Selasa, 07 Juli 2015

Penggunaan Alga Dalam Industri Bioteknologi (Biofuel)

Makalah

ILMU TEKNOLOGI KELAUTAN
Penggunakan Alga Dalam
Industri Bioteknologi (Biofuel)

  

Oleh

AHMADRYADI
1410246019





 













PASCASARJANA ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015








KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan  judul “Penggunaan Alga Dalam Industri Bioteknologi Biofuel” dan disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Teknologi Kelautan di Pasca Sarjana Ilmu Keluatan Universitas Riau.
Dengan tersusunnya makalah ini maka tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi untuk membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan dan penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bagi penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah. Terima kasih.







Pekanbaru, 4 Juli  2015


Penulis




PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
            Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km. Didalam lautan terdapat bermacam-macam mahluk hidup baik berupa tumbuhan air maupun hewan air. Salah satu mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang di laut adalah alga. Ditinjau secara biologi, alga merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni. Didalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida, hormon, vitamin, mineral dan juga senyawa bioaktif.
Bahan bakar fosil saat ini mulai mengalami krisis karena termasuk energi yang tidak dapat terbarukan, tetapi terus digunakan menjadi bahan bakar transportasi dan alat kehidupan sehari-hari lainnya sehingga terkikis dalam jumlah yang besar dan untuk menanggulangi kehilangan sumber bahan bakar maka dilakukan penelitian sumber bahan bakar lainnya yang dapat menjadi alternatif bahan bakar fosil. Alga adalah salah satu energi terbarukan yang dapat dijadikan alternative biofuel dan akan dibahas didalam makalah ini lebih lanjut tentang alga sebagai sumber bahan bakar.

2. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan tentang peranan bioteknologi dalam kehidupan, terutama dalam bidang industri biofuel alga.









PEMBAHASAN

A.  Definisi Bioteknologi Industri
          Bioteknologi Industri adalah seperangkat teknologi yang datang dengan mengadaptasi dan memodifikasi organisme biologis, proses, produk, dan sistem yang ditemukan di alam untuk tujuan memproduksi barang dan jasa (Australian government, 2012).  Bioteknologi industri dapat digunakan untuk:
  1. Menciptakan produk baru
  2. Modifikasi dan mengembangkan proses industri baru
  3. Membuat industri manufaktur yang lebih kompetitif
  4. Mengurangi dampak lingkungan dari manufaktur
Bioteknologi telah dikaitkan dengan sektor medis dan farmasi sektor. Namun, telah menunjukkan bahwa penerapan bioteknologi untuk sektor manufaktur seperti kimia dan plastik, tekstil dan kulit, dan sektor pengelolaan limbah berbahaya, bisa memberikan keuntungan produktivitas dan proses yang lebih efisien dan lebih cepat aksesnya ke konsumen.
          Sejumlah bioteknologi memiliki potensial industri yang signifikan. Sebagai contoh:
Biokatalisi : Menggunakan biologis berasal dari enzim untuk menggantikan bahan kimia industri katalis. Bioproses, Mengganti proses konvensional kimia dengan proses biologi. Aplikasi ini adalah sebagai sintesis organik obat obatan dan mikroba desulfurisasi bahan bakar diesel.
Bahan dan proses: Memproduksi bahan melalui penggunaan bahan baku nonpetroluem terbarukan dan bioproses baru seperti menggunakan jagung-pati untuk menghasilkan biodegradasi plastik.
          Istilah “alga” meliputi berbagai organisme ditemukan dekat badan air di seluruh dunia. Spesies alga diperkirakan berjumlah mencapai puluhan ribu. Meskipun kebanyakan alga fotosintesis atau autotrof, beberapa heterotrofik, energi berasal dari penyerapan karbon organik seperti bahan selulosa. Karena alga secara alami mampu mereplikasi cepat dan menghasilkan minyak, protein, alkohol, dan biomassa, mereka telah menarik perhatian para peneliti dan produsen industri mencari alternatif untuk minyak.
          Makroalga digunakan di beberapa negara sebagai bahan makanan dan fertilizer, dan juga menyediakan berbagai keuntungan untuk lingkungan,termasuk habitat hewan aquatik. Mikroalga sering diklasifikasi menurut warna, yaitu hijau, kuning- hijau, keemasan, merah dan coklat. Diatom, dinoflagellata termasuk alga biru-hijau, atau Cyanobacteria yang mana mikroorganismenya berhubungan dengan eukariotik alga-mikroalga. Jenis alga yang dapat memproduksi        biofuel adalah Botryococcus, Brauni, Chorella, Dunaliellateriolecta, Gracilaria, Pluerochrysis certerae dan Sargassum.
            Alga berkembang pada karbon organik atau CO2 dan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor. Ketersediaan sinar matahari, karbon dan nutrisi mempengaruhi pertumbuhan metabolisme alga dan apakah mereka menghasilkan lipid atau karbohidrat. Namun, manipulasi nutrisi belum terbukti berhasil meningkatkan produktivitas alga. Para peneliti, misalnya, telah menemukan bahwa ketika alga alami menghasilkan hidrokarbon (molekul yang dapat menggantikan minyak bumi saat ini) pertumbuhan dan reproduksinya terbatas.
          Tujuan penelitian bioteknologi termasuk menemukan cara untuk meningkatkan tingkat reproduksi, meningkatkan metabolisme masukan, dan meningkatkan produksi minyak yang diinginkan, bahan bakar kelas alkohol, atau protein pada spesies yang berguna. Para peneliti telah menemukan bahwa spesies alga banyak beradaptasi dengan rekayasa genetika, mengekspresikan protein kompleks dan mengumpulkan protein rekombinan ke tingkat yang sangat tinggi.
          Bioteknologi sudah digunakan dalam sequencing genom spesies alga. Genomic Data membantu peneliti dalam memahami proses metabolisme di mana alga mengkonversi karbon dan nutrisi ke lipid atau karbohidrat. Pemahaman yang lebih besar dari metabolisme alga dan reaksi terhadap kondisi pertumbuhan akan menginformasikan penelitian lebih lanjut. Teknik rekayasa genetika saat ini digunakan dalam bioteknologi tanaman dan mikroba, termasuk biologi sintetik dan rekayasa metabolik, kemudian digunakan untuk memungkinkan alga untuk lebih diduga memproduksi lipid yang diinginkan untuk menghasilkan biofuel, alkohol, protein, enzim dan molekul lainnya, atau karbohidrat yang kaya biomassa untuk bioproses.
          Penelitian bioteknologi penting, tidak hanya dalam tahap awal pengembangan biofuel alga, tetapi juga dalam mengoptimalkan strain alga untuk rekayasa mekanik dan pengolahan kebutuhan produksi biofuel. Strain alga yang digunakan dalam proses industri harus sesuai panen dan persyaratan molekul pemulihan (seperti panas tinggi dan tekanan yang digunakan dalam pemisahan mekanik) yang mungkin tidak alami sifat.

B.   Pengembangan Komersial
            Perusahaan biofuel sedang mencari untuk skala produksi komersial dari alga dan mengejar beberapa teknik pendekatan (dengan menggunakan sistem tertutup dan sistem kolam terbuka) untuk desain sistem ekonomis untuk alga yang tumbuh. Dalam sistem tertutup, kondisi pertumbuhan alga dapat diatur. Sistem tertutup mencakup fotobioreaktor untuk strain alga fotosintetik dan tradisional bioreaktor (tangki tertutup seperti yang digunakan dalam fermentasi dan mikroba lainnya pertumbuhan) untuk strain alga yang memakan gula.
Sistem kolam terbuka telah digunakan di banyak rangkaian, tapi bisa peka terhadap berbagai faktor lingkungan, seperti invasi oleh strain alga lain atau variasi nutrisi ketersediaan, panas dan cahaya. Karena mikroalga dapat tersebar oleh angin atau fauna, sistem kolam terbuka dapat memperkenalkan strain alga terhadap lingkungan sekitarnya. Kemungkinan penyebaran dengan metode ini adalah setara untuk strain alam dan biotek. Potensi dampak lingkungan pada lingkungan sekitarnya (termasuk tanaman) juga setara untuk alam dan strain alga biotek. Tambak sistem tertutup oleh film plastik tipis dan kombinasi tertutup atau sistem terbuka sedang dikembangkan untuk mengendalikan faktor-faktor. Salah satu faktor penting untuk komersialisasi adalah pengembangan sistem pemanenan ekonomis dan daur ulang biomassa sisa setelah biofuel diekstrak.

C.  Biofuels (Potensi Alga)
            Biofuel adalah bahan bakar atau sumber energi yang berasal dari bahan organik yang dibuat dari tumbuhan maupun hewan. Biofuel mempunyai sifat dapat diperbaharui, artinya bahan bakar ini dapat dibuat oleh manusia dari bahan-bahan yang bisa ditumbuhkan atau dibiakkan. Salah satunya adalah alga yang dapat menghasilkan lipid dan karbohidrat untuk dijadikan sumber energi seperti bioetanol dan biodiesel (Bachtiar, 2007).
          Kebanyakan alga merupakan organisme bersel tunggal yang tumbuh baik di laut (air asin) atau lingkungan air tawar. Kebanyakan strain fotosintesis dan merupakan tanaman tercepat di dunia berkembang. Seperti tanaman lain, mereka mengkonversi sinar matahari, air, CO2, dan nutrisi lainnya menjadi energi dan biomassa dan melepaskan sejumlah besar oksigen ke atmosfer. Sejumlah strain alga dan organisme laut memperoleh energi dari karbon organik, bukan karbon atmosfer (melalui fotosintesis). Ada lebih dari 65.000 species alga, termasuk varietas yang berbeda seperti merah, hijau, coklat, dan biru-hijau (cyanobacteria).
          Alga penting dalam banyak penggunaan komersial untuk memproduksi suplemen gizi, untuk mengobati limbah, dan sebagai zat pewarna. Salah satu penggunaan yang paling menjanjikan dari alga adalah sebagai bahan baku untuk biofuel terbarukan. Minyak nabati dari alga dapat digunakan secara langsung (minyak sayur lurus yang diester menjadi  biodiesel) atau disempurnakan menjadi berbagai biofuel, termasuk diesel terbarukan dan bahan bakar jet, di samping bahan-bahan kimia lainnya untuk produk seperti kosmetik.
          Karbohidrat (gula) dari alga dapat difermentasi untuk membuat biofuel tambahan, termasuk etanol dan butanol, serta produk-produk lain seperti plastik dan biokimia. Biomassa dari alga dapat digunakan untuk minyak pirolisis atau gabungan panas dan pembangkit listrik. Alga yang secara langsung menggantikan bahan bakar minyak bumi, diesel dan bahan bakar jet tanpa modifikasi mesin. Alga memenuhi semua spesifikasi untuk bahan bakar minyak bumi.
          Bioetanol berkadar 99% sebanyak satu liter, hanya memerlukan 0,67 kg alga. Pemanfaatan alga Spirogyra sp untuk membuat bioetanol karena relatif mudah memperolehnya. Kandungan karbohidrat mencapai 64%, hampir 3 kali lipat karbohidrat singkong, yang rata-ratanya hanya 25%. Alga yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi cocok untuk bioetanol. Minimal mengandung 25% karbohidrat. Sejatinya lemak bisa diolah menjadi biodiesel, tapi kandungannya paling tidak 30%. Spirogyra sp menyimpan karbohidrat sebanyak 33-64% dan 11-21% lemak sehingga cocok sebagai bahan baku bioetanol (Anam, 2010).
          Jenis karbohidrat dalam Spirogyra sp. adalah amilum alias zat tepung. Zat tepung tergolong polimer alam dengan ukuran molekul besar yang tersusun oleh monomer glikosida. Sel tidak mampu memanfaatkan amilum secara langsung untuk itu perlu menambahkan 0,12% enzim alfa-amilase untuk menguraikan ikatan polimer amilum menjadi gula berbentuk glukosa, maltosa, dan dekstrin.
Ketiga bahan itulah yang nantinya menjadi bioetanol. Glukosa dan maltosa adalah sumber energi bagi bakteri penghasil etanol. Bakteri itu mengubah glukosa dan maltosa menjadi etanol dalam kondisi tertutup tanpa udara melalui proses fermentasi sehingga dijuluki bakteri fermentor. Fermentasi tergolong proses biologis yang melibatkan bakteri hidup sehingga etanol yang dihasilkan disebut bioetanol. Produsen sejatinya bisa membuat etanol dengan proses fisika atau hidrasi. Industri alkohol untuk farmasi maupun kosmetik membuat etanol dengan cara itu lantaran prosesnya jauh lebih cepat dan efisien (Anam, 2010).
           Meskipun masih dalam tahap riset yang mendalam, potensi alga laut sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel sangat menjanjikan dimasa mendatang. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Kanada mentargetkan mulai tahun 2025 bahan bakar hayati (biofuel) bisa diproduksi dari budidaya cepat alga mikro yang tumbuh diperairan tawar/asin. Keuntungan lebih yang dapat diperoleh adalah tak butuh traktor seperti didarat, tanpa penyemaian benih, gas CO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan panen yang terus-terusan (continuous) yang dikarenakan waktu tanam alga hanya 1 minggu.
D.  Keuntungan Biofuel
          Alga adalah sumber daya terbarukan untuk biofuel yang dapat ditanam di lahan non-pertanian, menggunakan air asin atau air payau. Sebuah keuntungan yang signifikan dari penggunaan alga untuk biofuel adalah bahwa hal itu tidak perlu menggantikan lahan pertanian yang digunakan untuk sumber makanan tumbuh. Laporan Departemen Energi bahwa alga memiliki potensi untuk menghasilkan energi setidaknya 30 kali lebih dari tanaman darat saat ini digunakan untuk memproduksi biofuel.
          Alga juga efisien mendaur ulang karbon atmosfer. Sementara alga berjumlah kurang dari 2% dari karbon tanaman global, mereka menyerap dan memperbaiki hingga 50% karbon dioksida atmosfer (30.000.000.000-50.000.000.000 metrik ton per tahun), mengubahnya menjadi karbon organik. Melalui fotosintesis, alga memproduksi hingga 50% oksigen global. The Environmental Protection Agency (EPA) memperkirakan bahwa alga berbasis biodiesel dihasilkan melalui metil asam lemak transesterifikasi (satu-satunya jenis biofuel ganggang model sampai saat ini) dapat mengurangi emisi gas rumah kaca lebih dari 60 persen dibandingkan dengan petroleum diesel.

a). Minyak Alga Menggantikan Bahan Bakar Fosil
          Ribuan item di seluruh dunia dibuat dari plastik atau bahan kimia, termasuk yang sangat menguntungkan orang-orang dari pipa yang menyalurkan air ke wadah yang menjaga perawatan makanan segar dan pribadi produk yang meningkatkan kesehatan. Konsumen item yang dibuat lebih banyak tersedia, lebih efisien dan dengan biaya yang lebih rendah melalui penggunaan plastik dan kimia bahan. Tapi plastik dan bahan kimia yang dibuat terutama dari sumber daya fosil, minyak dan gas alami. Volatile harga untuk bahan bakar fosil, ketidakstabilan politik di daerah penghasil minyak bumi, dan dampak lingkungan bahan bakar fosil adalah beberapa alasan utama produsen bahan kimia dan plastik sedang mencari alternatif sumber daya terbarukan.
          Minyak yang diproduksi oleh alga memiliki potensi untuk menggantikan sumber daya fosil dalam banyak produk. Bahkan, menurut penelitian baru-baru ini, banyak dari minyak bumi dan batubara menggunakan spesies alga hijau. Minyak yang dihasilkan oleh strain alga yang berbeda berkisar dalam komposisi. Kebanyakan seperti minyak nabati, meskipun beberapa secara kimiawi mirip dengan hidrokarbon dalam minyak bumi. Secara umum, konsentrasi hidrokarbon yang tinggi hanya ada dalam budaya non-alga tumbuh atau membusuk. Alga juga memproduksi protein, dan isoprenoidnya polisakarida. Beberapa strain gula fermentasi alga untuk menghasilkan alkohol. Kondisi pertumbuhan (seperti cahaya dan suhu), tingkat gizi (nitrogen, garam dan silikon), dan tahap pertumbuhan semua memiliki efek pada jenis alga yang menghasilkan minyak.
          Bioteknologi digunakan untuk memahami dan mencirikan keseimbangan minyak, protein, dan gula yang strain alga menghasilkan berbagai kondisi. Dengan pengetahuan ini, teknik rekayasa metabolik ditargetkan dapat digunakan untuk mengoptimalkan strain alga untuk produksi protein, asam lemak, dan gula yang dapat digunakan sebagai blok bangunan untuk bahan kimia, plastik, dan biofuel. Alga yang diturunkan menjadi pati, minyak dan protein dapat digunakan dalam suplemen makanan, pakan ternak atau nutrisi. Asam lemak dapat digunakan dalam biofuel diesel atau sebagai blok bangunan dalam campuran kimia. Gula alga dapat dikonversi menjadi produk kimia yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Sebagai contoh, alga dapat digunakan untuk membuat etanol, yang pada gilirannya dapat diubah menjadi polietilen.

b). Manfaat lingkungan
          Bahan baku berbasis biologi menawarkan keuntungan lingkungan dan ekonomi utama atas minyak mentah dan gas alam sebagai blok bangunan untuk beberapa produk konsumen. Pertama, alga dapat tumbuh di banyak negara di dunia sebagai pengganti bahan bakar fosil. Alga dapat diproduksi di mana pun ada banyak sinar matahari dan kaya nutrisi air. Tanah yang subur dan volume tinggi air tawar tidak diperlukan. Alga tidak memerlukan area lebih cocok untuk makanan dan produksi pakan. Kedua, bahan baku berbasis bio yang mengganti bahan bakar fosil dalam produksi plastik, misalnya dapat mengurangi konsentrasi atmosfer gas rumah kaca dengan memperbaiki karbon di atmosfer. Alga dan selulosa tanaman menyerap karbon dioksida saat mereka tumbuh. Karbon yang mereka keluarkan dari atmosfer melalui fotosintesis adalah tetap dalam produk sampai mereka didaur ulang atau kompos. Minyak dan gas alam yang sebelumnya digunakan dapat tetap jauh di bawah tanah.



KESIMPULAN

Biofuel mempunyai sifat dapat diperbaharui, artinya bahan bakar ini dapat dibuat oleh manusia dari bahan-bahan yang bisa ditumbuhkan atau dibiakkan. Salah satunya adalah alga yang dapat menghasilkan lipid dan karbohidrat untuk dijadikan sumber energi seperti bioetanol dan biodiesel.
Alga adalah sumber daya terbarukan untuk biofuel yang dapat ditanam di lahan non-pertanian, menggunakan air asin atau air payau. Sebuah keuntungan yang signifikan dari penggunaan alga untuk biofuel adalah bahwa hal itu tidak perlu menggantikan lahan pertanian yang digunakan untuk sumber makanan tumbuh,  alga dapat tumbuh di banyak negara di dunia sebagai pengganti bahan bakar fosil, Alga dapat diproduksi di mana pun ada banyak sinar matahari dan kaya nutrisi air.




DAFTAR PUSTAKA

Anam, K., Farida, H., Sidiq, M.H. dan Susilaningsih, D. 2009 Potensi Mikroalga Laut (Khlorofita) Indonesia Sebagai Penghasil Energi Baru Biofuel Cair (Biodisel). Kegiatan Penelitian Bioteknologi, DIPA PUSLIT Bioteknologi-LIPI, Bogor.

Australian Govement 2012. Nutritional Value of Microalgae for Aquculture. In: Cruz-Suárez, L. E., Ricque-Marie, D., Tapia-Salazar, M., GaxiolaCortés, M. G. Simoes, N. (Eds.). Avances en Nutrición Acuícola VI. Memorias del VI Simposium Internacional de Nutrición Acuícola; 3 al 6 de Septiembre del 2002. Cancún, Quintana Roo, México, 281 –292 p.

Bachtiar. 2007. Biodiesel from Microalgae. Institute of Techonolgy and Engineering, Massey University, Biotechnology Advances 25, 294– 306 p. Erlina, A. 2007. Produksi Pakan Hidup (Pelatihan Benih Udang). Laboratorium Pakan Alami. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau, Jepara.

http://mayangsunyoto.lecture.ub.ac.id/2012/01/potensi-produksi-berkelanjutan-biofuel-dari-alga menggunakan-limbah-cair/  digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree- Pabrik Biodisel dari Minyak Alga Nannochloropsis sp. dengan Proses Transesterifikasi Katalis Basa-16878-2308030009-Chapter1.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar