Selasa, 07 Juli 2015

Reviuw Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan

Tugas Individu  Reviuw Jurnal
Mata Kuliah Ilmu dan Teknologi Kelautan


Pengaruh Ekstrak Antifouling Bakteri Karang Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 terhadap Penempelan Barnakel
 di Perairan Pantai Teluk Awur



Oleh
AHMADRYADI
1410246019





Image3
 




















PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015



Pengaruh Ekstrak Antifouling Bakteri Karang Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 terhadap Penempelan Barnakel di Perairan Pantai Teluk Awur

Abstrak
Biofouling sebagai hasil dari proses penempelan organisme fouling pada berbagai struktur di lingkungan laut telah menimbulkan banyak kerugian bagi pelaku industri kelautan. Aplikasi cat pelindung antifoulant komersial yang komponen utamanya adalah logam berat seperti, TBT(tri-n-butyl tin), tembaga, telah berkembang menjadi masalah baru sehingga memerlukan cat pelindung yang ramah lingkungan.. Bakteri yang berasosiasi dengan organisme di lingkungan laut diketahui menghasilkan metabolit sekunder sebagai sumber senyawa alternatif antifoulant.
 Bakteri Pelagiobacter variabilis UPS3.37 digunakan sebagai bahan ekstrak kasar yang diformulasikan dengan cat untuk uji mikrofouling dan makrofouling di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar P. variabilis UPS3.37 mempunyai aktifitas antifouling terhadap bakteri fouling. Pada uji makrofouling menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat mampu menurunkan jumlah penempelan barnakel. Terlihat adanya pola semakin tinggi konsentrasi ekstrak kasar semakin meningkatkan aktivitas antifouling. Berdasarkan karakter fenotip tersebut, bakteri P. variabilis UPS3.37 dapat digunakan sebagai organisme probiotik untuk antifouling di dalam menghilangkan penempelan bakteri pada biofilm



Pendahuluan
Biofouling meruapakan proses penempelan organisme fouling pada berbagai struktur di lingkungan laut (kapal, dermaga, pancang maupun penyangga pengeboran lepas pantai). Hal ini tentu  menjadi suatu permasalahan besar bagi pelaku industri kelautan,sehingga mereka menggunakan  aplikasi cat pelindung antifoulant. Pemanfaatan antifoulant komersial tersebut makin meluas seiring dengan perkembangan industri kelautan, yang secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan kandungan bahan pencemar logam berat di lingkungan laut.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan laut, maka penerapan logam berat sebagai cat pelindung dipandang dapat menyebabkan suatu pencemaran logam berat di lingkungan laut. Hal ini terjadi karena logam berat sebagai komponen utama senyawa antifoulant akan terlarut ke dalam perairan laut seiring dengan waktu penggunaan dari cat pelindung tersebut. Metabolit sekunder yang disintesis oleh bakteri laut yang merupakan produk hayati laut (marine natural products) merupakan alternatif bagi sumber senyawa antifoulant baru yang bersifat tidak toksik bagi lingkungan laut. Egan et al. (2001a) melaporkan bahwa bakteri laut Pseudoalteromonas tunicata dan Pseudoalteromonas ulvae (Egan et al., 2001b) mensintesis senyawa antifoulant.
 Pencarian alternatif bagi aplikasi senyawa antifoulant yang berbasis logam berat sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Penanganan biofouling di lingkungan laut serta pemanfaatan senyawa antifoulant yang ramah lingkungan telah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani secara multidisiplin dan serius. Penelitian ini melaporkan uji lapangan (field experiment) ekstrak kasar dari bakteri karang Pelagiobacter variabilis UPS3.37 terhadap penempelan teritip/barnakel di perairan Teluk Awur, Jepara.




Materi dan Metode
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – Mei 2006 di perairan pantai Teluk Awur, Jepara dengan menggunakan Bakteri karang P. variabilis UPS3.37 yang diisolasi dari karang lunak Sarcophyton sp. Bakteri ini dikultur dalam 8 tabung biakan yang masing-masing berisi 25 ml media Zobell cair,kemudian dishaker selama 48 jam. Kemudian masing-masing kultur dipindahkan ke dalam 475 ml media Zobell 2216E sehingga didapat 500 ml kultur massal bakteri, kemudian dishaker lagi  selama 120 jam.
Kultur massal tadi kemudian dipanen dan disentrifuge (2500 rpm) selama 1 jam. Supernatan yang didapat kemudian diekstraksi dalam seporatory funel dengan pelarut metanol, dengan perbandingan supernatan dan pelarut (1 : 1).
Fraksi metanol kemudian diambil dan dikisatkan dengan rotavapour pada suhu 60 0C. Ekstrak kasar (pasta) yang didapat kemudian ditimbang beratnya. Uji microfouling ekstrak kasar Tes uji hambatan pertumbuhan dilakukan antara isolat P.
Metoda yang digunakan dalamuji ini adalah metoda overlay, Isolat P. variabilis UPS3.37 diinokulasikan ke permukaan medium agar Zobell 2216E. Petri tersebut akan diinkubasikan selama 2 hari pada suhu ruangan. Satu persen kultur (v/v) dari setiap target bakteri pembentuk biofilm pada fase logaritma (ca. 109 sel ml-1) akan dicampur dengan soft agar yang kemudian akan dituangkan pada agar media yang sebelumnya telah diinokulasi isolat P. variabilis UPS3.37. kemudian petri akan diinkubasikan pada suhu ruang selama 48 jam. Aktivitas antifouling akan ditentukan oleha adanya pembentukan zona hambatan di sekeliling isolat P. variabilis UPS3.37.
Uji lapangan dilakukan dengan mencampur cat dan senyawa aktif dari ekstrak kasar bakteri asosiasi untuk mengetahui kemampuan senyawa aktif dalam melindungi struktur dari penempelan organismo fouling.
Pengujian dilakukan pada 5 balok kayu berukuran 7 x 14 cm  dan masing-masing diberi tali pengikat. Larutan ekstak kasar dan cat dicampur dengan perbandingan (25:75; 50:50; 75:25; 10: 0). Selanjutnya larutan campuran tersebut digunakans untuk mengecat panel kayu yang tersedia,  satu balok tanpa penambahan ekstrak aktif karna digunakan sebagai kontrol. Setelah dikeringkan selama 3 hari, kayu tersebut diikatkan dengan tali plastik dan dipasang pada tiang penyangga dermaga di laut. Balok kayu tersebut ditempatkan 50 cm dibawah permukaan laut pada surut terendah selama 35 hari. Kemudian dihitung jumlah barnakel yang menempel.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pengamatan, terlihat adanya pembentukan zona hambatan pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm. Hal ini menunjukkan adanya aktivitas antifouling dari ekstrak kasar bakteri tersebut yang dapat dilanjutkan pada uji macrofouling di lapang. Langkah pertama di dalam pengembangan biofilm adalah adsorpsi makromolekul organik untuk membuat kondisi yang memungkinkan pembentukan film/lapisan. Kondisi tersebut kemudian diikuti oleh penempelan bakteri dan organisme sel tunggal lainnya. Dikatakan bahwa penghambatan pembentukan biofilm secara efektif pada langkah awal ini adalah kurangnya kondisi karakterisitik permukaan struktur yang diperlukan larva barnakel untuk menempel (Satuito et al., 1997; Wieczorek and Todd,1997).
Oleh karena itu, pengembangan suatu cat dengan aktivitas antibakteri mungkin dapat mengganggu tahap awal pengembangan biofilm, dan menyediakan suatu pelapisan antifouling yang efektif untuk perlindungan struktur di laut. Hasil uji macrofouling penempelan barnakel.
tersebut terlihat bahwa ekstrak kasar bakteri P. variabilis UPS3.37 menunjukkan aktivitas antifouling pada perlakuan pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat dengan terjadinya pengurangan jumlah penempelan barnakel. Hasil ini berbeda dengan laporan hasil penelitian terdahulu yang melaporkan bahwa aktifitas antifouling kebanyakan hanya berasal dari genus Bacillus dan Pseudomonas. Hasil tersebut diduga hanya Jumlah barnakel pada berbagai konsentrasi ekstrak kasar (Keterangan: K0 : kontrol; K1: 25% ekstrak:75% cat; K2: 50% ekstrak:50% cat; K3: 75% ekstrak: 25% cat; K4: 100% ekstrak) 0 100 200 300 400 500 K0 K1 K2 K3 K4 Konsentrasi Ekstrak : Cat (%) Jumlah Barnakel.
merupakan refleksi metode kultur yang digunakan daripada indikasi keragaman spesies pada permukaan film (Burgess et al., 2003). Meskipun pada konsentrasi ekstrak lainnya tidak menunjukkan adanya aktivitas antifouling, namun pada pengamatan tersebut terlihat adanya trend/pola penurunan jumlah organisme penempel pada kayu dengan semakin meningkatnya jumlah pemberian ekstrak kasar. Diduga perbedaan respon yang diberikan pada setiap perlakuan terhadap jumlah penempelan barnakel karena adanya perbedaan kuantitas dan laju pelepasan senyawa aktif antifouling dari ekstrak. Burgess et al. (2003) menyatakan bahwa pada saat ekstrak diberikan bersama-sama dengan cat akan memberikan laju pembebasan senyawa aktif ke permukaan cat dengan kecepatan yang berbeda dan memiliki perbedaan aktivitas terhadap cakupan target organisme.
Holmstrom dan Kjelleberg (1999) mempelajari secara detail tentang aktivitas antifouling pada bakteri P. tunicata yang diisolasi dari tunicata Ciona intestinalis menghasilkan 5 jenis senyawa ekstraselular yang dapat menghambat penempelan atau perkembangan spesies yang mengkolonisasi permukaan. Senyawa yang belum diidentifikasi ini menghambat penempelan hewan avertebrata, spora alga, pertumbuhan bakteri dan jamur serta diatome. Uji di lapangan biasanya memberikan hasil yang kurang signifikan yang diduga kejadian ini disebabkan oleh terlalu cepatnya senyawa aktif terlepas dari cat (leached), sehinggga aktivitas antifouling dari ekstrak hilang dalam waktu yang singkat. (Matsumura et al., 2000).

Kesimpulan
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar antifouling bakteri P. variabilis UPS3.37 dapat menurunkan jumlah penempelan barnakel. Aktivitas antifouling terjadi pada pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat dan diharapkan fenotip ini dapat digunakan sebagai probiotik untuk seyawa baru antifouling di dalam mencegah penempelan bakteri pembentuk biofilm.

Koreksi Junral
Kekurangan :
1.       Dalam penelitian ini tidak ada diangkat tentang tentang objek yang bergerak dan jenis unsur objek yang diteliti
2.       Tidak dijelaskan tentang pengaruh parameter air lainnya terhadap proses biofouling
3.       Dalam penelitian ini tidak ada dijelaskan tentang biomelekuler bakteri Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 sehingga bisa diketahui sebab bakteri ini mampu melawan atau menghambat proses pertumuhan organisme fouling
Kelebihan :
1.       Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang cukup lama dan pada objek yang secara terus menerus terendam air, sehingga mewakili objek laut yang sebenarnya
2.       Penelitian ini berhasil menjelaskan tentang kemampuan bakteri pelagiobacter variabilis dalam mengrurangi penempelan bernakel
3.       Penelitian ini mengangkat problema industri kelautan , sangat bermanfaat dalam kemajuan industri yang notabene akan merusak lingkungan dengan pencemaran jika tetap menggunak cat dengan kandungan logam tinggi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar