Makalah
KONSERVASI
SUMBERDAYA PERAIRAN
PELESTARIAN PENYU
HIJAU (Chelonia mydas)
di PANTAI SELATAN
TASIKMALAYA
Oleh
AHMADRYADI
1410246019
![]() |
PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA
PENGANTAR
Segala puja dan puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah
ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul pelestarian penyu hijau (Chelonia
mydas) di pantai selatan tasikmalaya dan disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Konservasi
Sumberdaya Perairan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya
makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca
demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi
kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima
kasih.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang
tinggi, Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah ruah. Banyak
diantara keanekaragaman hayati tersebut masih tersimpan atau belum bisa
dimanfaatkan dengan baik, disamping itu tidak dipungkiri juga bahwa
keanekaragaman hayati yang dimiliki negara Indonesia kini telah
dimanfaatkan namun tidak semuanya disertai dengan kearifan dan perlakuan sehat
manusia. Bahkan salah satu diantara keanekaragaman hayati tersebut kini
keberadaannya terancam punah. Salah satu diantaranya adalah penyu.
Maraknya perburuan induk dan telur penyu merupakan salah satu dari
beberapa faktor penyebab terancamnya populasi penyu. Selain itu kemajuan
teknologi yang semakin pesat membuat daerah lingkungan alam menjadi berubah.
Banyak kawasan pantai yang merupakan habitatkeanekaragaman hayati pantai, kini
dijadikan sebagai tempat objek wisata, permukiman serta tempat industri.
Kehadiran objek wisata tersebut, dengan sarana dan prasarana membuat lingkungan
berubah, demikian pula ekosistemnya. Keadaan tersebut tentu saja dapat
mengakibatkan habitat keanekaragaman hayati khususnya keberadaan populasi penyu
di daerah pantai menjadi terganggu.
Oleh karena itu pengambilan topik utama tentang pelestarian Penyu Hijau
(Chelonia mydas) perlu ditindak lanjuti, khususnya keberadaan Penyu Hijau
di Pantai Selatan Tasikmalaya yang pada saat ini mengalami penurunan populasi
dari tahun ke tahun (Lia Yulisma;2004). Daerah tempat pendaratan penyu untuk
bertelur, kini telah terganggu dengan di jadikannya kawasan pantai sebagai ojek
wisata dan permukiman. Hal tersebut tentu saja membuat sang penyu enggan untuk
bertelur dikawasan tersebut, sehingga menambah tekanan terhadap kehidupan
penyu.
Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan pesisir yang masih dijadikan Penyu
Hijau untuk bertelur. Untuk itu demi kelestarian Penyu Hijau di Pantai Selatan
Tasikmalaya, perlu dilakukan penyelamatan dan pelestarian kawasan habitat
penyu, agar Penyu Hijau tidak terancam dari kepunahan dan dapat kita lestarikan
untuk kehidupan anak cucu kita. Hal tersebut telah dilakukan dengan adanya
Kawasan Konservasi dan Pelestarian Penyu yang didirikan oleh PEMDA dan Dinas
setempat.
B. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini adalah ingin memberikan
informasi tentang sejauh mana upaya pelestarian Penyu Hijau, kepedulian
masyarakat, serta kendala yang dihadapi oleh PEMDA setempat dalam melestarikan
Penyu Hijau dan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan para
generasi muda untuk berperan serta dalam melestarikan Penyu Hijau.
Selain itu, untuk memperhatikan keberadaan Penyu Hijau di Pantai Selatan
Tasikmalaya agar tetap lestari dan dapat kita upayakan untuk melestarikannya
agar anak cucu kita masih bisa melihat satwa ini di masa yang akan datang.
PEMBAHASAN
A. Jenis, kehidupan, dan Pola Perilaku
Penyu
Penyu merupakan salah satu jenis binatang dari golongan Reptilia yang
banyak hidup di perairan laut indonesia. Jenis binatang ini sangat senang
mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya di dalam laut untuk
mendapatkan makanan guna hidup, tumbuh dan melanjutkan keturunannya. Dengan
demikian pengembaraan ini terkadang di lakukannya sampai jauh dari tempat yang
semula mereka diami. Guna kelangsungan hidupnya, penyu memerlukan dua
lingkungan yang berbeda yang masing-masing perairan laut dan daratan yang dalam
hal ini pantai-pantai tepat peneluran.
1. Jenis
Penyu yang Ada di Indonesia
Terdapat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia, yaitu Penyu
Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang
(Abu-abu) (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea),
Penyu Tempayan (Caretta caretta), dan Penyu Pipih (Natator depressus).
2. Klasifikasi
Berikut ini klasifikasi dari penyu laut yang masih ada sampai saat ini :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudinata
Famili : Cheloniidae
dan Dermoohelyidae
3. Daur
Hidup
Penyu merupakan jenis satwa yang memiliki daur hidup yang panjang.
Setiap tahap kehidupan, penyu memiliki karakteristik perilaku habitat dan
tingkat ancaman yang berbeda. Penyu diketahui hidup di laut baik di perairan
dalam maupun dangkal. Penyu sering dijumpai di perairan yang memiliki terumbu
karang. Selain itu penyu juga terkenal sebagai satwa yang melakukan migrasi.
4. Perkawinan
Jika telah siap untuk melakukan perkawinan, penyu dewasa yang hidup di
laut lepas akan bergerak menuju perairan yang lebih dangkal. Tidak jarang,
penyu harus menempuh ribuan kilometer untuk mencapai habitat perkawinan. Letak
habitat perkawinan ini biasanya berjarak kurang lebih 100 Km dari pantai
peneluran. Bagi beberapa spesies, aktivitas kawin terjadi beberapa minggu
sebelum musim peneluran. Proses perkawinan penyu terjadi di dalam air. Posisi
penyu jantan berada diatas penyu betina. Penyu jantan memiliki semacam cakar
di flipper depannya yang berfungsi mencengkram kerapas penyu betina
saat melakukan kopulasi. Pembuahan telur berlangsung secara internal. Sebelum
melakukan perkawinan, penyu betina telah terlebih dahulu menghasilkan sel telur
dewasa yang siap dibuahi. Dengan demikian, seekor penyu betina dapat dibuahi
oleh dua atau lebih penyu jantan.
5. Pasca
Perkawinan
Setelah melakukan perkawinan, penyu betina menuju ke habitat antara
(interesting habitat) yang biasanya berjarak 15 Km dengan pantai
peneluran. Penyu betina berada di habitat antara ini selama musim bertelur.
Beberapa ahli mengatakan bahwa penyu jantan kerap terlihat berada di habitat
ini selama musim bertelur. Selama berada di habitat antara ini, penyu betina
hanya makan sedikit saja atau bahkan tidak makan. Penyu betina hanya
menyelesaikan proses pengelompokan telur-telur di dalam rahimnya. Kelompok
telur inilah yang akan di keluarkan secara bertahap di pantai peneluran.
6. Perilaku
Bertelur
Penyu betina yang telah siap untuk bertelur, akan naik ke pantai pada
malam hari. Penyu betina biasanya naik pada saat air laut pasang. Kondisi air
laut yang sedang pasang memudahkan penyu untuk mencapai pantai dan menjadi
tolak ukur bagi penyu unuk memilih tempat bertelur yang aman dari jangkauan air
laut. Lazimnya pada suatu pantai peneluran di indonesia, penyu-penyu betina
tidak naik ke pantai secara berombongan (massive). Namun pada beberapa pantai
peneluran lain didunia terjadiArribada yakni peristiwa dimana penyu betina
yang naik ke suatu pantai peneluran sangat banyak jumlahnya dan hampir
bersamaan. Arribada awal dapat mengindikasikan tingginya jumlah individu dalam
satu populasi penyu di suatu tempat. Namun terjadinya arribada dapat menjadi
ancaman. Tempat bertelur menjadi sangat terbatas, banyak sarang rusak akibat
dibongkar untuk dijadikan sarang baru.
Proses
penyu bertelur dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pemilihan tempat bertelur
Dalam tahap ini penyu mulai menginjakan kakinya di tepi pantai dan mulai
menuju ke daratan yang sesuai untuk membuat sarang dengan menggunakan kaki
depan yang dibantu atau di dorong kaki belakang. Pada umumya penyu ini menempuh
jalan yang lurus dengan meninggalkan jejak yang arahnya diagonal simetris, dan
dalam berjalannya diselingi dengan berhenti menarik nafas sampai akhirnya
menemukan tempat yang sesuai untuk mulai membuat lubang tempat bertelur.
Penyu betina memilih pantai peneluran bukan hanya pada pantai tempat
dahulu ia ditetaskan, tetapi juga pantai yang memiliki karakteristik tertentu.
Pantai-pantai peneluran penyu tersebut biasanya merupakan pantai berpasir yang
cukup datar dan cukup lebar. Pantai-pantai ini biasanya berbatasan dengan laut
yang dalam, seperti pantai-pantai yang terdapat di pesisir Selatan Pulau Jawa.
Penyu betina selalu memilih tempat bertelur yang tidak terjangkau oleh air laut
saat pasang terjadi. Selain itu penyu selalu memilih pantai yang relatif sepi
dan gelap.
b. Membuat sarang
menemukan tempat yang tepat,
penyu betina akan mulai menggali sarang. Proses penggalian sarang biasanya
dimulai dengan membuat body fit hingga sebagian badan penyu betina
akan terlihat sedikit terkubur didalam pasir. Setelah itu, dengan menggunakan
kaki belakangnya, penyu akan mulai membuat lubang kecil tempat penyimpanan
telur-telurnya. Kedalaman lubang telur tergantung pada ukuran
panjangflipper belakang penyu tersebut
c. Bertelur
Setelah pembuatan sarang telur selesai, penyu betina akan mengeluarkan
telur dari kloakanya dengan jumlah telur yang tidak berurutan. Bersamaan dengan
pengeluaran telur ini, biasanya penyu tersebut mengeluarkan cairan yang serupa
dengan air mata. Jumlah telur penyu dalam satu sarang biasanya berkisar antara
50-170 butir, tergantung pada jenis penyunya. Cangkang telurnya lembut dan
cukup lentur sehingga tidak akan pecah saat di keluarkan.
d. Menutup sarang dan membuat tipuan
Setelah bertelur, penyu betina akan menutup lubang sarangnya dan membuat
tipuan. Cara menutup sarang dan membuat tipuan adalah berbeda pada tiap jenis
penyu. Penyu Lekang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat tipuan
sarang, tetapi Penyu Belimbing dapat menghabiskan waktu lebih dari satu jam
untuk membuat tipuan sarang yang cukup besar.
e. Kembali ke laut
Setelah selesai melakukan proses peneluran, penyu kembali ke laut dengan
mengambil jalan yang lurus. Pada saat mendekati air laut, gerakannya dipercepat
sampai akhirnya lenyap dari pandangan mata
7. Masa
Inkubasi
Telur-telur penyu membutuhkan waktu sekitar 45-70 hari untuk menetas.
Lama proses inkubasi tergantung pada temperatur dan kelembaban. Semakin rendah
temperatur, semakin lama waktu inkubasi. Temperatur juga dapat menentukan
perbandingan jumlah jenis kelamin tukik yang menetas.
Pada temperatur harian lebih tinggi dari temperaturPivotal maka
akan lebih banyak tukik betina yang dihasilkan, sedangkan jika temperatur
harian rendah dari temperatur pivotal maka akan lebih banyak tukik jantan yang
dihasilkan. Bila waktunya tiba untuk menetas, tukik akan menembus cangkang
telur dengan mengunakan gigi temporal. Tukik-tukik yang telah menetas masih
harus berjuang menembus pasir untuk dapat mencapai permukaan sarang. Perjuangan
mereka ini membutuhkan waktu 3-5 hari. Sementara itu, permukaan sarang yang
telur-telurnya telah menetas biasanya merosot dan membentuk cekungan seluas
lubang telur.
8. Menetas
Biasanya tukik membutuhkan 1-7 hari untuk keluar dari dalam sarang pada
malam hari. Tukik-tukik akan segera menuju laut begitu mereka berhasil keluar
dari dalam sarang. Belum banyak diketahui mengenai faktor-faktor yang
menyebabkan mereka dapat menentukan arah laut. Sejak menetas sampai beberapa
hari setelah berada di dalam laut, tukik belum dapat mencari makan sendiri. Mereka
memperoleh makanan dari kantong kuning telur yang melekat pada tukik setelah
menetas
9. Tahun
yang Hilang
Pada usia satu hingga beberapa tahun kemudian, penyu muda sangat jarang
terlihat. Periode ini dikenal dengan tahun menghilang. Banyak teori mengenai
tahun menghilang ini, namun hingga saat ini belum ada satupun yang benar-benar
dapat mengungkapkan keberadaan penyu muda poda periode ini. Kebanyakan ahli
setuju dengan pendapat bahwa penyu muda pada periode ini hidup di habitat
pembesaran yang biasanya berada di daerah Pelagyk dan Oceanic.
10. Ancaman
yang dihadapi Penyu
Dalam setiap tingkatan usia, penyu menghadapi berbagai macam ancaman
bagi kelangsungan hidupnya. Ancaman yang dihadapi dapat dibedakan atas predator
alami, penyakit, faktor alam, dan dampak dari kegiatan manusia.
a. Ancaman
pada fase embrio atau telur
b. Ancaman
pada fase tukik
c. Ancaman
pada fase penyu muda atau dewasa
B. Penyu hijau Atau Green Sea Turle (Chelonia mydas)
Dalam klasifikasi, hewan ini masuk dalam
kingdom Animalia, Family Cheloniidae dan Spesie Mydes. Sesuai dengan namanya, warna tubuh, lemak dan dagingnya agak
kehijau-hijauan. Ukuran penyu dewasa ini bisa mencapai kurang lebih sekitar 250
cm, meskipun rata-rata sekarang adalah 100 cm.
Perisai atau karapasnya berbentuk hati dengan tepi rata, jumlah keping
kostal 4 pasang, berwarna hijau cokelat dengan bercak tua sampai hitam. Keping
kostal ukuran lebarnya hampir dua kali di banding dengan lebar keping
vertebral. Keping marginalnya relatif sempit. Kepalanya memiliki sepasang sisik
prefrontal yang lebar dan mempunyai tepi yang berwarna putih. Kaki depannya
dipenuhi dengan sisik yang relatif berukuran sama, sehingga jari-jarinya tidak
terlihat jelas.
C. Konservasi Penyu Di Pantai Tasikmalaya
Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan pantai yang masih digunakan penyu
untu bertelur. Dari enam jenis penyu yang ada di indonesia, empat diantaranya
mendarat di pantai ini. 4 jenis penyu tersebut adalah: Penyu Hijau (Chelonia
mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys
olivacea), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Diantara keempat penyu
tersebut, umumnya kini hanya Penyu Hijau yang sering mendarat untuk bertelur di
pantai ini. Disini kenapa harus Pantai Selatan Tasikmalaya yang dijadikan
penyu-penyu tersebut untuk bertelur? Hal itu disebabkan karena Pantai Selatan
Tasikmalaya memiliki kriteria yang cocok bagi sang penyu untuk mendarat dan
bertelur baik dari segi kondisi pantai, tekstur pasir, ketinggian dan jarak
tempat peneluran yang tidak mudah diterjang ombak. Oleh karena itu sangat
disayangkan apabila kawasan ini menjadi rusak dan terganggu.
Upaya pelestarian Penyu Hijau sendiri sudah dilakukan oleh Pemerintah
Daerah setempat, seiring dengan dikeluarkannya Perda Daerah setempat yang
mengambil alih pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran.
Diantaranya terdapat Penangkaran Penyu yang dinaungi Balai Konservasi Sumber
Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat II yang telah diresmikan pada tanggal 17 Juli 2002
seluas 80 hektar dari penunjukan Mentri Perhutanan. Yaitu batas dari sebelah
timurCikuya Hirup dan sebelah barat Paseureuhan yang
bersambungan denganTaman lengsar.
Berdasarkan hasil observasi tanggal 5-6 Agustus 2006, ternyata populasi
Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya mengalami penurunan dari tahun ke
tahun. Dan diperkirakan pada akhir tahun 2006 nanti populasi Penyu Hijau
akan mengalami penurunan lagi, hal ini berdasarkan data bahwa dari tahun ke
tahun induk Penyu Hijau yang mendarat untuk bertelur semakin berkurang. Hal ini
dapat dilihat pada tabel Jumlah Penyu Naik di bawah ini.
Data
Jumlah Penyu Hijau mendarat dari Tahun 2000 s.d. 2004
|
No
|
Tahun
|
Jumlah
Penyu Hijau mendarat
|
|
1
|
2000
|
72
|
|
2
|
2001
|
59
|
|
3
|
2002
|
63
|
|
4
|
2003
|
35
|
|
5
|
2004
|
54
|
Berdasarkan data di lapangan, faktor utama yang menyebabkan populasi
Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya menurun salah satunya yangt paling
berpengaruh adalah adanya kegiatan manusia, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Sebelum PEMDA setempat memberlakukan sistem penangkaran dan
pelestarian penyu, masyarakat setempat memburu penyu secara besar-besaran
dengan mengambil penyu dan telurnya untuk di konsumsi dan dijual ketika sang
penyu mendarat untuk bertelur. Kegiatan masyarakat tersebut menimbulkan efek
negatif bagi kelestarian penyu, sehingga berimbas dengan menurunnya populasi
penyu pada saat ini. Masyarakat masih terlalu awam dan minim informasi tentang
kesadaran akan kelestarian penyu. Namun sekarang perburuan tersebut berangsur
lenyap dari kegiatan masyarakat setelah adanya pengambilalihan pengelolaan
telur dan mengadakan sistem penangkaran penyu.
Aktivitas penambangan pasir besi juga merupakan bagian dari faktor
penyebab menurunnya populasi Penyu Hijau. Penambangan pasir besi bukan saja
merusak badan jalan raya, tetapi juga berpeluang menimbulkan perubahan arus
laut karena lokasi penambangan yang terletak di tepi pantai hingga kedalaman
tertentu. Dikhawatirkan perubahan arus laut
menyebabkan abrasi pantai Cipatujah dan keruhnya air laut sehingga
penyu tidak mau lagi mendarat dan bertelur.
Demikian pula dengan adanya pembukaan jalan raya yang berdekatan dengan
lokasi peneluran penyu. Ruas jalan raya yang hanya berjarak beberapa meter
dengan kawasan peneluran menjadi faktor penghambat penyu untuk mendarat. Akibat
banyaknya kendaraan besar yang memuat banyak barang berat seperti, kendaraan
yang memuat pasir yang lalu lalang di jalan raya, mengakibatkan sang penyu
enggan mendarat. Hal itu dikarenakan getaran dan kebisingan dari pada kendaraan
tersebut terasa sampai kawasan peneluran karena terlalu dekat. Padahal kita
tahu bahwa penyu sangat peka terhadap getaran dan kebisingan.
Kegiatan nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan jaringjuga
merupakan faktor penyebab turunnya populasi penyu. Nelayan ketika melaut
seringkali menyebabkan penyu yang tengah berenang di lepas pantai tertangkap
jala nelayan dan mati. Hal tersebut memang terkesan tidak sengaja, namun
aktivitas penangkapan ikan juga berbahaya bagi penyu.
Faktor lain adalah faktor alam, dimana predator alami seperti Burung
Elang, Hiu, Paus, Rubah, Tikus serta Biawak yang biasa memangsa penyu, telur
penyu, maupun tukik.
Penangkaran
Penyu di Pantai Selatan Tasikmalaya terletak di Pantai Sindangkerta, tepatnya
di Blok Pamoekan, Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya Selatan,
± 65 kilometer arah Selatan Kota Tasikmalaya. Kawasan tersebut memiliki bibir
pantai yang cukup lebar untuk pendaratan penyu yaitu 3 sampai 5 kilometer. Apa
lagi ditunjang dengan kondisi pantai yang cocok bagi penyu untuk mendarat.
Ditambah lagi dengan adanya sistem penangkaran dengan bak penetasan telur penyu
dan bak sementara bagi tukik sebelum dilepas ke lautan lepas, membuat kawasan
Pantai selatan Tasikmalaya sudah selayaknya untuk dikembangkan.
Di kawasan ini Penyu Hijau kerap kali mendarat pada bulan Juli sampai
Januari setiap tahun. Seekor Penyu Hijau bisa mendarat antara 5 sampai 7 kali
untuk bertelur dengan siklus 13 sampai 17 hari sekali. Setelah proses bertelur
selesai, sang penyu tersebut kembali ke laut lepas dan istirahat antara 2
sampai 3 tahun. Jadi pendaratan seekor penyu untuk bertelur tidak setiap tahun.
Kawasan peneluran Pantai Sindangkerta ini memiliki beberapa titik atau
lokasi tempat pendaratan yang umumnya selalu menjadi tempat menetap bagi penyu
untuk bertelur. Lokasi ini antara lain: Katapang,Panarikan, Karangnyorot,
Pamoekan dan Tegalsereh. Titik atau lokasi tersebut sudah menjadi tempat yang
tetap bagi penyu mendarat. Karena penyu akan kembali ke daerah di mana ia
ditetaskan.
Penangkaran Penyu di Pantai Selatan Tasikmalaya tidak hanya terpaku pada
sistem pengelolaan telur penyu dan tukik, tetapi untuk mengikat para turis baik
lokal maupun mancanegara, disana kerap diadakan berita acara ketika tiba
saatnya untuk melepaskan tukik ke lautan bebas. Yaitu dengan
mengadakan Lomba Balap Tukik. Hal tersebut bertujuan untuk
meningkatkan kepedulian dan ketertarikan para wisatawan serta memperkenalkan
kekayaan laut yang berada di Pantai Selatan Tasikmalaya khususnya penyu.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa berdasarkan data menyangkut
pelestarian Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya, terdapat beberapa faktor
penyebab penurunan populasi Penyu Hijau antara lain:
1. Pengambilan
telur penyu secara ilegal oleh masyarakat.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya pada observasi, kegiatan
pengambilan telur penyu oleh masyarakat memang terjadi di kawasan pantai
selatan Cipatujah. Namun itu dulu, sebelum PEMDA setempat mengambil alih
pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran. Tetapi dampaknya
sangat dirasakan pada penurunan populasi Penyu Hijau saat ini. Masyarakat yang
dulunya awam, kini telah dibekali pengetahuan akan pentingnya melestarikan
Penyu Hijau.
PEMDA setempat memberikan lahan kerja dan memanfaatkan sarana yang ada
untuk mengarahkan masyarakat ke arah yang positif. Dan hasilnya bisa menjadi
tolak ukur kehidupan ekonomi masyarakat. Misalnya dengan memanfaatkan pandan
untuk dibuat anyaman, memelihara binatang ternak (domba) untuk dikelola oleh
masyarkat, sehingga masyarakat tidak lagi memburu penyu atau telurnya secara
ilegal, tetapi dengan dibekali pengarahan dan penyuluhan, masyarakat menjadi
berperan serta dalam melestarikan Penyu Hijau meskipun tidak berperan langsung
dalam pelestariannya.
2. Aktivitas
penambangan pasir besi.
Penambangan pasir besi sudah dilakukan sejak tahun 2003. Aktivitas
penambangan pasir besi yang terus dilakukan memang menjadi ancaman terhadap
kelestarian Penyu Hijau. Penambangan pasir besi bukan saja merusak ruas jalan
raya akibat banyaknya muatan pasir yang diangkut oleh kendaraan-kendaraan
besar, tetapi juga berpeluang menimbulkan perubahan arus laut karena lokasi
penambangan yang terletak di tepi pantai hingga kedalaman tertentu.
Dikhawatirkan perubahan arus laut menyebabkan abrasi dipantai Cipatujah
sehingga penyu tidak mau lagi mendarat dan bertelur. Selain itu dampak dari
penambangan pasir besi ini adalah air laut menjadi keruh.
Hal ini juga menyebabkan Penyu Hijau tidak mau mendarat yang disebabkan
oleh kondisi air yang tidak mendukung.Penambangan pasir besi memang sulit untuk
dihentikan, walaupun beberapa dampak negatif diakibatkan oleh aktivitas ini.
Menurut informasi dari Petugas BKSDA sangat sulit untuk menghentikan kegiatan
penambangan pasir besi. Hal ini dikarenakan penambangan pasir besi ini pun
mempunyai ijin resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Jadi antara keduanya
saling bertolak belakang. Permasalahan tersebut sangat sulit untuk di hindari.
Sebaiknya daerah penambangan pasir besi dapat dipindahkan menjauhi daerah
tempat peneluran penyu, atau bahkan dihentikan . Apabila hal ini dilakukan,
dampak positif pun akan muncul, selain Penyu Hijau merasa aman, keseimbangan
sistem pantai terjaga, abrasi pantai tidak akan terjadi serta jalan raya tidak
menjadi rusak.
3. Kawasan
habitat peneluran yang terlalu dekat dengan jalan raya.
Kawasan peneluran yang terlalu dekat dengan jalan raya memang menjadi
faktor utama yang menyebabkan menurunnya populasi Penyu Hijau. Sejak tahun 2000
sampai sekarang, kegiatan jalan raya selalu ramai dilalui oleh beberapa
kendaraan yang dampaknya sangat terasa sekali pada penurunan populasi Penyu
Hijau mulai dari tahun 2003 sampai sekarang. Kondisi jalan raya yang hanya
berjarak beberapa meter dengan daerah peneluran dapat menjadi ancaman bagi sang
penyu yang mendarat. Disini Penyu sangat peka terhadap getaran, lampu, dan
kebisingan, sedangkan beberapa kendaraan besar yang lalu lalang getarannya akan
terasa sampai daerah peneluran.
Hal ini juga menjadi kendala bagi PEMDA setempat. Hal terbaik yang harus
dilakukan demi kenyamanan penyu adalah memindahkan ruas jalan beberapa
kilometer ke arah pedalam menjauhi garis pantai sehingga perkembangbiakan penyu
tidak terganggu. Namun hal ini tersandung dengan biaya. Minimnya biaya dan
kurangnya perhatian pemerintah membuat PEMDA setempat tidak bisa berbuat
apa-apa.
4. Terjaringnya
penyu secara tidak sengaja oleh nelayan.
Aktivitas nelayan mencari ikan memang sudah menjadi hal yang biasa pada
daerah pantai sebagai ladang ekonomi. Penangkapan ikan dengan jaring yang
dilakukan oleh nelayan yang melaut yang sering menyebabkan penyu yang tengah
berenang di lepas pantai tertangkap jaring nelayan dan mati. Pada permasalahan
ini nelayanlah yang menjadi objek utama, karena para nelayan tersebut tujuannya
untuk menangkap ikan bukan menangkap penyu. Namun para nelayan kerap memasang
jaring ikan pada daerah habitat penyu, sehingga penyu-penyu yang berada di
daerah tersebut secara tidak sengaja terperangkap oleh jaring nelayan dan mati.
Yang paling memprihatinkan adalah desakan para nelayan pantai selatan yang
selama ini bergelut dengan ganasnya gelombang Samudera Indonesia, tetapi tidak
memiliki tempat pendaratan yang aman dari gelombang. Beberapa waktu lalu mereka
menuntut pembangunan dermaga di kawasan pantai Sindangkerta Cipatujah.
Permintaan pendirian dermaga tersebut tentu saja sangat bertolak belakang
dengan konservasi atau pelestarian.Nelayan hanya berpikir sesaat untuk ekonomi
yang sesaat Permasalahan akan terselesaikan jika saja para nelayan peduli akan
habitat penyu dan memindahkan tempat penyimpanan jaring mereka ke daerah dimana
penyu hidupnya tidak berada disana.
5. Faktor
predator alami
Masalah yang datang dari alam memang dirasakan sulit sekali
mengidentifikasinya. Hal ini disebabkan karena kehidupan tidak lepas dari
kondisi alam. Permasalahan predator alam seperti elang, rubah, biawak, hiu,
paus dan predator lainnya yang memangsa baik penyu, telur maupun tukik sangat
sangat sulit di hindari bila dibiarkan begitu saja. Hanya untuk meminimalisasi
hal tersebut, perlu dilakukan penanggulangan yang bertujuan menyelamatkan telur
maupun tukik dari predator. Diantaranya melakukan sistem penangkaran.
KESIMPULAN
Keberadaan Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan aset
penting yang dapat menjadi salah satu ciri khas bahwa daerah Pantai Selatan
Tasikmalaya kaya akan keanekaragaman hayati. Namun beberapa kendala masih saja
menghantui dalam upaya pelestarian Penyu Hijau meskipun telah didirikan
Penangkaran Penyu Pantai Sindangkerta, yang terletak di Blok Pamoekan, Desa
Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya Selatan yang mengambil alih
pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran.
Kesadaran masyarakat setempat terhadap kelestarian Penyu Hijau sudah
mulai tumbuh dan di tanamkan dalam aktivitas sehari-hari dengan tidak memburu
telur dan induk Penyu Hijau. Hal itu tidak terlepas dari upaya PEMDA setempat
dalam mengajak masyarakat untuk peduli terhadap Penyu Hijau dengan memberikan
lahan kerja, penyuluhan dan pendidikan.
Adanya penambangan pasir besi yang berijin memang menjadi dilema. Selain
pemda mendapatkan dana dari pajak yang dikenainya, tapi dengan kebijakan
tersebut juga dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Perlu diadakan
formulasi yang menyeimbangkan antara pemanfaatan SDA dengan kelestarian alam
itu sendiri.
Oleh karena itu untuk mensukseskan pelestarian Penyu Hijau di Pantai
Selatan Tasikmalaya perlu adanya kerja sama yang sinergis antara pemerintah,
masyarakat, dan instansi yang terkait sehingga semua pihak dapat ikut merasa
memiliki dan tanggung jawab. Permasalah atau kendala akan terselesaikan apabila
semua pihak dapat bijak dalam menyikapi suatu masalah dan mementingkan
kepentingan bersama dan tentu saja itu di dasarkan terhadap kepedulian
kelestarian Penyu Hijau, sehingga Penyu Hijau yang ada di Pantai Selatan
Tasikmalaya tetap lestari dan diharapkan populasinya akan meningkat pada tahun
yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Alami. 2004. Penyu ???… tak kenal maka
tak sayang.Jakarta
Damardono Haryo. 2003. http://www.pikiran rakyat.com/cetak/0103/03/0411.htm
Lia Yulisma. 2004. PENYU DI PANTAI
SELATAN TASIKMALAYA. Makalah; Tidak di terbitkan
Victoria Ngantung. … BIO-EKOLOGI PENYU
. Tidak di terbitkan
Yayasan Apel. 2004. SELAMATKAN PENYU DAN
HABITATNYA DI PANTAI SELATAN TASIKMALAYA. Tasikmalaya: Yayasan Apel
Google.http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/resources/eva_hejda/ba bysuppenschildkroeten.jpg/medium.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar