Makalah
MANAJEMEN
PRODUKSI AKUAKULTUR
Strategi Pemberian Pakan
Oleh
AHMADRYADI
1410246019
![]() |
PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
KATA
PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
dengan waktu yang telah ditentukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Makalah
ini berjudul Manajemen Produksi Akuakultur dan
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah AnalisaDaerah Penangkapan Ikan di
Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka
tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut
berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis
menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu
penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi
kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita
semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima
kasih.
Penulis
PENDAHULUAN
Ikan merupakan bahan
pangan yang banyak digemari, karenamemiliki kandungan yang kaya
akanvitamin A, vitamin D, fosfor, magnesium, selenium, yodium, serta kalsium.
Secara mendasar ikan memiliki protein hewani yang sama dengan daging sapi,
namun kelebihan ikan adalah memiliki kandungan total lemak yang paling rendah
dibandingkan sumber protein hewani lainnya dan nutrisinya sangat mudah diserap
tubuh. Besarnya kandungan gizi ikan, harga ikan yang relative murah dan semua
agama menghalalkan konsumsi ikan menyebabkan tingginya permintaan akan ikan.
Kebutuhan ikan sebagai sumber protein meningkat pesat, ditengah semakin
langkanya ikan tangkapan dari laut, budidaya ikan air tawar menjadi pilihan
untuk memenuhi permintaan pasar.
Pakan yang baik pada
ikan dalam sistem produksi adalah hal yang penting untuk memproduksi ikan
yang sehat dan berkualitas tinggi. Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya
intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien
secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap
lingkungan. Pemilihan pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya
perikanan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan usaha. Berdasarkan beberapa
keadaan dan permasalahan tersebut perlu dilakukan penulisan ilmiah mengenai
“Peran Pakan dalam Keberhasilan Budidaya Ikan Air Tawar” dalam rangka turut
memberikan masukan kepada pihak terkait.
Menurut Darmanto
(2000), Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva atau benih ikan dan udang.
Beberapa jenis pakan alami yang sesuai untuk benih ikan air tawar, antara lain
lnfusoria (Paramaecium sp.), Rotifera (Brachionus sp.), Kladosera (Moina sp.),
dan Daphnia sp. Pakan alami tersebut mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan
mudah dicerna dalam usus benih ikan. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil sangat
sesuai dengan lebar bukaan mulut larva/benih ikan. Sifatnya yang selalu bergerak
aktif akan merangsang benih/larva ikan untuk memangsanya. Pakan alami ini dapat
diibaratkan "air susu ibu" bagi larva/benih ikan yang dapat
memberikan gizi secara lengkap sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan
perkembangannya.
Pelet adalah bentuk
makanan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang kita ramu dan kita
jadikan adonan, kemudian kita cetak sehingga bentuknya merupakan batangan
kecil-kecil seperti bentuk obat nyamuk bakar. Panjangnya biasanya berkisar 1-2
cm. Jadi pelet tidak berupa tepung, tidak berupa butiran, dan juga tidak berupa
larutan (Mudjiman, 1996). Menurut Syahputra (2009) usaha budidaya ikan saat ini
semakin intensif menuntut tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup, tepat
waktu, dan berkesinambungan.
Ketersediaan pakan yang
memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan
budidaya ikan. Pakan berkualitas harus memiliki kandungan nutrisi ikan dan
mudah dicerna, sehingga dapat diserap oleh tubuh ikan (Khairuman dan Amri,
2002). Konversi dan efisiensi pakan erat hubungannya dengan nilai kecernaan
yang menggambarkan persentase nutrien yang dapat diserap oleh saluran
pencernaan tubuh ikan. Semakin besar nilai kecernaan suatu pakan maka semakin
banyak nutrien pakan yang dimanfaatkan oleh ikan tersebut.
Penyerapan nutrien oleh
tubuh dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas pakan dan jumlah pakan
yang dikonsumsi. Nutrien yang dimanfaatkan oleh ikan dapat mempengaruhi
penyediaan energi protein dan non protein dalam tubuh. Semakin banyak energi
yang tersedia dalam tubuh akan meningkatkan kemampuan ikan untuk mengubah
energi tersebut dan disimpan dalam bentuk daging berupa protein dan lemak
(Akbar, 2000).
PEMBAHASAN
Pakan
Yang Baik Untuk Ikan
Di dalam budidaya ikan,
formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang
dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam lemak
esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan
tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Akan
tetapi, perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk digambarkan dikarenakan
banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan setelah
penyerapan di dalam pencernaan ikan Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan
baku pakan (feedstuffs) yang bermutu yang dapat berasal dari berbagai sumber
dan sering kali digunakan karena sudah tidak lagi dikonsumsi oleh manusia.
Pemilihan bahan baku
tersebut tergantung pada kandungan bahan gizinya; kecernaannya (digestibility)
dan daya serap (bioavailability) ikan; tidak mengandung anti nutrisi dan zat
racun; tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah. Umumnya bahan baku
berasal dari material tumbuhan dan hewan. Ada juga beberapa yang berasal dari produk
samping atau limbah industri pertanian atau peternakan. Bahan-bahan tersebut
bisa berasal dari lokasi pembudidaya atau didatangkan dari luar.
Pakan
Yang Tidak Baik Untuk Ikan
Untuk memproduksi pakan
yang berkualitas diperlukan bahan baku pakan yang juga berkualitas. Bahan-bahan
baku tersebut perlu dilindungi selama proses ataupun selama penyimpanan.
Beberapa bahan baku juga mengandung zat anti nutrisi yang dapat menghambat
pemanfaatan gizi (seperti protein) oleh ikan atau udang. Sebagai contoh: jenis kacang-kacangan
yang mengandung zat penghambat tripsin dan kimortripsin (asam amino) sehingga
enzim yang ada didalam ikan tidak dapat menyerap protein. Oleh karena itu,
beberapa bahan baku perlu dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu sebelum
dimasukkan ke dalam formulasi pakan. sebagian zat anti nutrisi ada yang mudah
dihilangkan cukup dengan pemanasan, tetapi ada juga yang sulit dihilangkan
dengan pemanasan.
Dalam menyiapkan pakan,
sasaran utama bukan hanya mencampur bahan-bahan baku tetapi melindungi
bahan-bahan baku tersebut selama proses. Seringkali, sebelum bahan-bahan
tersebut digunakan, bahan tersebut harus diproses untuk menghilangkan zat-zat
yang dapat menghambat pemanfaatan bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Proses
tersebut bertujuan agar gizi pakan lebih efektif dimanfaatkan oleh ikan.
Penyimpanan pakan juga harus diperhatikan seperti proses penyiapan dan
pengolahan, karena mempengaruhi umur simpan dari pakan tersebut. Zat anti
nutrisi pada beberapa bahan baku dan cara menghilangkan atau menghambatnya :
1. Inhibitor tripsin :
Berikatan dengan tripsin sehingga tripsin tidak aktif
2. Kedelai dan
kacang-kacangan : Pemanasan pada suhu 175-1950C atau pemasakan selama 10 menit
3. Lektin : Merusak sel darah
merah
4. Kedelai dan kacang-kacangan :
di diidihkan dalam air atau autoclave selama 30 menit.
5. Goitrogen : Menghambat pemasukan
iodin oleh kelenjar tiroid
6. Kedelai dan kacang-kacangan : Kukus
atau autoclave selama 30 menit
7. Anti vitamin D : Berikatan dengan
Vitamin D dan menjadikan tidak berfungsi
8. Anti vitamin E : Berkontribusi
terhadap defisiensi Vitamin E
9. Thiaminase : Berpengaruh terhadap
kerusakan thiamin (Vitamin B1)
10. Ikan rusak, kijing dan kedelai :
Autoclave, pemanasan dan pemasakan zat yang tahan terhadap pemanasan
11. Estrogen (isoflavon) : Mengganggu
terhadap kinerja reproduksi
12. Tanaman glikosida : Ekstraksi
pelarut
13. Gossipol : Berikatan dengan fosfor
dan beberapa protein
14. Tepung biji kapas : Penambahan garam
besi dan fitase
15. Tannin : Berikatan protein menghambat
pencernaan tripsin digestion
16. Sianogen : Melepaskan racun asam
hidrosianik
17. Daun singkong : Perendaman dalam air
selama 12 jam
18. Mimosin : Menggangu sintesis enzim
dalam hati; merusak sell hepatopankreas pada udang
19. Daun Ipil-ipil : Perendaman dalam
air selama 24 jam
20. Peroksida : Berikatan dengan
proteins dan vitamin
21. Phytates : Berikatan dengan protein
dan mineral dan menurunkan daya serapnya
22. Tepung jagung, kulit sereal, dan
kacang-kacangan : Dikuliti (dibuang kulitnya).
Perhitungan
Cara Pemberian Pakan Dalam Satu Kolam
Tujuan
pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi
untuk kesehatan yang baik, pertumbuhan dan hasil panenan yang optimum, produksi
limbah yang minimum dengan biaya yang masuk akal demi keuntungan yang
maksimum. Pakan yang berkualitas kegizian dan fisik merupakan kunci
untuk mencapai tujuan-tujuan produksi dan ekonomis budidaya ikan.
Pengetahuan tentang gizi ikan dan pakan ikan berperan
penting di dalam mendukung pengembangan budidayaikan (aquaculture) dalam
mencapai tujuan tersebut. Konversi yang efisien dalam memberi
makan ikansangat penting bagi
pembudidaya ikan sebab pakan merupakan komponen yang cukup
besar dari total biaya produksi. Bagi pembudidaya ikan, pengetahuan tentang
gizi bahan baku dan pakan merupakan sesuatu yang sangat kritis sebab pakan
menghabiskan biaya 40-50% dari biaya produksi.
Dalam praktiknya, baik
pakan alami maupun pakan buatan diberikan kepada ikan dengan dosis 3-5 % dari
bobot ikan perhari. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi,
siang dan sore hari atau malam hari. Namun demikian, ada juga ahli yang
menyarankan bahwa pemberian pakan ikan tidak selalu tergantung pada waktu-waktu
tersebut tetapi dilakukan kapan saja selagi ikan masih mau makan. Dengan
demikian, jumlah pakan yang diberikan bisa saja lebih dari 3-5 %. Hal ini dapat
dilakukan dengan syarat pakan yang diberikan dimanfaatkan secara optimal oleh
ikan.
Misal pemberian pakan
sebesar 4 % per hari dari jumlah bobot ikan yang dipelihara pada satu
kolam. Jumlah ikan dalam kolan 500 ekor dengan berat per ekor ikan 100 gram.
Maka jumlah pakan yang diberikan untuk satu hari adalah:
500 ekor x 100 gram x 4 % = 2000 gram
atau 2 kg
Jadi jumlah pakan yang diberikan
sebanyak 2 kg/hari.
Kelebihan
Pakan Alami dan Pakan Buatan
Kelebihan yang dimiliki
oleh pakan alami dibandingkan dengan buatan, antara lain adalah: (a) Harga
pakan alami relative lebih murah jika dibandingkan pakan buatan; (b) Pakan
alami umumnya mudah dicerna, nilai gizi pakan alami lebih lengkap, sesuai
dengan tubuh ikan, dan tidak menyebabkan penurunan kualitas air pada wadah
budidaya ikan; dan (c) Tingkat pencemaran terhadap air kultur akan lebih rendah
daripada menggunakan pakan buatan.
Sedangkan kelebihan
yang dimiliki oleh pakan buatan dibandingkan dengan pakan alami, antara lain
adalah: (a) Kelebihan pakan buatan adalah mengurangi kemungkinan penularan
penyakit (dibandingkan dengan makanan alami). Pakan alami adalah
organisme hidup yang tentunya dapat terserang oleh penyakit pada media
hidupnya. Penyekit yang menyerang pakan alami dapat berpindah pada ikan yang
kita budidayakan, setelah pakan alami dimakan oleh ikan; (b) Pengelolaan
kualitas, kuantitas dan kuntinuitas pakan buatan jauh lebih mudah
dibandingkan pakan alami. Pakan buatan tidak memerlukan pemeliharaan, pakan
buatan yang diproduksi oleh pabrik dapat dibeli ketika diperlukan sehingga
pekerjaan pembudidayaan lebih ringan, waktu yang diperlukan lebih sedikit dan
hemat tenaga kerja.
Pemilihan
Pakan Ikan yang Tepat
Beberapa syarat-syarat yang harus
dipenuhi dalam pemilihan pakan ikan yang tepat, antara lain berupa:
1.
Mutu pakan yang tinggi, dilihat dari:
a). Formula pakan ikan
yang dipilih harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, dilihat
dari kandungan nutrisi makanan yang menyangkut: protein, lemak,
karbohidrat, vitamin, dan mineral. Kandungan gizi pakan terutama protein
harus sesuai dengan kebutuhan ikan.
b). Bahan formulasi
pakan sesuai dengan jenis makanan dan panjangnya usus ikan yang dibudidayakan.
Pemilihan jenis pakan yang sesuai dengan karakteristik jenis makanan dan
panjangnya usus ikan akan meningkatkan ratio konversi makanan ikan menjadi
daging ikan.
c). Tidak mengandung
antibiotik dan zat racun.
d). Memperhatikan batas
kadaluarsa pakan.
2. Bentuk
dan karakteristik pakan sesuai kebutuhan, dilihat dari:
a). Ukuran pakan
dipilih sesuai dengan umur dan bukaan mulut ikan.
b). Memiliki aroma yang disukai ikan
yang dibudidayakan.
c).
Kestabilan pakan dan ketahanan pakan dalam air sesuai dengan kebiasaan
makan ikan.
3. Secara ekonomis menguntungkan, dilihat dari:
a). Mudah
diperoleh (kuntinuitas dan kemudahan transportasi).
b). Harganya relatif murah jika dibandingkan harga
ikan yang dibudidayakan, dengan ratioharga pakan maksimal 70% dari harga ikan.
KESIMPULAN
Pakan merupakan faktor
yang sangat menentukan keberhasilan budidaya karena ketersediaan pakan yang
memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan
pada ikan dalam sistem produksi, berupa: ikan yang sehat, tumbuh optimal dan
berkualitas tinggi. Dismping itu, Pakan juga merupakan faktor penting karena
mewakili 40-75% dari biaya produksi, sehingga strategi yang baik apat menekan
biaya produksi dalam kegiatan dalam
budidaya ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar,
A. D. 2002. Pengaruh Penggantian Tepung Terigu dengan Tepung Singkong terhadap
Efisiensi Pakan dan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Skripsi.
IPB. Bogor. 43 hal.
Darmanto
dkk, 2000. Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar. Jakarta, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian - Instalasi Penelitian dan Pengkajian
Teknologi Pertanian. di download dari http://defishery.files.wordpress.com/2009/11/budidaya-pakan-alami-untuk-benih-air-tawar.pdf.
Effendi
I., dkk. 2012. Materi Pokok Budidaya Perikanan; 1- 9; MMPI5201/3sks Cetakan
ketiga Edisi 1. Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka.
Khairuman dan Amri,
2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. PT. Agro Media Pustaka, Depok.
Lukman
dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal
Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 –
135.
Syahputra,
A., 2009. Rancang Bangun Alat Pembuat Pakan Ikan Mas dan Ikan Lele Bentuk
Pelet. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar