan dilakukan dengan ikut campur tangan manusia, yaitu melalui penyuntikan atau ransangan hormon.
Ada 3 komponen yang mempengaruhi proses pemijahan pada ikan, yaitu gonad, sistem hormon dan lingkungan. Ketiga komponen ini saling mempengaruhi satu sama lainnya.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu proses pemijahan dapat berlangsung, yaitu :
1.       Individu ikan jantan dan betina sudah matang gonad. Ikan yang siap untuk dipijahkan sudah berada pada tingkat kematangan IV (Effendie, 1979). Tingkat kematangan gonad dari suatu individu dapat ditunjukan dengan melihat alat kelamin ataupun morfologi dari tubuh ikan yang akan dipijahkan.
2.       Adanya rangsangan lingkungan. Hal ini berhubungan timbulnya ransangan hormon dalam tubuh ikan untuk memijah. Menurut Ha r ve y dan Hoar (1979), kondisi lingkungan seperti hujan, habitat, oksigen terlarut, suhu, cahaya, fisika kimia air lainnya akan merangsang otak untuk memerintahkan kelenjar hipothalamus dan hipofisa mensekresikan atau melepas hormon dalam merangsang p emijahan ikan
3.       Adanya rangsangan dari lawan jenis. M enurut Effendie (2004), dalam proses pemijahan, keberadaan lawan jenis kelamin akan merangsang induk ikan untuk memijah. Ransangan ini disebabkan oleh feromen, yaitu suatu zat yang dikeluarkan oleh ikan yang berlawanan jenis kelaminnya tersebut.
4.       Adanya substrat. Pada ikan yang memiliki sifat telur menempel, adanya subtrat pemijahan dapat merangsang terjadinya pemijahan (Effendie, 2004).



PEMBAHASAN


A. JENIS-JENIS HORMON LUAR
1. Kelenjar Hipofisa
Kelenjar hipofisa adalah kelenjar yang menghasilkan berbagai hormon, antara hormon yang berkerja terhadap kelenjar kelamin jantan (testes) Maupun kelenjar kelamin betina (kantong telur). Kelenjar hipofisa ini terletak disebelah bawah bagian depan otak besar (dienchephala) sehingga jika bagian otak ini diangkat maka kelenjar ini akan tertinggal. Dengan demikian, untuk mengambil kelenjar hipofisa maka tulang tengkorak harus di angkat terlebih dahulu.
Kelebihan Dan Kekurangan Hipofisa
Kelebihan dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu lama sampai dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon-hormon lain yang memiliki sifat sinergik.
Kekurangan dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin.
Dari beberapa penelitian mengenai hipofisasi didapatkan bahwa dengan dosis rendah, 1 mg hipofisa ikan mas per kg berat badan resipien dapat menginduksi pematangan telur tetapi tidak menyebabkan ovulasi pada goldenperch, maquaria ambigua. Sedangkan dengan dosis tinggi,15 mg/kg menyebabkan penurunan kemampuan menetas dibanding dengan 10 mg/kg dengan kemampuan menginduksi ovulasi adalah 100%.

2. LHRH (Luteinizing Hormone-Releasing Hormone)
LHRH (luteinizing hormon releasing hormon) adalah hormon dari golongan protein yang dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini molekulnya sangat kecil dibandingkan dengan hormon golongan lainnya, yakni terdiri dari 10 asam amino (dekapeptida). LHRH sebanarnya sama persis dengan GnRH. Karena LHRH waktu paruhnya pendek sehingga mudah terurai dari dalam tubuh maka para ahli menciptakan LHRH sintesis yang lebih tahan. LHRH jenis ini sering dikenal dengan LHRH-analog (LHRH-a). jika hormon yang digunakan adalah LHRH, berarti manipulasi yang dilakukan berada pada tingkat hipofisa.
LHRH-A telah berhasil digunakan dalam menginduksi pemijahan ikan Mas, sidat, salmon, sturgeon, dan lain-lain (Lam, 1985). Di Indonesia pemakaian LHRH-A telah berhasil digunakan dalam menginduksi pemijahan ikan Bandeng. Penggunaan LHRH-A pada ikan tidak saja melalui penyuntikan tetapi juga dengan implantasi menggunakan pellet cholesterol atau implantsilicone rubber. Dengan teknik ini dapat mensuplai LHRH-A dalam waktu lama tanpa penanganan berulang-ulang pada ikan dan memungkinkan induksi pematangan gonad dan pemijahan yang lebih cepat.

3.  17-a-methyltestosteron
Aplikasi hormone ini untuk menjantankan atau membetinakan semua benih ikan yang akan dibudidayakan, telah dilakukan pada beberapa jenis ikan, antara lain ikan mujair, karper, mas koki, dan lain-lain. Caranya dengan menambahkan metiltestosteron pada pakan dengan dosis 15-60 mg/kg pakan dapat menghasilkan 100% jantan. Sedangkan untuk membetinakan benih dapat dilakukan dengan penambahan hormone-hormon estrogenic, sepertiestron, estriol, estradiol. Namun hasil yang dicapai tidak segemilang menjantankan benih.
Hormone ini juga digunakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan melalui aplikasi hormone, juga telah banyak dilakukan, yakni dengan meningkatkan nilai konversi makanan. McBride dan Fegerlund (1973 dalamMatty,1985), telah berhasil menggunakan methyltestosteron untuk mempercepat pertumbuhan juvenile ikan salmon.
Selain mencampur metiltestosteron dalam pakan, aplikasi hormon dapat juga dilakukan dengan cara merendam telur pada fase bintik mata atau merendam induk pada masa untuk ikan vivipar. Waktu perlakuan ini disesuaikan dengan masa diferensiasi gonad. Bila gonad telah berdiferensiasi menjadi ovary atau testis, maka perlakuan tersebut tidak akan memberi hasil sesuai yang diharapkan.

4.      Feromon
Feromon adalah bahan kimia disekresi dan disampaikan ke reseptor pembau dengan reaksi yang spesifik. Fungsi feromon ikan dapat dibagi tiga,yakni:
(1) Sebagai alarm dan pengenalan spesies,
(2) Untuk pengenalan seks dan perubahan tingkah laku seksual,
(3) Untuk pengenalan wilayah

Penganalan Seks dan Perubahan Tingkah Laku Seksual :
Teleostei dan beberapa elasmobranch melakukan komunikasi dengan sinyal kimia untuk mengontrol fertilitas, koordinasi seksual, dan koordinasi tingkah laku seksual. Pada beberapa spesies, ikan jantan tertarik untuk berintegrasi dengan betina melalui bau. Steroid seks merupakan salah satu bahan kimia yang secara spontan membangkitkan afinitas elektrik organolfaktori. Pada ikan mas misalnya, jantan dewasa dapat membedakan ikan betina matang gonad melalui feromon yang terkandung dalam cairan ovary yang dilepaskan sesaat setelah ovulasi. Substansi daya tarik dari gonad umumnya bersumber dari feromon seks yang terlarut dalam air. Ikan guppy (Poecilia reticulate) jantan tertarik pada air yang sebelumnya ditempati betina, terutama oleh betina yang sedang bunting. Feromon seks juga menyebabkan sinkronisasi pelepasan sperma dari jantan dan telur dari betina ikan karper (Cyprinus carpio) sehingga pembuahan dapat terjadi secara efektif.

5. Ovaprim
Ovaprim adalah merek dagang bagi hormone analog yang mengandung 20µg analog salmon gonadotropin releasing hormone (sGnRH) LHRH dan10µg domperidone sejenis anti dopamin, per milliliter (Nandeesha et al, 1990).
Ovaprim digunakan sebagai agen perangsang bagi ikan untuk memijah, kandungan sGnRHa akan menstimulus pituatari untuk mensekresikan GtH I dan GtH II. Sedangkan anti dopamin menghambat hipotalamus dalam mensekresi dopamin yang memerintahkan pituatari menghentikan sekresi GtH I dan GtH II.
Kegunaan Ovaprim antara lain :
Ø Menekan musim pemijahan
Ø Mengatur kematangan gonad selama musim pemijahan normal
Ø Merangsang produksi sperma pada jantan untuk periode waktu yang lama dan volume yang lebih banyak.
Ø Merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan.
Ø Memaksimalkan potensi reproduksi
Ø Mempertahankan materi genetic pada beberapa ikan yang terancam punah
Ø Mempersingkat periode pemijahan.

6. HCG (Human Chorionic Gonadotropin)
HCG juga berperan dalam memacu terjadinya ovulasi, seperti pada ikan Goldfish, penyuntikan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) akan menyebabkan sintesis indomethanin (prostaglandin inhibitor) terhambat sehingga Prostaglandin dapat mendorong ovulasi ikan trout pelangi dan Goldfish. Prostaglandin berperan penting dalam menstimulasi ovulasi ikan teleostei pada tahap akhir. (Jalabert dan Szollosi, 1975 dalam Stacey, 1984).

Perangsangan pemijahan ikan secara hormonal dilakukan dengan menyuntikan hormon tertentu kedalam ke tubuih ikan. Hormon tersebut masuk ke dalam sistem sirkulasi darah ikan dan ketika mencapai organ target (Gonad) langsung berkerja dan mempengaruhi organ tersebut. Dengan demikian, perangsangan pemijahan secara hormonal ini merupakan upaya by pass cara kerja hormon dalam sistem reproduksi ikan.
C.    APLIKASI HORMON SINTETIK DALAM REPRODUKSI IKAN
1. Metode Injeksi
Teknik penyuntikan hormon pada ikan ada 3 yaitu intra muscular (penyuntikan kedalam otot), intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut), dan intra cranial (penyuntikan di kepala) (Susanto, 1999). Dari ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum dan mudah dilakukan adalah intra muscular, karena pada bagian ini tidak merusak organ yang penting bagi ikan dalam melakukan proses metabolisme seperti biasanya dan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Menurut Muhammad dkk (2001) secara intra muscular yaitu pada 5 sisik ke belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirip punggung ikan.
2. Metode implantasi
a). Menggunakan pellet kolesterol, atau
b). Menggunakan implan silikon rubber
c). Melalui Pakan
d). Melalui Perendaman











KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan diatas adalah :
1. Hormon luar sangat berperan penting dalam proses reproduksi ikan karena :
a. Memijahkan ikan yang sistem saraf pusatnya sulit dipengaruhi oleh sinyal lingkungan atau kalaupun bisa pembangkitan sinyal lingkungan tersebut sulit dan mahal serta belum diketahuinya sinyal lingkungan yang bisa mempengaruhi sistem saraf pusat ikan tersebut.
b. Memijahkan ikan diluar musim pemijahannya (out season), terutama pada ikan yang mengenal musim pemijahan tertentu.

2. Beberapa jenis hormon luar yaitu :
LHRH-a
HCG
GnRH ( SGnRHa dan PREGNYL)
17-a-methyltestosteron
Feromon
Kelenjar Hipofisa Dll.










DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R., D.S. Safei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan; Pencernaan. PAU Ilmu Hayat IPB. 215
Ellis, A.E. 1988. Fish Vaccination. Academic Press. 255 h.

Reviuw Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan

Tugas Individu  Reviuw Jurnal
Mata Kuliah Ilmu dan Teknologi Kelautan


Pengaruh Ekstrak Antifouling Bakteri Karang Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 terhadap Penempelan Barnakel
 di Perairan Pantai Teluk Awur



Oleh
AHMADRYADI
1410246019





Image3
 




















PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015



Pengaruh Ekstrak Antifouling Bakteri Karang Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 terhadap Penempelan Barnakel di Perairan Pantai Teluk Awur

Abstrak
Biofouling sebagai hasil dari proses penempelan organisme fouling pada berbagai struktur di lingkungan laut telah menimbulkan banyak kerugian bagi pelaku industri kelautan. Aplikasi cat pelindung antifoulant komersial yang komponen utamanya adalah logam berat seperti, TBT(tri-n-butyl tin), tembaga, telah berkembang menjadi masalah baru sehingga memerlukan cat pelindung yang ramah lingkungan.. Bakteri yang berasosiasi dengan organisme di lingkungan laut diketahui menghasilkan metabolit sekunder sebagai sumber senyawa alternatif antifoulant.
 Bakteri Pelagiobacter variabilis UPS3.37 digunakan sebagai bahan ekstrak kasar yang diformulasikan dengan cat untuk uji mikrofouling dan makrofouling di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar P. variabilis UPS3.37 mempunyai aktifitas antifouling terhadap bakteri fouling. Pada uji makrofouling menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat mampu menurunkan jumlah penempelan barnakel. Terlihat adanya pola semakin tinggi konsentrasi ekstrak kasar semakin meningkatkan aktivitas antifouling. Berdasarkan karakter fenotip tersebut, bakteri P. variabilis UPS3.37 dapat digunakan sebagai organisme probiotik untuk antifouling di dalam menghilangkan penempelan bakteri pada biofilm



Pendahuluan
Biofouling meruapakan proses penempelan organisme fouling pada berbagai struktur di lingkungan laut (kapal, dermaga, pancang maupun penyangga pengeboran lepas pantai). Hal ini tentu  menjadi suatu permasalahan besar bagi pelaku industri kelautan,sehingga mereka menggunakan  aplikasi cat pelindung antifoulant. Pemanfaatan antifoulant komersial tersebut makin meluas seiring dengan perkembangan industri kelautan, yang secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan kandungan bahan pencemar logam berat di lingkungan laut.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan laut, maka penerapan logam berat sebagai cat pelindung dipandang dapat menyebabkan suatu pencemaran logam berat di lingkungan laut. Hal ini terjadi karena logam berat sebagai komponen utama senyawa antifoulant akan terlarut ke dalam perairan laut seiring dengan waktu penggunaan dari cat pelindung tersebut. Metabolit sekunder yang disintesis oleh bakteri laut yang merupakan produk hayati laut (marine natural products) merupakan alternatif bagi sumber senyawa antifoulant baru yang bersifat tidak toksik bagi lingkungan laut. Egan et al. (2001a) melaporkan bahwa bakteri laut Pseudoalteromonas tunicata dan Pseudoalteromonas ulvae (Egan et al., 2001b) mensintesis senyawa antifoulant.
 Pencarian alternatif bagi aplikasi senyawa antifoulant yang berbasis logam berat sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Penanganan biofouling di lingkungan laut serta pemanfaatan senyawa antifoulant yang ramah lingkungan telah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani secara multidisiplin dan serius. Penelitian ini melaporkan uji lapangan (field experiment) ekstrak kasar dari bakteri karang Pelagiobacter variabilis UPS3.37 terhadap penempelan teritip/barnakel di perairan Teluk Awur, Jepara.




Materi dan Metode
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – Mei 2006 di perairan pantai Teluk Awur, Jepara dengan menggunakan Bakteri karang P. variabilis UPS3.37 yang diisolasi dari karang lunak Sarcophyton sp. Bakteri ini dikultur dalam 8 tabung biakan yang masing-masing berisi 25 ml media Zobell cair,kemudian dishaker selama 48 jam. Kemudian masing-masing kultur dipindahkan ke dalam 475 ml media Zobell 2216E sehingga didapat 500 ml kultur massal bakteri, kemudian dishaker lagi  selama 120 jam.
Kultur massal tadi kemudian dipanen dan disentrifuge (2500 rpm) selama 1 jam. Supernatan yang didapat kemudian diekstraksi dalam seporatory funel dengan pelarut metanol, dengan perbandingan supernatan dan pelarut (1 : 1).
Fraksi metanol kemudian diambil dan dikisatkan dengan rotavapour pada suhu 60 0C. Ekstrak kasar (pasta) yang didapat kemudian ditimbang beratnya. Uji microfouling ekstrak kasar Tes uji hambatan pertumbuhan dilakukan antara isolat P.
Metoda yang digunakan dalamuji ini adalah metoda overlay, Isolat P. variabilis UPS3.37 diinokulasikan ke permukaan medium agar Zobell 2216E. Petri tersebut akan diinkubasikan selama 2 hari pada suhu ruangan. Satu persen kultur (v/v) dari setiap target bakteri pembentuk biofilm pada fase logaritma (ca. 109 sel ml-1) akan dicampur dengan soft agar yang kemudian akan dituangkan pada agar media yang sebelumnya telah diinokulasi isolat P. variabilis UPS3.37. kemudian petri akan diinkubasikan pada suhu ruang selama 48 jam. Aktivitas antifouling akan ditentukan oleha adanya pembentukan zona hambatan di sekeliling isolat P. variabilis UPS3.37.
Uji lapangan dilakukan dengan mencampur cat dan senyawa aktif dari ekstrak kasar bakteri asosiasi untuk mengetahui kemampuan senyawa aktif dalam melindungi struktur dari penempelan organismo fouling.
Pengujian dilakukan pada 5 balok kayu berukuran 7 x 14 cm  dan masing-masing diberi tali pengikat. Larutan ekstak kasar dan cat dicampur dengan perbandingan (25:75; 50:50; 75:25; 10: 0). Selanjutnya larutan campuran tersebut digunakans untuk mengecat panel kayu yang tersedia,  satu balok tanpa penambahan ekstrak aktif karna digunakan sebagai kontrol. Setelah dikeringkan selama 3 hari, kayu tersebut diikatkan dengan tali plastik dan dipasang pada tiang penyangga dermaga di laut. Balok kayu tersebut ditempatkan 50 cm dibawah permukaan laut pada surut terendah selama 35 hari. Kemudian dihitung jumlah barnakel yang menempel.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pengamatan, terlihat adanya pembentukan zona hambatan pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm. Hal ini menunjukkan adanya aktivitas antifouling dari ekstrak kasar bakteri tersebut yang dapat dilanjutkan pada uji macrofouling di lapang. Langkah pertama di dalam pengembangan biofilm adalah adsorpsi makromolekul organik untuk membuat kondisi yang memungkinkan pembentukan film/lapisan. Kondisi tersebut kemudian diikuti oleh penempelan bakteri dan organisme sel tunggal lainnya. Dikatakan bahwa penghambatan pembentukan biofilm secara efektif pada langkah awal ini adalah kurangnya kondisi karakterisitik permukaan struktur yang diperlukan larva barnakel untuk menempel (Satuito et al., 1997; Wieczorek and Todd,1997).
Oleh karena itu, pengembangan suatu cat dengan aktivitas antibakteri mungkin dapat mengganggu tahap awal pengembangan biofilm, dan menyediakan suatu pelapisan antifouling yang efektif untuk perlindungan struktur di laut. Hasil uji macrofouling penempelan barnakel.
tersebut terlihat bahwa ekstrak kasar bakteri P. variabilis UPS3.37 menunjukkan aktivitas antifouling pada perlakuan pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat dengan terjadinya pengurangan jumlah penempelan barnakel. Hasil ini berbeda dengan laporan hasil penelitian terdahulu yang melaporkan bahwa aktifitas antifouling kebanyakan hanya berasal dari genus Bacillus dan Pseudomonas. Hasil tersebut diduga hanya Jumlah barnakel pada berbagai konsentrasi ekstrak kasar (Keterangan: K0 : kontrol; K1: 25% ekstrak:75% cat; K2: 50% ekstrak:50% cat; K3: 75% ekstrak: 25% cat; K4: 100% ekstrak) 0 100 200 300 400 500 K0 K1 K2 K3 K4 Konsentrasi Ekstrak : Cat (%) Jumlah Barnakel.
merupakan refleksi metode kultur yang digunakan daripada indikasi keragaman spesies pada permukaan film (Burgess et al., 2003). Meskipun pada konsentrasi ekstrak lainnya tidak menunjukkan adanya aktivitas antifouling, namun pada pengamatan tersebut terlihat adanya trend/pola penurunan jumlah organisme penempel pada kayu dengan semakin meningkatnya jumlah pemberian ekstrak kasar. Diduga perbedaan respon yang diberikan pada setiap perlakuan terhadap jumlah penempelan barnakel karena adanya perbedaan kuantitas dan laju pelepasan senyawa aktif antifouling dari ekstrak. Burgess et al. (2003) menyatakan bahwa pada saat ekstrak diberikan bersama-sama dengan cat akan memberikan laju pembebasan senyawa aktif ke permukaan cat dengan kecepatan yang berbeda dan memiliki perbedaan aktivitas terhadap cakupan target organisme.
Holmstrom dan Kjelleberg (1999) mempelajari secara detail tentang aktivitas antifouling pada bakteri P. tunicata yang diisolasi dari tunicata Ciona intestinalis menghasilkan 5 jenis senyawa ekstraselular yang dapat menghambat penempelan atau perkembangan spesies yang mengkolonisasi permukaan. Senyawa yang belum diidentifikasi ini menghambat penempelan hewan avertebrata, spora alga, pertumbuhan bakteri dan jamur serta diatome. Uji di lapangan biasanya memberikan hasil yang kurang signifikan yang diduga kejadian ini disebabkan oleh terlalu cepatnya senyawa aktif terlepas dari cat (leached), sehinggga aktivitas antifouling dari ekstrak hilang dalam waktu yang singkat. (Matsumura et al., 2000).

Kesimpulan
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar antifouling bakteri P. variabilis UPS3.37 dapat menurunkan jumlah penempelan barnakel. Aktivitas antifouling terjadi pada pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat dan diharapkan fenotip ini dapat digunakan sebagai probiotik untuk seyawa baru antifouling di dalam mencegah penempelan bakteri pembentuk biofilm.

Koreksi Junral
Kekurangan :
1.       Dalam penelitian ini tidak ada diangkat tentang tentang objek yang bergerak dan jenis unsur objek yang diteliti
2.       Tidak dijelaskan tentang pengaruh parameter air lainnya terhadap proses biofouling
3.       Dalam penelitian ini tidak ada dijelaskan tentang biomelekuler bakteri Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 sehingga bisa diketahui sebab bakteri ini mampu melawan atau menghambat proses pertumuhan organisme fouling
Kelebihan :
1.       Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang cukup lama dan pada objek yang secara terus menerus terendam air, sehingga mewakili objek laut yang sebenarnya
2.       Penelitian ini berhasil menjelaskan tentang kemampuan bakteri pelagiobacter variabilis dalam mengrurangi penempelan bernakel
3.       Penelitian ini mengangkat problema industri kelautan , sangat bermanfaat dalam kemajuan industri yang notabene akan merusak lingkungan dengan pencemaran jika tetap menggunak cat dengan kandungan logam tinggi



MANAJEMEN PRODUKSI AKUAKULTUR (Metode Pemberian Pakan)

Makalah

MANAJEMEN PRODUKSI AKUAKULTUR
Strategi Pemberian Pakan


Oleh

AHMADRYADI
1410246019





Image3
 














PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul Manajemen Produksi Akuakultur dan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah AnalisaDaerah Penangkapan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
    Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.








                                                                                                                                        Penulis




PENDAHULUAN

Ikan merupakan bahan pangan yang banyak digemari, karenamemiliki kandungan yang kaya akanvitamin A, vitamin D, fosfor, magnesium, selenium, yodium, serta kalsium. Secara mendasar ikan memiliki protein hewani yang sama dengan daging sapi, namun kelebihan ikan adalah memiliki kandungan total lemak yang paling rendah dibandingkan sumber protein hewani lainnya dan nutrisinya sangat mudah diserap tubuh. Besarnya kandungan gizi ikan, harga ikan yang relative murah dan semua agama menghalalkan konsumsi ikan menyebabkan tingginya permintaan akan ikan. Kebutuhan ikan sebagai sumber protein meningkat pesat, ditengah semakin langkanya ikan tangkapan dari laut, budidaya ikan air tawar menjadi pilihan untuk memenuhi permintaan pasar.
Pakan yang baik pada ikan dalam sistem produksi  adalah hal yang penting untuk memproduksi ikan yang sehat dan berkualitas tinggi. Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap lingkungan. Pemilihan pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan usaha. Berdasarkan beberapa keadaan dan permasalahan tersebut perlu dilakukan penulisan ilmiah mengenai “Peran Pakan dalam Keberhasilan Budidaya Ikan Air Tawar” dalam rangka turut memberikan masukan kepada pihak terkait.
Menurut Darmanto (2000), Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva atau benih ikan dan udang. Beberapa jenis pakan alami yang sesuai untuk benih ikan air tawar, antara lain lnfusoria (Paramaecium sp.), Rotifera (Brachionus sp.), Kladosera (Moina sp.), dan Daphnia sp. Pakan alami tersebut mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan mudah dicerna dalam usus benih ikan. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil sangat sesuai dengan lebar bukaan mulut larva/benih ikan. Sifatnya yang selalu bergerak aktif akan merangsang benih/larva ikan untuk memangsanya. Pakan alami ini dapat diibaratkan "air susu ibu" bagi larva/benih ikan yang dapat memberikan gizi secara lengkap sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Pelet adalah bentuk makanan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang kita ramu dan kita jadikan adonan, kemudian kita cetak sehingga bentuknya merupakan batangan kecil-kecil seperti bentuk obat nyamuk bakar. Panjangnya biasanya berkisar 1-2 cm. Jadi pelet tidak berupa tepung, tidak berupa butiran, dan juga tidak berupa larutan (Mudjiman, 1996). Menurut Syahputra (2009) usaha budidaya ikan saat ini semakin intensif menuntut tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesinambungan.
Ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya ikan. Pakan berkualitas harus memiliki kandungan nutrisi ikan dan mudah dicerna, sehingga dapat diserap oleh tubuh ikan (Khairuman dan Amri, 2002). Konversi dan efisiensi pakan erat hubungannya dengan nilai kecernaan yang menggambarkan persentase nutrien yang dapat diserap oleh saluran pencernaan tubuh ikan. Semakin besar nilai kecernaan suatu pakan maka semakin banyak nutrien pakan yang dimanfaatkan oleh ikan tersebut.
Penyerapan nutrien oleh tubuh dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas pakan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Nutrien yang dimanfaatkan oleh ikan dapat mempengaruhi penyediaan energi protein dan non protein dalam tubuh. Semakin banyak energi yang tersedia dalam tubuh akan meningkatkan kemampuan ikan untuk mengubah energi tersebut dan disimpan dalam bentuk daging berupa protein dan lemak (Akbar, 2000).




PEMBAHASAN

Pakan Yang Baik Untuk Ikan
Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam lemak esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Akan tetapi, perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk digambarkan dikarenakan banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan setelah penyerapan di dalam pencernaan ikan Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan baku pakan (feedstuffs) yang bermutu yang dapat berasal dari berbagai sumber dan sering kali digunakan karena sudah tidak lagi dikonsumsi oleh manusia.
Pemilihan bahan baku tersebut tergantung pada kandungan bahan gizinya; kecernaannya (digestibility) dan daya serap (bioavailability) ikan; tidak mengandung anti nutrisi dan zat racun; tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah. Umumnya bahan baku berasal dari material tumbuhan dan hewan. Ada juga beberapa yang berasal dari produk samping atau limbah industri pertanian atau peternakan. Bahan-bahan tersebut bisa berasal dari lokasi pembudidaya atau didatangkan dari luar.

Pakan Yang Tidak Baik Untuk Ikan
Untuk memproduksi pakan yang berkualitas diperlukan bahan baku pakan yang juga berkualitas. Bahan-bahan baku tersebut perlu dilindungi selama proses ataupun selama penyimpanan. Beberapa bahan baku juga mengandung zat anti nutrisi yang dapat menghambat pemanfaatan gizi (seperti protein) oleh ikan atau udang. Sebagai contoh: jenis kacang-kacangan yang mengandung zat penghambat tripsin dan kimortripsin (asam amino) sehingga enzim yang ada didalam ikan tidak dapat menyerap protein. Oleh karena itu, beberapa bahan baku perlu dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam formulasi pakan. sebagian zat anti nutrisi ada yang mudah dihilangkan cukup dengan pemanasan, tetapi ada juga yang sulit dihilangkan dengan pemanasan.
Dalam menyiapkan pakan, sasaran utama bukan hanya mencampur bahan-bahan baku tetapi melindungi bahan-bahan baku tersebut selama proses. Seringkali, sebelum bahan-bahan tersebut digunakan, bahan tersebut harus diproses untuk menghilangkan zat-zat yang dapat menghambat pemanfaatan bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Proses tersebut bertujuan agar gizi pakan lebih efektif dimanfaatkan oleh ikan. Penyimpanan pakan juga harus diperhatikan seperti proses penyiapan dan pengolahan, karena mempengaruhi umur simpan dari pakan tersebut. Zat anti nutrisi pada beberapa bahan baku dan cara menghilangkan atau menghambatnya :
1.  Inhibitor tripsin :  Berikatan dengan tripsin sehingga tripsin tidak aktif
2.  Kedelai dan kacang-kacangan : Pemanasan pada suhu 175-1950C atau pemasakan selama 10 menit
3.  Lektin : Merusak sel darah merah
4.  Kedelai dan kacang-kacangan : di diidihkan dalam air atau autoclave selama 30 menit.
5. Goitrogen : Menghambat pemasukan iodin oleh kelenjar tiroid
6. Kedelai dan kacang-kacangan : Kukus atau autoclave selama 30 menit
7. Anti vitamin D : Berikatan dengan Vitamin D dan menjadikan tidak berfungsi
8. Anti vitamin E : Berkontribusi terhadap defisiensi Vitamin E
9. Thiaminase : Berpengaruh terhadap kerusakan thiamin (Vitamin B1)
10. Ikan rusak, kijing dan kedelai : Autoclave, pemanasan dan pemasakan zat yang tahan terhadap pemanasan
11. Estrogen (isoflavon) : Mengganggu terhadap kinerja reproduksi
12. Tanaman glikosida : Ekstraksi pelarut
13. Gossipol : Berikatan dengan fosfor dan beberapa protein
14. Tepung biji kapas : Penambahan garam besi dan fitase
15. Tannin : Berikatan protein menghambat pencernaan tripsin digestion
16. Sianogen : Melepaskan racun asam hidrosianik
17. Daun singkong : Perendaman dalam air selama 12 jam
18. Mimosin : Menggangu sintesis enzim dalam hati; merusak sell hepatopankreas pada udang
19. Daun Ipil-ipil : Perendaman dalam air selama 24 jam
20. Peroksida : Berikatan dengan proteins dan vitamin
21. Phytates : Berikatan dengan protein dan mineral dan menurunkan daya serapnya
22. Tepung jagung, kulit sereal, dan kacang-kacangan : Dikuliti (dibuang kulitnya).

Perhitungan Cara Pemberian Pakan Dalam Satu Kolam
Tujuan pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi untuk kesehatan yang baik, pertumbuhan dan hasil panenan yang optimum, produksi limbah yang minimum dengan biaya yang masuk akal demi keuntungan yang maksimum. Pakan yang berkualitas kegizian dan fisik merupakan kunci untuk mencapai tujuan-tujuan produksi dan ekonomis budidaya ikan. Pengetahuan tentang gizi ikan dan pakan ikan berperan penting di dalam mendukung pengembangan budidayaikan (aquaculture) dalam mencapai tujuan tersebut. Konversi yang efisien dalam memberi makan ikansangat penting bagi pembudidaya ikan sebab pakan merupakan komponen yang cukup besar dari total biaya produksi. Bagi pembudidaya ikan, pengetahuan tentang gizi bahan baku dan pakan merupakan sesuatu yang sangat kritis sebab pakan menghabiskan biaya 40-50% dari biaya produksi.
Dalam praktiknya, baik pakan alami maupun pakan buatan diberikan kepada ikan dengan dosis 3-5 % dari bobot ikan perhari. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari atau malam hari. Namun demikian, ada juga ahli yang menyarankan bahwa pemberian pakan ikan tidak selalu tergantung pada waktu-waktu tersebut tetapi dilakukan kapan saja selagi ikan masih mau makan. Dengan demikian, jumlah pakan yang diberikan bisa saja lebih dari 3-5 %. Hal ini dapat dilakukan dengan syarat pakan yang diberikan dimanfaatkan secara optimal oleh ikan.
Misal pemberian pakan sebesar 4 % per hari dari jumlah bobot ikan yang dipelihara pada satu kolam. Jumlah ikan dalam kolan 500 ekor dengan berat per ekor ikan 100 gram. Maka jumlah pakan yang diberikan untuk satu hari adalah:
500 ekor x 100 gram x 4 % = 2000 gram atau 2 kg
Jadi jumlah pakan yang diberikan sebanyak 2 kg/hari.

Kelebihan Pakan Alami dan Pakan Buatan
Kelebihan yang dimiliki oleh pakan alami dibandingkan dengan buatan, antara lain adalah: (a) Harga pakan alami relative lebih murah jika dibandingkan pakan buatan; (b) Pakan alami umumnya mudah dicerna, nilai gizi pakan alami lebih lengkap,  sesuai dengan tubuh ikan, dan tidak menyebabkan penurunan kualitas air pada wadah budidaya ikan; dan (c) Tingkat pencemaran terhadap air kultur akan lebih rendah daripada menggunakan pakan buatan.
Sedangkan kelebihan yang dimiliki oleh pakan buatan dibandingkan dengan pakan alami, antara lain adalah: (a) Kelebihan pakan buatan adalah mengurangi kemungkinan penularan penyakit (dibandingkan dengan makanan alami). Pakan alami adalah organisme hidup yang tentunya dapat terserang oleh penyakit pada media hidupnya. Penyekit yang menyerang pakan alami dapat berpindah pada ikan yang kita budidayakan, setelah pakan alami dimakan oleh ikan; (b) Pengelolaan kualitas, kuantitas dan kuntinuitas pakan buatan jauh lebih mudah  dibandingkan pakan alami. Pakan buatan tidak memerlukan pemeliharaan, pakan buatan yang diproduksi oleh pabrik dapat dibeli ketika diperlukan sehingga pekerjaan pembudidayaan lebih ringan, waktu yang diperlukan lebih sedikit dan hemat tenaga kerja.

Pemilihan Pakan Ikan yang Tepat
Beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan pakan ikan yang tepat, antara lain berupa:
1. Mutu pakan yang tinggi, dilihat dari:
a). Formula pakan ikan yang dipilih harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, dilihat dari kandungan nutrisi makanan yang menyangkut: protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan.
b). Bahan formulasi pakan sesuai dengan jenis makanan dan panjangnya usus ikan yang dibudidayakan. Pemilihan jenis pakan yang sesuai dengan karakteristik jenis makanan dan panjangnya usus ikan akan meningkatkan ratio konversi makanan ikan menjadi daging ikan.
c). Tidak mengandung antibiotik dan zat racun.
d). Memperhatikan batas kadaluarsa pakan.
2. Bentuk dan karakteristik pakan sesuai kebutuhan, dilihat dari:
a).  Ukuran pakan dipilih sesuai dengan umur dan bukaan mulut ikan.
b).  Memiliki  aroma yang disukai ikan yang dibudidayakan.
c).  Kestabilan pakan dan ketahanan pakan dalam air sesuai dengan kebiasaan makan ikan.
3. Secara ekonomis menguntungkan, dilihat dari:
a).  Mudah diperoleh (kuntinuitas dan kemudahan transportasi).
b). Harganya relatif murah jika dibandingkan harga ikan yang dibudidayakan, dengan ratioharga pakan maksimal 70% dari harga ikan.



KESIMPULAN

Pakan merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya karena ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan pada ikan dalam sistem produksi, berupa: ikan yang sehat, tumbuh optimal dan berkualitas tinggi. Dismping itu, Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-75% dari biaya produksi, sehingga strategi yang baik apat menekan biaya produksi dalam kegiatan  dalam budidaya ikan.



DAFTAR PUSTAKA
Akbar, A. D. 2002. Pengaruh Penggantian Tepung Terigu dengan Tepung Singkong terhadap Efisiensi Pakan dan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Skripsi. IPB. Bogor. 43 hal.
Darmanto dkk, 2000. Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian - Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. di download dari http://defishery.files.wordpress.com/2009/11/budidaya-pakan-alami-untuk-benih-air-tawar.pdf.
Effendi I., dkk. 2012. Materi Pokok Budidaya Perikanan; 1- 9; MMPI5201/3sks Cetakan ketiga Edisi 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.              
Khairuman dan Amri, 2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. PT. Agro Media Pustaka, Depok.
Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 – 135.         
Syahputra, A., 2009. Rancang Bangun Alat Pembuat Pakan Ikan Mas dan Ikan Lele Bentuk Pelet. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.