Minggu, 05 Juli 2015

Konservasi Penyu Hijau

Makalah

KONSERVASI SUMBERDAYA PERAIRAN

PELESTARIAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) 
di PANTAI SELATAN TASIKMALAYA


Oleh

AHMADRYADI
1410246019





Image3
 













PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah ini berjudul pelestarian penyu hijau (Chelonia mydas) di pantai selatan tasikmalaya dan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konservasi Sumberdaya Perairan Ikan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.








PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah ruah. Banyak diantara keanekaragaman hayati tersebut masih tersimpan atau belum bisa dimanfaatkan dengan baik, disamping itu tidak dipungkiri juga bahwa keanekaragaman hayati yang dimiliki negara Indonesia kini telah dimanfaatkan namun tidak semuanya disertai dengan kearifan dan perlakuan sehat manusia. Bahkan salah satu diantara keanekaragaman hayati tersebut kini keberadaannya terancam punah. Salah satu diantaranya adalah penyu.
Maraknya perburuan induk dan telur penyu merupakan salah satu dari beberapa faktor penyebab terancamnya populasi penyu. Selain itu kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat daerah lingkungan alam menjadi berubah. Banyak kawasan pantai yang merupakan habitatkeanekaragaman hayati pantai, kini dijadikan sebagai tempat objek wisata, permukiman serta tempat industri. Kehadiran objek wisata tersebut, dengan sarana dan prasarana membuat lingkungan berubah, demikian pula ekosistemnya. Keadaan tersebut tentu saja dapat mengakibatkan habitat keanekaragaman hayati khususnya keberadaan populasi penyu di daerah pantai menjadi terganggu.
Oleh karena itu pengambilan topik utama tentang pelestarian Penyu Hijau (Chelonia mydas) perlu ditindak lanjuti, khususnya keberadaan Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya yang pada saat ini mengalami penurunan populasi dari tahun ke tahun (Lia Yulisma;2004). Daerah tempat pendaratan penyu untuk bertelur, kini telah terganggu dengan di jadikannya kawasan pantai sebagai ojek wisata dan permukiman. Hal tersebut tentu saja membuat sang penyu enggan untuk bertelur dikawasan tersebut, sehingga menambah tekanan terhadap kehidupan penyu.
Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan pesisir yang masih dijadikan Penyu Hijau untuk bertelur. Untuk itu demi kelestarian Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya, perlu dilakukan penyelamatan dan pelestarian kawasan habitat penyu, agar Penyu Hijau tidak terancam dari kepunahan dan dapat kita lestarikan untuk kehidupan anak cucu kita. Hal tersebut telah dilakukan dengan adanya Kawasan Konservasi dan Pelestarian Penyu yang didirikan oleh PEMDA dan Dinas setempat.



B. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini adalah ingin memberikan informasi tentang sejauh mana upaya pelestarian Penyu Hijau, kepedulian masyarakat, serta kendala yang dihadapi oleh PEMDA setempat dalam melestarikan Penyu Hijau dan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan para generasi muda untuk berperan serta dalam melestarikan Penyu Hijau.
Selain itu, untuk memperhatikan keberadaan Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya agar tetap lestari dan dapat kita upayakan untuk melestarikannya agar anak cucu kita masih bisa melihat satwa ini di masa yang akan datang.



PEMBAHASAN

A. Jenis, kehidupan, dan Pola Perilaku Penyu
Penyu merupakan salah satu jenis binatang dari golongan Reptilia yang banyak hidup di perairan laut indonesia. Jenis binatang ini sangat senang mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya di dalam laut untuk mendapatkan makanan guna hidup, tumbuh dan melanjutkan keturunannya. Dengan demikian pengembaraan ini terkadang di lakukannya sampai jauh dari tempat yang semula mereka diami. Guna kelangsungan hidupnya, penyu memerlukan dua lingkungan yang berbeda yang masing-masing perairan laut dan daratan yang dalam hal ini pantai-pantai tepat peneluran.
1. Jenis Penyu yang Ada di Indonesia
Terdapat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Abu-abu) (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta), dan Penyu Pipih (Natator depressus).
2. Klasifikasi
Berikut ini klasifikasi dari penyu laut yang masih ada sampai saat ini :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudinata
Famili : Cheloniidae dan Dermoohelyidae
3. Daur Hidup
Penyu merupakan jenis satwa yang memiliki daur hidup yang panjang. Setiap tahap kehidupan, penyu memiliki karakteristik perilaku habitat dan tingkat ancaman yang berbeda. Penyu diketahui hidup di laut baik di perairan dalam maupun dangkal. Penyu sering dijumpai di perairan yang memiliki terumbu karang. Selain itu penyu juga terkenal sebagai satwa yang melakukan migrasi.
4. Perkawinan
Jika telah siap untuk melakukan perkawinan, penyu dewasa yang hidup di laut lepas akan bergerak menuju perairan yang lebih dangkal. Tidak jarang, penyu harus menempuh ribuan kilometer untuk mencapai habitat perkawinan. Letak habitat perkawinan ini biasanya berjarak kurang lebih 100 Km dari pantai peneluran. Bagi beberapa spesies, aktivitas kawin terjadi beberapa minggu sebelum musim peneluran. Proses perkawinan penyu terjadi di dalam air. Posisi penyu jantan berada diatas penyu betina. Penyu jantan memiliki semacam cakar di flipper depannya yang berfungsi mencengkram kerapas penyu betina saat melakukan kopulasi. Pembuahan telur berlangsung secara internal. Sebelum melakukan perkawinan, penyu betina telah terlebih dahulu menghasilkan sel telur dewasa yang siap dibuahi. Dengan demikian, seekor penyu betina dapat dibuahi oleh dua atau lebih penyu jantan.
5. Pasca Perkawinan
Setelah melakukan perkawinan, penyu betina menuju ke habitat antara (interesting habitat) yang biasanya berjarak 15 Km dengan pantai peneluran. Penyu betina berada di habitat antara ini selama musim bertelur. Beberapa ahli mengatakan bahwa penyu jantan kerap terlihat berada di habitat ini selama musim bertelur. Selama berada di habitat antara ini, penyu betina hanya makan sedikit saja atau bahkan tidak makan. Penyu betina hanya menyelesaikan proses pengelompokan telur-telur di dalam rahimnya. Kelompok telur inilah yang akan di keluarkan secara bertahap di pantai peneluran.
6. Perilaku Bertelur
Penyu betina yang telah siap untuk bertelur, akan naik ke pantai pada malam hari. Penyu betina biasanya naik pada saat air laut pasang. Kondisi air laut yang sedang pasang memudahkan penyu untuk mencapai pantai dan menjadi tolak ukur bagi penyu unuk memilih tempat bertelur yang aman dari jangkauan air laut. Lazimnya pada suatu pantai peneluran di indonesia, penyu-penyu betina tidak naik ke pantai secara berombongan (massive). Namun pada beberapa pantai peneluran lain didunia terjadiArribada yakni peristiwa dimana penyu betina yang naik ke suatu pantai peneluran sangat banyak jumlahnya dan hampir bersamaan. Arribada awal dapat mengindikasikan tingginya jumlah individu dalam satu populasi penyu di suatu tempat. Namun terjadinya arribada dapat menjadi ancaman. Tempat bertelur menjadi sangat terbatas, banyak sarang rusak akibat dibongkar untuk dijadikan sarang baru.
Proses penyu bertelur dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pemilihan tempat bertelur
Dalam tahap ini penyu mulai menginjakan kakinya di tepi pantai dan mulai menuju ke daratan yang sesuai untuk membuat sarang dengan menggunakan kaki depan yang dibantu atau di dorong kaki belakang. Pada umumya penyu ini menempuh jalan yang lurus dengan meninggalkan jejak yang arahnya diagonal simetris, dan dalam berjalannya diselingi dengan berhenti menarik nafas sampai akhirnya menemukan tempat yang sesuai untuk mulai membuat lubang tempat bertelur.
Penyu betina memilih pantai peneluran bukan hanya pada pantai tempat dahulu ia ditetaskan, tetapi juga pantai yang memiliki karakteristik tertentu. Pantai-pantai peneluran penyu tersebut biasanya merupakan pantai berpasir yang cukup datar dan cukup lebar. Pantai-pantai ini biasanya berbatasan dengan laut yang dalam, seperti pantai-pantai yang terdapat di pesisir Selatan Pulau Jawa. Penyu betina selalu memilih tempat bertelur yang tidak terjangkau oleh air laut saat pasang terjadi. Selain itu penyu selalu memilih pantai yang relatif sepi dan gelap.
b. Membuat sarang
 menemukan tempat yang tepat, penyu betina akan mulai menggali sarang. Proses penggalian sarang biasanya dimulai dengan membuat body fit hingga sebagian badan penyu betina akan terlihat sedikit terkubur didalam pasir. Setelah itu, dengan menggunakan kaki belakangnya, penyu akan mulai membuat lubang kecil tempat penyimpanan telur-telurnya. Kedalaman lubang telur tergantung pada ukuran panjangflipper belakang penyu tersebut
c. Bertelur
Setelah pembuatan sarang telur selesai, penyu betina akan mengeluarkan telur dari kloakanya dengan jumlah telur yang tidak berurutan. Bersamaan dengan pengeluaran telur ini, biasanya penyu tersebut mengeluarkan cairan yang serupa dengan air mata. Jumlah telur penyu dalam satu sarang biasanya berkisar antara 50-170 butir, tergantung pada jenis penyunya. Cangkang telurnya lembut dan cukup lentur sehingga tidak akan pecah saat di keluarkan.
d. Menutup sarang dan membuat tipuan
Setelah bertelur, penyu betina akan menutup lubang sarangnya dan membuat tipuan. Cara menutup sarang dan membuat tipuan adalah berbeda pada tiap jenis penyu. Penyu Lekang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat tipuan sarang, tetapi Penyu Belimbing dapat menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk membuat tipuan sarang yang cukup besar.
e. Kembali ke laut
Setelah selesai melakukan proses peneluran, penyu kembali ke laut dengan mengambil jalan yang lurus. Pada saat mendekati air laut, gerakannya dipercepat sampai akhirnya lenyap dari pandangan mata
7. Masa Inkubasi
Telur-telur penyu membutuhkan waktu sekitar 45-70 hari untuk menetas. Lama proses inkubasi tergantung pada temperatur dan kelembaban. Semakin rendah temperatur, semakin lama waktu inkubasi. Temperatur juga dapat menentukan perbandingan jumlah jenis kelamin tukik yang menetas.
Pada temperatur harian lebih tinggi dari temperaturPivotal maka akan lebih banyak tukik betina yang dihasilkan, sedangkan jika temperatur harian rendah dari temperatur pivotal maka akan lebih banyak tukik jantan yang dihasilkan. Bila waktunya tiba untuk menetas, tukik akan menembus cangkang telur dengan mengunakan gigi temporal. Tukik-tukik yang telah menetas masih harus berjuang menembus pasir untuk dapat mencapai permukaan sarang. Perjuangan mereka ini membutuhkan waktu 3-5 hari. Sementara itu, permukaan sarang yang telur-telurnya telah menetas biasanya merosot dan membentuk cekungan seluas lubang telur.
8. Menetas
Biasanya tukik membutuhkan 1-7 hari untuk keluar dari dalam sarang pada malam hari. Tukik-tukik akan segera menuju laut begitu mereka berhasil keluar dari dalam sarang. Belum banyak diketahui mengenai faktor-faktor yang menyebabkan mereka dapat menentukan arah laut. Sejak menetas sampai beberapa hari setelah berada di dalam laut, tukik belum dapat mencari makan sendiri. Mereka memperoleh makanan dari kantong kuning telur yang melekat pada tukik setelah menetas
9. Tahun yang Hilang
Pada usia satu hingga beberapa tahun kemudian, penyu muda sangat jarang terlihat. Periode ini dikenal dengan tahun menghilang. Banyak teori mengenai tahun menghilang ini, namun hingga saat ini belum ada satupun yang benar-benar dapat mengungkapkan keberadaan penyu muda poda periode ini. Kebanyakan ahli setuju dengan pendapat bahwa penyu muda pada periode ini hidup di habitat pembesaran yang biasanya berada di daerah Pelagyk dan Oceanic.
10. Ancaman yang dihadapi Penyu
Dalam setiap tingkatan usia, penyu menghadapi berbagai macam ancaman bagi kelangsungan hidupnya. Ancaman yang dihadapi dapat dibedakan atas predator alami, penyakit, faktor alam, dan dampak dari kegiatan manusia.
a. Ancaman pada fase embrio atau telur
b. Ancaman pada fase tukik
c. Ancaman pada fase penyu muda atau dewasa




B. Penyu hijau Atau Green Sea Turle (Chelonia mydas)
            Dalam klasifikasi, hewan ini masuk dalam kingdom Animalia, Family Cheloniidae dan Spesie Mydes. Sesuai dengan namanya, warna tubuh, lemak dan dagingnya agak kehijau-hijauan. Ukuran penyu dewasa ini bisa mencapai kurang lebih sekitar 250 cm, meskipun rata-rata sekarang adalah 100 cm.
Perisai atau karapasnya berbentuk hati dengan tepi rata, jumlah keping kostal 4 pasang, berwarna hijau cokelat dengan bercak tua sampai hitam. Keping kostal ukuran lebarnya hampir dua kali di banding dengan lebar keping vertebral. Keping marginalnya relatif sempit. Kepalanya memiliki sepasang sisik prefrontal yang lebar dan mempunyai tepi yang berwarna putih. Kaki depannya dipenuhi dengan sisik yang relatif berukuran sama, sehingga jari-jarinya tidak terlihat jelas.

C. Konservasi Penyu Di Pantai Tasikmalaya
Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan pantai yang masih digunakan penyu untu bertelur. Dari enam jenis penyu yang ada di indonesia, empat diantaranya mendarat di pantai ini. 4 jenis penyu tersebut adalah: Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Diantara keempat penyu tersebut, umumnya kini hanya Penyu Hijau yang sering mendarat untuk bertelur di pantai ini. Disini kenapa harus Pantai Selatan Tasikmalaya yang dijadikan penyu-penyu tersebut untuk bertelur? Hal itu disebabkan karena Pantai Selatan Tasikmalaya memiliki kriteria yang cocok bagi sang penyu untuk mendarat dan bertelur baik dari segi kondisi pantai, tekstur pasir, ketinggian dan jarak tempat peneluran yang tidak mudah diterjang ombak. Oleh karena itu sangat disayangkan apabila kawasan ini menjadi rusak dan terganggu.
Upaya pelestarian Penyu Hijau sendiri sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah setempat, seiring dengan dikeluarkannya Perda Daerah setempat yang mengambil alih pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran. Diantaranya terdapat Penangkaran Penyu yang dinaungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat II yang telah diresmikan pada tanggal 17 Juli 2002 seluas 80 hektar dari penunjukan Mentri Perhutanan. Yaitu batas dari sebelah timurCikuya Hirup dan sebelah barat Paseureuhan yang bersambungan denganTaman lengsar.
Berdasarkan hasil observasi tanggal 5-6 Agustus 2006, ternyata populasi Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dan diperkirakan pada akhir tahun 2006 nanti populasi Penyu Hijau akan mengalami penurunan lagi, hal ini berdasarkan data bahwa dari tahun ke tahun induk Penyu Hijau yang mendarat untuk bertelur semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat pada tabel Jumlah Penyu Naik di bawah ini.
Data Jumlah Penyu Hijau mendarat dari Tahun 2000 s.d. 2004
No
Tahun
Jumlah Penyu Hijau mendarat
1
2000
72
2
2001
59
3
2002
63
4
2003
35
5
2004
54
Berdasarkan data di lapangan, faktor utama yang menyebabkan populasi Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya menurun salah satunya yangt paling berpengaruh adalah adanya kegiatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebelum PEMDA setempat memberlakukan sistem penangkaran dan pelestarian penyu, masyarakat setempat memburu penyu secara besar-besaran dengan mengambil penyu dan telurnya untuk di konsumsi dan dijual ketika sang penyu mendarat untuk bertelur. Kegiatan masyarakat tersebut menimbulkan efek negatif bagi kelestarian penyu, sehingga berimbas dengan menurunnya populasi penyu pada saat ini. Masyarakat masih terlalu awam dan minim informasi tentang kesadaran akan kelestarian penyu. Namun sekarang perburuan tersebut berangsur lenyap dari kegiatan masyarakat setelah adanya pengambilalihan pengelolaan telur dan mengadakan sistem penangkaran penyu.
Aktivitas penambangan pasir besi juga merupakan bagian dari faktor penyebab menurunnya populasi Penyu Hijau. Penambangan pasir besi bukan saja merusak badan jalan raya, tetapi juga berpeluang menimbulkan perubahan arus laut karena lokasi penambangan yang terletak di tepi pantai hingga kedalaman tertentu. Dikhawatirkan perubahan arus laut menyebabkan abrasi pantai Cipatujah dan keruhnya air laut sehingga penyu tidak mau lagi mendarat dan bertelur.
Demikian pula dengan adanya pembukaan jalan raya yang berdekatan dengan lokasi peneluran penyu. Ruas jalan raya yang hanya berjarak beberapa meter dengan kawasan peneluran menjadi faktor penghambat penyu untuk mendarat. Akibat banyaknya kendaraan besar yang memuat banyak barang berat seperti, kendaraan yang memuat pasir yang lalu lalang di jalan raya, mengakibatkan sang penyu enggan mendarat. Hal itu dikarenakan getaran dan kebisingan dari pada kendaraan tersebut terasa sampai kawasan peneluran karena terlalu dekat. Padahal kita tahu bahwa penyu sangat peka terhadap getaran dan kebisingan.
Kegiatan nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan jaringjuga merupakan faktor penyebab turunnya populasi penyu. Nelayan ketika melaut seringkali menyebabkan penyu yang tengah berenang di lepas pantai tertangkap jala nelayan dan mati. Hal tersebut memang terkesan tidak sengaja, namun aktivitas penangkapan ikan juga berbahaya bagi penyu.
Faktor lain adalah faktor alam, dimana predator alami seperti Burung Elang, Hiu, Paus, Rubah, Tikus serta Biawak yang biasa memangsa penyu, telur penyu, maupun tukik.
Penangkaran Penyu di Pantai Selatan Tasikmalaya terletak di Pantai Sindangkerta, tepatnya di Blok Pamoekan, Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya Selatan, ± 65 kilometer arah Selatan Kota Tasikmalaya. Kawasan tersebut memiliki bibir pantai yang cukup lebar untuk pendaratan penyu yaitu 3 sampai 5 kilometer. Apa lagi ditunjang dengan kondisi pantai yang cocok bagi penyu untuk mendarat. Ditambah lagi dengan adanya sistem penangkaran dengan bak penetasan telur penyu dan bak sementara bagi tukik sebelum dilepas ke lautan lepas, membuat kawasan Pantai selatan Tasikmalaya sudah selayaknya untuk dikembangkan.
Di kawasan ini Penyu Hijau kerap kali mendarat pada bulan Juli sampai Januari setiap tahun. Seekor Penyu Hijau bisa mendarat antara 5 sampai 7 kali untuk bertelur dengan siklus 13 sampai 17 hari sekali. Setelah proses bertelur selesai, sang penyu tersebut kembali ke laut lepas dan istirahat antara 2 sampai 3 tahun. Jadi pendaratan seekor penyu untuk bertelur tidak setiap tahun.
Kawasan peneluran Pantai Sindangkerta ini memiliki beberapa titik atau lokasi tempat pendaratan yang umumnya selalu menjadi tempat menetap bagi penyu untuk bertelur. Lokasi ini antara lain: Katapang,Panarikan, Karangnyorot, Pamoekan dan Tegalsereh. Titik atau lokasi tersebut sudah menjadi tempat yang tetap bagi penyu mendarat. Karena penyu akan kembali ke daerah di mana ia ditetaskan.
Penangkaran Penyu di Pantai Selatan Tasikmalaya tidak hanya terpaku pada sistem pengelolaan telur penyu dan tukik, tetapi untuk mengikat para turis baik lokal maupun mancanegara, disana kerap diadakan berita acara ketika tiba saatnya untuk melepaskan tukik ke lautan bebas. Yaitu dengan mengadakan Lomba Balap Tukik. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan ketertarikan para wisatawan serta memperkenalkan kekayaan laut yang berada di Pantai Selatan Tasikmalaya khususnya penyu.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa berdasarkan data menyangkut pelestarian Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya, terdapat beberapa faktor penyebab penurunan populasi Penyu Hijau antara lain:
1. Pengambilan telur penyu secara ilegal oleh masyarakat.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya pada observasi, kegiatan pengambilan telur penyu oleh masyarakat memang terjadi di kawasan pantai selatan Cipatujah. Namun itu dulu, sebelum PEMDA setempat mengambil alih pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran. Tetapi dampaknya sangat dirasakan pada penurunan populasi Penyu Hijau saat ini. Masyarakat yang dulunya awam, kini telah dibekali pengetahuan akan pentingnya melestarikan Penyu Hijau.
PEMDA setempat memberikan lahan kerja dan memanfaatkan sarana yang ada untuk mengarahkan masyarakat ke arah yang positif. Dan hasilnya bisa menjadi tolak ukur kehidupan ekonomi masyarakat. Misalnya dengan memanfaatkan pandan untuk dibuat anyaman, memelihara binatang ternak (domba) untuk dikelola oleh masyarkat, sehingga masyarakat tidak lagi memburu penyu atau telurnya secara ilegal, tetapi dengan dibekali pengarahan dan penyuluhan, masyarakat menjadi berperan serta dalam melestarikan Penyu Hijau meskipun tidak berperan langsung dalam pelestariannya.

2. Aktivitas penambangan pasir besi.
Penambangan pasir besi sudah dilakukan sejak tahun 2003. Aktivitas penambangan pasir besi yang terus dilakukan memang menjadi ancaman terhadap kelestarian Penyu Hijau. Penambangan pasir besi bukan saja merusak ruas jalan raya akibat banyaknya muatan pasir yang diangkut oleh kendaraan-kendaraan besar, tetapi juga berpeluang menimbulkan perubahan arus laut karena lokasi penambangan yang terletak di tepi pantai hingga kedalaman tertentu. Dikhawatirkan perubahan arus laut menyebabkan abrasi dipantai Cipatujah sehingga penyu tidak mau lagi mendarat dan bertelur. Selain itu dampak dari penambangan pasir besi ini adalah air laut menjadi keruh.
Hal ini juga menyebabkan Penyu Hijau tidak mau mendarat yang disebabkan oleh kondisi air yang tidak mendukung.Penambangan pasir besi memang sulit untuk dihentikan, walaupun beberapa dampak negatif diakibatkan oleh aktivitas ini. Menurut informasi dari Petugas BKSDA sangat sulit untuk menghentikan kegiatan penambangan pasir besi. Hal ini dikarenakan penambangan pasir besi ini pun mempunyai ijin resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Jadi antara keduanya saling bertolak belakang. Permasalahan tersebut sangat sulit untuk di hindari. Sebaiknya daerah penambangan pasir besi dapat dipindahkan menjauhi daerah tempat peneluran penyu, atau bahkan dihentikan . Apabila hal ini dilakukan, dampak positif pun akan muncul, selain Penyu Hijau merasa aman, keseimbangan sistem pantai terjaga, abrasi pantai tidak akan terjadi serta jalan raya tidak menjadi rusak.

3. Kawasan habitat peneluran yang terlalu dekat dengan jalan raya.
Kawasan peneluran yang terlalu dekat dengan jalan raya memang menjadi faktor utama yang menyebabkan menurunnya populasi Penyu Hijau. Sejak tahun 2000 sampai sekarang, kegiatan jalan raya selalu ramai dilalui oleh beberapa kendaraan yang dampaknya sangat terasa sekali pada penurunan populasi Penyu Hijau mulai dari tahun 2003 sampai sekarang. Kondisi jalan raya yang hanya berjarak beberapa meter dengan daerah peneluran dapat menjadi ancaman bagi sang penyu yang mendarat. Disini Penyu sangat peka terhadap getaran, lampu, dan kebisingan, sedangkan beberapa kendaraan besar yang lalu lalang getarannya akan terasa sampai daerah peneluran. 
Hal ini juga menjadi kendala bagi PEMDA setempat. Hal terbaik yang harus dilakukan demi kenyamanan penyu adalah memindahkan ruas jalan beberapa kilometer ke arah pedalam menjauhi garis pantai sehingga perkembangbiakan penyu tidak terganggu. Namun hal ini tersandung dengan biaya. Minimnya biaya dan kurangnya perhatian pemerintah membuat PEMDA setempat tidak bisa berbuat apa-apa.

4. Terjaringnya penyu secara tidak sengaja oleh nelayan.
Aktivitas nelayan mencari ikan memang sudah menjadi hal yang biasa pada daerah pantai sebagai ladang ekonomi. Penangkapan ikan dengan jaring yang dilakukan oleh nelayan yang melaut yang sering menyebabkan penyu yang tengah berenang di lepas pantai tertangkap jaring nelayan dan mati. Pada permasalahan ini nelayanlah yang menjadi objek utama, karena para nelayan tersebut tujuannya untuk menangkap ikan bukan menangkap penyu. Namun para nelayan kerap memasang jaring ikan pada daerah habitat penyu, sehingga penyu-penyu yang berada di daerah tersebut secara tidak sengaja terperangkap oleh jaring nelayan dan mati.
Yang paling memprihatinkan adalah desakan para nelayan pantai selatan yang selama ini bergelut dengan ganasnya gelombang Samudera Indonesia, tetapi tidak memiliki tempat pendaratan yang aman dari gelombang. Beberapa waktu lalu mereka menuntut pembangunan dermaga di kawasan pantai Sindangkerta Cipatujah. Permintaan pendirian dermaga tersebut tentu saja sangat bertolak belakang dengan konservasi atau pelestarian.Nelayan hanya berpikir sesaat untuk ekonomi yang sesaat Permasalahan akan terselesaikan jika saja para nelayan peduli akan habitat penyu dan memindahkan tempat penyimpanan jaring mereka ke daerah dimana penyu hidupnya tidak berada disana.

5. Faktor predator alami
Masalah yang datang dari alam memang dirasakan sulit sekali mengidentifikasinya. Hal ini disebabkan karena kehidupan tidak lepas dari kondisi alam. Permasalahan predator alam seperti elang, rubah, biawak, hiu, paus dan predator lainnya yang memangsa baik penyu, telur maupun tukik sangat sangat sulit di hindari bila dibiarkan begitu saja. Hanya untuk meminimalisasi hal tersebut, perlu dilakukan penanggulangan yang bertujuan menyelamatkan telur maupun tukik dari predator. Diantaranya melakukan sistem penangkaran.



KESIMPULAN

Keberadaan Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan aset penting yang dapat menjadi salah satu ciri khas bahwa daerah Pantai Selatan Tasikmalaya kaya akan keanekaragaman hayati. Namun beberapa kendala masih saja menghantui dalam upaya pelestarian Penyu Hijau meskipun telah didirikan Penangkaran Penyu Pantai Sindangkerta, yang terletak di Blok Pamoekan, Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya Selatan yang mengambil alih pengelolaan telur penyu dan memberlakukan sistem penangkaran.
Kesadaran masyarakat setempat terhadap kelestarian Penyu Hijau sudah mulai tumbuh dan di tanamkan dalam aktivitas sehari-hari dengan tidak memburu telur dan induk Penyu Hijau. Hal itu tidak terlepas dari upaya PEMDA setempat dalam mengajak masyarakat untuk peduli terhadap Penyu Hijau dengan memberikan lahan kerja, penyuluhan dan pendidikan.
Adanya penambangan pasir besi yang berijin memang menjadi dilema. Selain pemda mendapatkan dana dari pajak yang dikenainya, tapi dengan kebijakan tersebut juga dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Perlu diadakan formulasi yang menyeimbangkan antara pemanfaatan SDA dengan kelestarian alam itu sendiri.
Oleh karena itu untuk mensukseskan pelestarian Penyu Hijau di Pantai Selatan Tasikmalaya perlu adanya kerja sama yang sinergis antara pemerintah, masyarakat, dan instansi yang terkait sehingga semua pihak dapat ikut merasa memiliki dan tanggung jawab. Permasalah atau kendala akan terselesaikan apabila semua pihak dapat bijak dalam menyikapi suatu masalah dan mementingkan kepentingan bersama dan tentu saja itu di dasarkan terhadap kepedulian kelestarian Penyu Hijau, sehingga Penyu Hijau yang ada di Pantai Selatan Tasikmalaya tetap lestari dan diharapkan populasinya akan meningkat pada tahun yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA

Alami. 2004. Penyu ???… tak kenal maka tak sayang.Jakarta

Damardono Haryo. 2003. http://www.pikiran rakyat.com/cetak/0103/03/0411.htm

Lia Yulisma. 2004. PENYU DI PANTAI SELATAN TASIKMALAYA. Makalah; Tidak di terbitkan

Victoria Ngantung. … BIO-EKOLOGI PENYU . Tidak di terbitkan

Yayasan Apel. 2004. SELAMATKAN PENYU DAN HABITATNYA DI PANTAI SELATAN TASIKMALAYA. Tasikmalaya: Yayasan Apel








Tidak ada komentar:

Posting Komentar