Tugas Mata Kuliah Manajeme Produksin Akuakultur
Makalah
PERANAN HORMON DALAM
PROSES
REPRODUKSI IKAN
![]() |
PASCASARJANA ILMU
KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR
Segala bentuk rasa syukur atas
semua kenikmatan yang dilimpahkan Sang Pencipta Allah SWT kepada penulis,
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam
makalah ini tidak terlepas dari kekurangan didalam penulisan dan penyusunannya.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan
dari semua pihak menuju perbaikan kearah kemajuan demi kesempurnaan makalah ini
dan dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya.
Pekanbaru, 2015
Penulis
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
HORMON DARI LUAR
Hormon merupakan suatu senyawa
yang ekskresikan oleh kelenjar endokrin, dimana kelenjar endokrin adalah
kelenjar buntu yang tidak memiliki saluran (Zairin,2002). Kelenjar endokrin
pada ikan menurut Lagleret al. (1962) dalam Gusrina(2008) terdapat beberapa
organ antara lain adalah pituitari, pineal, thymus, jaringan ginjal, jaringan
kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannus, thyroid, ultibranchial,
pancreatic islets, intestinal tissue, intestitial tissue of gonads
danurohypophysis. Beberapa hormon sangat berperan dalam proses reproduksi ikan
, selain hormon primer dan sekunder yang terdapat dalam tubuh ikan adapula
hormon luar (sintesis) yang dapat mempengaruhi proses pematangan gonad ikan. Hormon
Luar adalah suatu senyawa sintetik yang berfungsi untuk menginduksi terjadinya
ovulasi.
B. PERANAN
HORMON LUAR DALAM PROSES REPRODUKSI IKAN
Proses pemijahan adalah proses
yang ditujukan oleh suatu species ikan dalam bentuk tingkah laku melakukan
perkawinan. Pada ikan air tawar yang hidup di perairan tropis, terlihat bahwa
musim memijah ikan lebih panjang waktunya. Setiap individu lain, namun demikian
masih tetap terlihat adanya puncak-puncak musim memijah dalam setiap periode
waktu tertentu (Peter dan Hontela dalam Deswita 1995). Dalam proses reproduksi,
sebelum terjadi pemijahan gonad semakin besar dan berat.
Berat gonad akan mencapai
maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian menurun dengan cepat selama
pemijahan sampai selesai (Effendie, 1979). Abidin (1996) menyatakan selama
dalam proses perkembangan
baik dalam tahap pertumbuhan maupun tahap pematangan gonad atau produksi, gonad
ikan akan mengalami perubahan-perubahan, seperti perubahan berat, volume serta
perubahan morfologi. Perubahan-perubahan ini sering dipakai sebagai indikator
dalam menentukan tingkat perkembangan gonad dalam proses oogenesis pada ikan
betina atau spermatogenesis pada ikan jantan.
Bye (1984) menyatakan bahwa
umumnya species ikan menunjukkan siklus reproduksi tahunan (annual), tengah
tahunan (binual) dan siklus reproduksi akan tetap berlangsung selama fungsi
reproduksi masih normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus reproduksi ikan
di perairan terdiri dari faktor fisika, kimia dan biologi. Untuk ikan di daerah
tropis faktor fisika yang utama mengontrol siklus reproduksi adalah substrat
dan arus, faktor kimia adalah gas-gas terlarut; pH, nitrogen, metabolik,
alkalinity, kesadahan dan zat buangan yang berbahaya bagi kehidupan ikan di
perairan. Selanjutnya faktor biologi di bagi atas faktor biologi dalam dan
faktor biologi luar.
Faktor biologi dalam meliputi
faktor fisiologi individu dan respon terhadap berbagai faktor lingkungan.
Faktor biologi luar yang penting adalah predator dan kompetisi sesama species
ikan tertentu atau dengan species lain.
Berdasarkan dinamika perkembangan
oosit, Wallace dan Selma (1980) dan De Vlamming dalam Syandri (1993)
mengklasifikasikan pola perkembangan gonad ikan Teleostei ada tiga type yaitu:
1. Tipe Sinkronisme total, oosit
dalam ovari dibentuk dalam waktu yang bersamaan, tumbuh bersama-sama melalui
tahapan perkembangan dan tidak ditemukan adanya oosit pada tingkat perkembangan
yang berbeda.
2. Type ovari demikian ditemukan
pada species yang bersifat anadromus dan katadromus ya ng mempunyai musim
pemijahan sangat terbatas dan harus bermigrasi cukup jauh untuk mencapai lokasi
pemijahan
3. Tipe Sinkronisme kelompok,
ditemukan paling tidak dua populasi yang berbeda pada tingkat perkembangan
oosit yang berbeda. Kebanyakan species Cyprinidae mempunyai pola perkembangan
ovari yang demikian.
4. Tipe Asinkronisme, ditemukan
oosit pada tingkat perkembangan yang berbeda, sementara oosit baru terus
muncul. Ditemukan pada spec ies ikan yang memijah sepanjang tahun.
Lowe Me Connel (1975) menyatakan
bahwa berdasarkan kepada pola pemijahannya, ada 4 tipe reproduksi ikan air
tawar yang mengisi perairan tropis yaitu :
1. Tipe “Big Bang Spawner” yaitu
species ikan yang memijah satu kali seumur hidupnya.
2. Tipe “Total Spawner” yaitu
golongan ikan yang mengeluarkan telurnya secara keseluruhan pada satu kali
memijah. Tipe reproduksi seperti ini mempunyai fekunditas yang tinggi dan musim
pemijahan yang terbatas.
3. Tipe “Partial Spawner” atau
“Multiple Spawner” yaitu ikan yang berpijah di sungai dikaitkan dengan
fluktuasi tingginya permukaan air akibat hujan atau banjir. Beberapa ikan dari
famili Cyprinidae, Characoida e dan Siluridae tergolong pada pemijahan ini.
4. Tipe “Small Brood Spawner” yaitu
golonga n ikan air tawar yang mempunyai fekunditas sangat sedikit dan umumnya
species ikan yang melindungi telur dan anak di dalam mulutnya.
Menurut Effendie (2004),
berdasarkan sifatnya proses pemijahan ikan bisa berlangsung dalam dua cara
yaitu :
1. Pemijahan Alami, Dalam
pemijahan alami, telur dibuahi oleh sperma dalam air setelah dikeluarkan oleh
induk betina. Proses ini biasanya didahului oleh aktivitas percumbuan oleh
kedua induk ikan tersebut. Pemijahan induk ikan secara alamiah bisa berlangsung
secara berkelompok atau berpasangan.
2. Pemijahan Buatan, Pada pemijahan
buatan dilakukan dengan ikut campur tangan manusia, yaitu melalui penyuntikan
atau ransangan hormon.
Ada 3 komponen yang mempengaruhi proses pemijahan pada ikan, yaitu gonad,
sistem hormon dan lingkungan. Ketiga komponen ini saling mempengaruhi satu sama
lainnya.
Ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi agar suatu proses pemijahan dapat berlangsung, yaitu :
1. Individu ikan jantan dan betina
sudah matang gonad. Ikan yang siap untuk dipijahkan sudah berada pada tingkat
kematangan IV (Effendie, 1979). Tingkat kematangan gonad dari suatu individu
dapat ditunjukan dengan melihat alat kelamin ataupun morfologi dari tubuh ikan
yang akan dipijahkan.
2. Adanya rangsangan lingkungan. Hal
ini berhubungan timbulnya ransangan hormon dalam tubuh ikan untuk memijah.
Menurut Ha r ve y dan Hoar (1979), kondisi lingkungan seperti hujan, habitat,
oksigen terlarut, suhu, cahaya, fisika kimia air lainnya akan merangsang otak
untuk memerintahkan kelenjar hipothalamus dan hipofisa mensekresikan atau
melepas hormon dalam merangsang p emijahan ikan
3. Adanya rangsangan dari lawan
jenis. M enurut Effendie (2004), dalam proses pemijahan, keberadaan lawan jenis
kelamin akan merangsang induk ikan untuk memijah. Ransangan ini disebabkan oleh
feromen, yaitu suatu zat yang dikeluarkan oleh ikan yang berlawanan jenis
kelaminnya tersebut.
4. Adanya substrat. Pada ikan yang
memiliki sifat telur menempel, adanya subtrat pemijahan dapat merangsang
terjadinya pemijahan (Effendie, 2004).
PEMBAHASAN
A. JENIS-JENIS
HORMON LUAR
1. Kelenjar
Hipofisa
Kelenjar hipofisa adalah kelenjar
yang menghasilkan berbagai hormon, antara hormon yang berkerja terhadap
kelenjar kelamin jantan (testes) Maupun kelenjar kelamin betina (kantong
telur). Kelenjar hipofisa ini terletak disebelah bawah bagian depan otak besar
(dienchephala) sehingga jika bagian otak ini diangkat maka kelenjar ini akan
tertinggal. Dengan demikian, untuk mengambil kelenjar hipofisa maka tulang
tengkorak harus di angkat terlebih dahulu.
Kelebihan Dan Kekurangan Hipofisa
Kelebihan dari hormon hipofisa
adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu lama sampai dua tahun. Penggunaan
hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak
membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar
berat tubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon-hormon lain
yang memiliki sifat sinergik.
Kekurangan dari teknik hipofisasi
adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh
ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya
kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akan
merubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin.
Dari beberapa penelitian mengenai
hipofisasi didapatkan bahwa dengan dosis rendah, 1 mg hipofisa ikan mas per kg
berat badan resipien dapat menginduksi pematangan telur tetapi tidak
menyebabkan ovulasi pada goldenperch, maquaria ambigua. Sedangkan dengan dosis
tinggi,15 mg/kg menyebabkan penurunan kemampuan menetas dibanding dengan 10
mg/kg dengan kemampuan menginduksi ovulasi adalah 100%.
2. LHRH (Luteinizing
Hormone-Releasing Hormone)
LHRH (luteinizing hormon
releasing hormon) adalah hormon dari golongan protein yang dihasilkan oleh
hipotalamus. Hormon ini molekulnya sangat kecil dibandingkan dengan hormon
golongan lainnya, yakni terdiri dari 10 asam amino (dekapeptida). LHRH
sebanarnya sama persis dengan GnRH. Karena LHRH waktu paruhnya pendek sehingga
mudah terurai dari dalam tubuh maka para ahli menciptakan LHRH sintesis yang
lebih tahan. LHRH jenis ini sering dikenal dengan LHRH-analog (LHRH-a). jika
hormon yang digunakan adalah LHRH, berarti manipulasi yang dilakukan berada
pada tingkat hipofisa.
LHRH-A telah berhasil digunakan
dalam menginduksi pemijahan ikan Mas, sidat, salmon, sturgeon, dan lain-lain
(Lam, 1985). Di Indonesia pemakaian LHRH-A telah berhasil digunakan dalam
menginduksi pemijahan ikan Bandeng. Penggunaan LHRH-A pada ikan tidak saja
melalui penyuntikan tetapi juga dengan implantasi menggunakan pellet
cholesterol atau implantsilicone rubber. Dengan teknik ini dapat mensuplai
LHRH-A dalam waktu lama tanpa penanganan berulang-ulang pada ikan dan
memungkinkan induksi pematangan gonad dan pemijahan yang lebih cepat.
3. 17-a-methyltestosteron
Aplikasi hormone ini untuk
menjantankan atau membetinakan semua benih ikan yang akan dibudidayakan, telah
dilakukan pada beberapa jenis ikan, antara lain ikan mujair, karper, mas koki,
dan lain-lain. Caranya dengan menambahkan metiltestosteron pada pakan dengan
dosis 15-60 mg/kg pakan dapat menghasilkan 100% jantan. Sedangkan untuk
membetinakan benih dapat dilakukan dengan penambahan hormone-hormon estrogenic,
sepertiestron, estriol, estradiol. Namun hasil yang dicapai tidak segemilang
menjantankan benih.
Hormone ini juga digunakan untuk
meningkatkan laju pertumbuhan melalui aplikasi hormone, juga telah banyak
dilakukan, yakni dengan meningkatkan nilai konversi makanan. McBride dan
Fegerlund (1973 dalamMatty,1985), telah berhasil menggunakan methyltestosteron
untuk mempercepat pertumbuhan juvenile ikan salmon.
Selain mencampur metiltestosteron
dalam pakan, aplikasi hormon dapat juga dilakukan dengan cara merendam telur
pada fase bintik mata atau merendam induk pada masa untuk ikan vivipar. Waktu
perlakuan ini disesuaikan dengan masa diferensiasi gonad. Bila gonad telah
berdiferensiasi menjadi ovary atau testis, maka perlakuan tersebut tidak akan
memberi hasil sesuai yang diharapkan.
4. Feromon
Feromon adalah bahan kimia
disekresi dan disampaikan ke reseptor pembau dengan reaksi yang spesifik. Fungsi
feromon ikan dapat dibagi tiga,yakni:
(1) Sebagai alarm dan pengenalan
spesies,
(2) Untuk pengenalan seks dan
perubahan tingkah laku seksual,
(3) Untuk pengenalan wilayah
Penganalan Seks dan Perubahan Tingkah Laku Seksual :
Teleostei dan beberapa
elasmobranch melakukan komunikasi dengan sinyal kimia untuk mengontrol
fertilitas, koordinasi seksual, dan koordinasi tingkah laku seksual. Pada
beberapa spesies, ikan jantan tertarik untuk berintegrasi dengan betina melalui
bau. Steroid seks merupakan salah satu bahan kimia yang secara spontan
membangkitkan afinitas elektrik organolfaktori. Pada ikan mas misalnya, jantan
dewasa dapat membedakan ikan betina matang gonad melalui feromon yang
terkandung dalam cairan ovary yang dilepaskan sesaat setelah ovulasi. Substansi
daya tarik dari gonad umumnya bersumber dari feromon seks yang terlarut dalam
air. Ikan guppy (Poecilia reticulate) jantan tertarik pada air yang sebelumnya
ditempati betina, terutama oleh betina yang sedang bunting. Feromon seks juga
menyebabkan sinkronisasi pelepasan sperma dari jantan dan telur dari betina
ikan karper (Cyprinus carpio) sehingga pembuahan dapat terjadi secara efektif.
5. Ovaprim
Ovaprim adalah merek dagang bagi
hormone analog yang mengandung 20µg analog salmon gonadotropin releasing
hormone (sGnRH) LHRH dan10µg domperidone sejenis anti dopamin, per milliliter
(Nandeesha et al, 1990).
Ovaprim digunakan sebagai agen
perangsang bagi ikan untuk memijah, kandungan sGnRHa akan menstimulus pituatari
untuk mensekresikan GtH I dan GtH II. Sedangkan anti dopamin menghambat
hipotalamus dalam mensekresi dopamin yang memerintahkan pituatari menghentikan
sekresi GtH I dan GtH II.
Kegunaan Ovaprim antara lain :
Ø Menekan musim pemijahan
Ø Mengatur kematangan gonad selama musim pemijahan normal
Ø Merangsang produksi sperma pada jantan untuk periode waktu yang lama dan
volume yang lebih banyak.
Ø Merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan.
Ø Memaksimalkan potensi reproduksi
Ø Mempertahankan materi genetic pada beberapa ikan yang terancam punah
Ø Mempersingkat periode pemijahan.
6. HCG (Human
Chorionic Gonadotropin)
HCG juga berperan dalam memacu
terjadinya ovulasi, seperti pada ikan Goldfish, penyuntikan hormon human
chorionic gonadotropin (hCG) akan menyebabkan sintesis indomethanin
(prostaglandin inhibitor) terhambat sehingga Prostaglandin dapat mendorong
ovulasi ikan trout pelangi dan Goldfish. Prostaglandin berperan penting dalam
menstimulasi ovulasi ikan teleostei pada tahap akhir. (Jalabert dan Szollosi,
1975 dalam Stacey, 1984).
Perangsangan pemijahan ikan
secara hormonal dilakukan dengan menyuntikan hormon tertentu kedalam ke tubuih
ikan. Hormon tersebut masuk ke dalam sistem sirkulasi darah ikan dan ketika
mencapai organ target (Gonad) langsung berkerja dan mempengaruhi organ
tersebut. Dengan demikian, perangsangan pemijahan secara hormonal ini merupakan
upaya by pass cara kerja hormon dalam sistem reproduksi ikan.
C. APLIKASI
HORMON SINTETIK DALAM REPRODUKSI IKAN
1. Metode Injeksi
Teknik penyuntikan hormon pada
ikan ada 3 yaitu intra muscular (penyuntikan kedalam otot), intra peritorial
(penyuntikan pada rongga perut), dan intra cranial (penyuntikan di kepala)
(Susanto, 1999). Dari ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum dan mudah dilakukan
adalah intra muscular, karena pada bagian ini tidak merusak organ yang penting
bagi ikan dalam melakukan proses metabolisme seperti biasanya dan tingkat
keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Menurut Muhammad dkk
(2001) secara intra muscular yaitu pada 5 sisik ke belakang dan 2 sisik ke
bawah bagian sirip punggung ikan.
2. Metode implantasi
a). Menggunakan pellet
kolesterol, atau
b). Menggunakan implan silikon
rubber
c). Melalui Pakan
d). Melalui Perendaman
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan diatas adalah :
1. Hormon luar sangat berperan
penting dalam proses reproduksi ikan karena :
a. Memijahkan ikan yang sistem saraf pusatnya sulit dipengaruhi oleh sinyal
lingkungan atau kalaupun bisa pembangkitan sinyal lingkungan tersebut sulit dan
mahal serta belum diketahuinya sinyal lingkungan yang bisa mempengaruhi sistem
saraf pusat ikan tersebut.
b. Memijahkan ikan diluar musim pemijahannya (out season), terutama pada
ikan yang mengenal musim pemijahan tertentu.
2. Beberapa jenis
hormon luar yaitu :
LHRH-a
HCG
GnRH ( SGnRHa dan PREGNYL)
17-a-methyltestosteron
Feromon
Kelenjar Hipofisa Dll.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R., D.S. Safei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan;
Pencernaan. PAU Ilmu Hayat IPB. 215
Ellis, A.E. 1988. Fish Vaccination. Academic Press. 255 h.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar